Your Job is Not Your Career

Your Job is Not Your Career Your Job is Not Your Career buku your job is not your career
No Joy of working. No Passion. No Life. Barometer paling penting dalam karier dan kehidupan ada pada setiap orang. Bahwa pada ujungnya, hanya ada dua pertanyaan penting yang relevan : Apakah saya bahagia ? dan Apakah saya telah berkontribusi bagi keluarga, lingkungan, perusahaan, negara, dunia dan alam semesta? (Rene Suhardono)

Ketika masih ngantor di sebuah perusahaan di bilangan Kuningan beberapa tahun lalu, ada seorang teman yang kalo ketemu hari jumat girangnya setengah mati, berbinar-binar, bersiul-siul kayak orang baru jatuh cinta.Tapi begitu hari minggu malam atau senin pagi, berangkat kantor seperti didera rasa malas luar biasa, tidak jarang mukanya pucat kayak orang sakit. Persis muka orang yang tidak bisa berenang yang dipaksa diceburin ke kolam renang. Barangkali Anda pernah mengalami atau menemui orang semacam ini di sekitar Anda ya. Itulah sebabnya ketika saya bertandang di sebuah toko buku, sesaat pandangan mata saya berhenti di sebuah judul buku bertajuk “Your Job is Not Your Career” besutan Rene Suhardono, hati kecil saya langsung jatuh hati. Sebuah judul buku yang cukup menggelitik. Apalagi membaca sekilas highlight-nya, kayaknya harus dibaca ini buku. Ternyata tebakan saya tidaklah keliru. Kata demi kata yang ditulis…..mencerahkan.

Membaca buku kecil yang di-design unik ini barangkali kita akan diingatkan sekaligus menyentil kita untuk “tidak menyamakan” antara “pekerjaan” yang kita rengkuh dengan “karier” yang kita lakoni. Pekerjaan itu sekedar kendaraan yang membawa kita ke tempat yang kita kehendaki. Pekerjaan itu milik perusahaan. Sedangkan karier itu adalah perjalanan itu sendiri, perwujudan dari totalitas kehidupan professional sejak mata terbuka di pagi hari hingga kembali terlelap di malam hari.

Singkatnya, pekerjaan lebih banyak cerita perihal tujuan perusahaan, pembagian kerja, serta kompensasi. Sedangkan karier lebih memfokuskan untuk mendedahkan urusan passion, tujuan hidup individu, nilai-nilai yang dianut, ketercapaian, serta kebahagian hati. Jadi atribut kerja seperti jenjang karier, gaji tinggi, alokasi kredit dari perusahaan yang didapat memang sah dipandang sebagai alat ukur “sukses”. Masalahnya adalah ketika atribut-atribut tadi beralih fungsi jadi esensi. Jadi kasus yang saya jadikan perupamaan di atas, apakah setiap hari senin didera “Monday fever” walaupun gaji dan jabatan meningkat bisa dikatakan “sukses” kariernya ?

Yang menarik dari pemaparan Rene di buku ini, agar karier yang dilakoni membuahkan hasil yang “maksimal” dalam hidup yang cuman sekali ini dan singkat, Rene menyebut perlunya menemukan passion (gairah) dalam hidup ini. Passion merupakan sesuatu yang sangat-sangat kita cintai ketika melakoninya. Dan perlu dicatat, gak mesti passion itu merupakan hal dimana kita paling mumpuni dalam suatu bidang tertentu, tetapi berkaitan dimana Anda merasa “nyaman” di bidang tersebut. Itu melekat di diri Anda, keunikan yang Anda punyai. Gak perlu dicari kemana-mana.

Masalahnya sekarang, bagaimana menemukan passion Anda, agar karier yang Anda lakoni membuahkan kebahagian dan bisa bermanfaat bagi orang lain? Dalam buku ini, Rene menganalogikan finding love atau memori masa kecil untuk menjawab pertanyaan bagaimana menemukan passion dalam karier kita. Laiknya cinta sejati, ada yang perlu disadari dalam “pencarian” passion dalam hidup Anda :

Believe in yourself and be courageous, miliki keyakinan bahwa keunikan yang kita miliki merupakan sebuah keistimewaan tersendiri.

Passion datang dari hati yang tulus, passion itu tidak perlu dicari namun sudah ada dalam diri kita. Jadi perlu jujur dan terbuka. Lupakan sejenak soal uang, jabatan, atau atribut lain yang malah “memperumit” penemuan passion sejati Anda.


Perluas Horizon
, perlu bertemu dan berdiskusi dengan orang baru. Mencoba hal-hal baru dalam kehidupan ini, jangan terjebak “rutinitas.”

Jangan nanggung. Kalau benar-benar ingin tahu passion Anda, jangan setengah-setengah dalam berupaya dalam memikirkannya. Bak orang jatuh cinta, tiap hari tidak bisa tanpa tidak memikirkannya (passion).

Be Enthusiastic and positive, tidak perlu gusar kalau passion yang pas belum ditemui, yang penting tidak kenal lelah dalam mencari dan mencari.

There is no finish line, karena tidak ada garis akhirnya, nikmati setiap proses yang menyertainya. Bisa jadi, Anda bisa menemukan lebih dari satu passion yang Anda miliki.

Akhirnya selamat menikmati pencarian passion Anda agar hidup Anda lebih “bernyawa”….hidup hanya sekali Bok. Sebuah buku yang perlu dibaca menemani “kontemplasi” Anda di keheningan malam sepulang kerja.

Previous

Reverse Brain Drain dan Entrepreneur

Next

Kutil dan BMW

7 Comments

  1. wow,tulisan yang bagus,resensi yang oke.terus berkarya yaaa 🙂

  2. dyah

    saya sampai sekarang juga masih mencari “passion” saya yang sebenarnya..
    tapi sayangnya terkadang lingkungan sekitar “menuntut” supaya saya “berhasil” dalam karir yang gemilang..

    “There is no finish line, karena tidak ada garis akhirnya, nikmati setiap proses yang menyertainya. Bisa jadi, Anda bisa menemukan lebih dari satu passion yang Anda miliki.”
    Ingin sekali supaya segera bertemu dengan “passion” itu^^

  3. Akhir-akhir ini banyak sekali ya yang membicarakan tentang passion. Memang sih, hidup terasa sangat menyenangkan ketika kita bisa menemukan dan hidup dengan passion. 😀

  4. subhanallah… inspiring banget mas, ini saya lg kultwit masalah #KerjaBerkah yg disimultankan dg pembahasan mengenai #Pasiion

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén