Wirausaha = Pengembang Bisnis Jaringan

Wirausaha = pengembang bisnis jaringan Wirausaha = Pengembang Bisnis Jaringan Wirausaha = Pengembang Bisnis Jaringan wirausaha pengembang bisnis jaringanDi depan kelas, salah seorang professor waktu kuliah saya di Jepang berujar langkah pertama untuk untuk mendapatkan “income” yang melebihi CEO perusahaan-perusahaan besar (baca: bukan pemilik perusahaan) adalah menjadi entrepreneur alias wirausahawan. Langkah kedua berani memulai menjadi wirausahawan. Langkah ketiga, kalau gagal harus tetap bermimpi jadi wirausahawan. Saya ketawa dalam hati…..kesannya maksa banget sih jadi wirausahawan. Mengapa berwirausaha?

Di Jepang, atmosphere entrepreneur atau wirausahawan sangat didukung sekali oleh pemerintah Jepang. Tidak heran, SMEs (Small and Medium Enterprises) atau perusahaan kecil yang notabene diretas oleh para wirausahawan di negeri Sakura, menjamur. Dukungan pemerintah Jepang tidak hanya diwujudkan dalam bentuk finansial, akan tetapi dalam bentuk regulasi yang kondusif, misalnya larangan perusahaan-perusahaan besar untuk mengusai produksi dari hulu ke hilir. Misalnya Toyota tetap harus men-outsource beberapa komponen-komponen mobilnya ke ratusan perusahaan kecil. Jadi tidak mengherankan kalau, menjadi wirausahawan adalah sebuah pilihan di negeri Sumo. Menjadi “ kepala kucing“ lebih dipilih ketimbang menjadi “ekor singa“.

Indonesia memang bukan Jepang. Kondisinya memang berbeda, memulai dan membangun kerajaan bisnis itu sendiri bukanlah pilihan murah dan tanpa resiko. Belum lagi masalah dukungan yang kurang maksimal dari pemerintah kita untuk memajukan sektor usaha kecil. Tetapi mengkambinghitamkan keadaan atas persoalan yang dihadapi bukanlah permulaan baik untuk menjadi wirausaha yang handal.

Lantas apa yang harus dilakukan kalau pingin berwirausaha tapi memiliki keterbatasan dana dan nyali untuk terjun sepenuhnya berwirausaha belum begitu kuat? Berbisnis pemasaran jaringan atau bisnis MLM (Multi Level Marketing) adalah jawabannya. Barangkali Kita semua seringkali ditawari teman, kerabat, handai-taulan dengan bermacam-macam bentuk bisnis pemasaran jaringan. Pelajari dan pilihlah salah satu bentuk bisnis jaringan yang pas dengan jiwa Anda, dan berkomitmenlah untuk menekuninya.

Kalau Anda serius menekuni salah satu bisnis pemasaran jaringan, Anda akan melihat betapa nilai dan peran yang harus dimiliki dan dimainkan oleh seorang wirausaha adalah sama dengan yang disandang seorang pengembang bisnis pemasaran jaringan, apalagi yang mempunyai down-line cukup banyak. Nyaris semua peran yang disandang di bisnis jaringan disandang juga jika Anda memulai membuka bisnis sendiri.

Tatanan peta bisnis memang berubah, diperlukan kemampuan untuk memahami yang tidak terlihat dan menyusun apa yang tidak tersusun seperti yang diungkap konsultan manajemen kenamaan berkebangsaan Jepang Kenichi Ohmae dalam buku terbarunya The Next Global Stage. Kemampuan seperti ini —kosoryoku dalam istilah Jepang– mutlak diperlukan di era bisnis sulit diprediksi.

Saya pribadi melihat bisnis jaringan sangat cocok untuk dikembangkan di Indonesia, join fee-nya rata-rata terjangkau, resikonya tidak terlampau tinggi, solidnya tingkat kekerabatan mempercepat berkembangnya bisnis pemasaran jaringan. Jadi impian terjamin secara finansial dengan bekerja keras sepanjang hayat, lalu pensiun dan membiarkan pemerintah dan perusahaan mengurus sepanjang hidup Anda adalah logika berbasis kondisi bisnis di masa lalu.

Sekarang saatnya Anda untuk membangun kerajaan bisnis Anda sendiri dengan berwirausaha dan kalau belum berani mulailah dengan berbisnis dengan membangun bisnis pemasaran jaringan.

Photo credit by : silverrainscoin@flickr.com

Previous

Marketing Beraksen Jepang

Next

Mercu Suar untuk Berbisnis di Indonesia

8 Comments

  1. Menjadi “ kepala kucing“ lebih dipilih ketimbang menjadi “ekor singa“.
    wah itu kata-katanya dalam banget,, moga aja pemerintahan Indonesia lebih mementingkan si kepala kucing tersebut agar masyarakat bisa berfikir kreatif untuk menjadikan kehidupan yang lebih baik.

  2. Weka

    as u said boss :),
    Saya sependapat, tetapi ada kultur d masyarakat kita -dan ini saya yakin sisa jaman feodal- bahwa menjadi ‘pegawai’ memiliki posisi lebih terhormat d masyarakat.
    Seorang pengepul rongsokan yang per hari bisa untung 1 juta akan kalah oleh seorang staff TU sekolah swasta di masyarakat pedaerahan, karena kelihatan lebih bersih dan teratur. Orang bekerja tidak hanya berharap uang melulu tp juga penghargaan dari lingkungannya. jadi ini mungkin bisa d tambahkan sebagai penghambat wirausaha di lingkungan masyarakat kita (faktor kultur), jika mau dikembangkan masih banyak contoh yang setipe dengan ini)
    Akhirnya, tulisan sdr Donny menurut saya amat memberikan pencerahan n saya salut 🙂

  3. Jaringan.. mksdna networking yah?…. kalau di online bisa dengan social media 😀

  4. @Arief : semangatnya adalah menumbuhkembangkan tradisi wira usaha…semoga bermunculan CEO baru made in Indonesia :)….Indonesia pasti bisa

    @Weka: Betul sekali ulasannya Pak Weka, pilihan menjadi wira usaha masih dipandang pekerjaan yang “tidak aman”, sebuah kenyataan bahwa kultur warisan feodal itu masih melekat kuat. Menjadi tugas kita bersama “mengeyahkan” mind-set itu…..ikut mendoakan Pak Weka segera menjadi “kepala kucing” 🙂

    @Arham Blogpreneur: Maksud saya adalah jaringan multi level marketing, dalam hal ini MLM yang “terpercaya”….kalau down-line-nya banyak mengelolanya juga menjadi “serumit” mengelola perusahaan…..

  5. Boby

    Artikel yg cukup bagus membuat semangat kembali membara..
    Terutama bagi kita yg msh belum pernah menyelami dunia per”wirausaha”an,saya sendiri yakin masing-masing dari diri kita pasti ada semangat maupun kemauan untuk mencoba menjadi “kepala kucing” di Indonesia tercinta ini.

    Saya juga teringat dengan suatu rumus dalam berwirausaha yaitu “Sukses = Gagal + 1” yg artinya kesuksesan itu diawali dengan kegagalan dan setiap ada kegagalan harus ditambah 1 usaha lagi untuk menuju kesuksesan dst..

    Go A Head…!!!

  6. OFA

    Saya sangat setuju……setelah membaca buku Robert T. Kiyosaki ” RICH DAD POOR DAD”, “CASHFLOW QUADRANT” memang kalau Indonesia ingin maju, sadarkan masyarakat agar jangan berorientasi menjaadi pegawai/karyawan, tetapi agar mulai membangun wirausaha….bukan hanya karena penduduk Indonesia yang banyak dan ketersediaan pekerjaan yang kurang. Tetapi juga agar potensi dirinya sebagai “MANUSIA” yang menjadi Khalifah di bumi bisa tereksploitasi.
    Memang tidak mudah untuk menjadi enterpreneur, dan saya sependapat buat Anda yang belum berbisnis dan takut gagal, belajarlah berbisnis di salah satu MLM yang bagus, yaitu yang mempunyai business school atau support system yang bagus. Anda kalau mau ikut MLM jangan hanya berorientasi uang, tetapi Anda belajar “be enterpreneur” dengan pelatihan-pelatihan yang berpengalaman dan biaya yang murah.
    Apa yang didapat dengan mengikuti support system MLM, sehingga menjadikan pondasi yang kuat untuk menjadi seorang enterpreneur silahkan baca buku Robert T. Kiyosaki yang berjudul “BUSINESS SCHOOL …FOR PEOPLE LIKE HELPING PEOPLE.”

    http://www.facebook.com/pages/MELILEA-OGY-FEBRI-ADLHA/50174224658

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén