Whistle Blower dan Integritas Bisnis

Whistle Blower dan Integritas Bisnis Whistle Blower dan Integritas Bisnis whistleblower whtAbove all, success in business requires two things: a winning competitive strategy, and superb organizational execution. Distrust is the enemy of both. I submit that while high trust won’t necessarily rescue a poor strategy, low trust will almost always derail a good one. ”
(Stephen M.R. Covey, The Speed of Trust : The One Thing That Changes Everything)

Beberapa hari “berkantor” di tempat klien terkadang menimbulkan suasana sensasi tersendiri. Disamping berkesempatan melihat atmosfer baru, melihat aktivitas bisnis dari dekat merupakan suatu hal yang menarik. Mengobrol, berdiskusi dengan intens dengan beberapa pegawai sedikit banyak ada beberapa pembelajaran yang bisa ditarik.Tidak jarang obrolan ringan sambil mempelototi sederetan informasi yang ada, merupakan sebuah keasyikan tersendiri.

Dari sekian hal yang menarik yang bisa dikail, ada sebuah budaya menarik yang perlu agaknya untuk dibagi dan diobrolkan. Saya melihat sebuah tulisan terpampang dengan jelas dan cukup menyolok di lobby kantor tentang “kebolehan” melapor kepada sebuah tim yang ditunjuk dengan dilengkapi alamat, telpon serta email untuk pelanggaran code of conduct yang dilakukan oleh karyawan apapun jabatannya. Walaupun pengumuman ini agak jarang terjadi (karena diumumkan dengan terang benderang di area public), pertamanya saya agak skeptis kalau hal tesebut akan diimplementasikan dengan sungguh-sungguh. Tetapi setelah ngobrol dengan sederetan karyawan kunci di perusahaan tersebut, saya tahu bahwa pesan tersebut bukan pepesan kosong belaka.

Apa sebenarnya Whsitle Blower Policy itu. Pada dasarnya whistle blower itu adalah seseorang  “pembisik”  yang melaporkan kegiatan yang kurang terpuji (misconduct) yang dilakukan oleh seseorang di sebuah organisasi, apapun jabatan orang tersebut yang tetap melindungi sang pelapor yang membisikkan hal tersebut. Kegiatan kurang terpuji tadi bisa jadi dalam bentuk melanggar aturan, korupsi, penyuapan, kekerasan dalam lingkungan kerja.

Adanya Perlindungan serta jaminan untuk para whistle blower untuk “meniup peluit “ ketidakberesan merupakan bentuk aspek penengakkan peraturan  (compliance) dalam sebuah organisasi. Dalam budaya perusahaan terutama di beberapa perusahaan (khususnya milik Negara) bukan rahasia lagi kalau “penyimpangan” yang dilakukan level atas akan sulit tersentuh, makanya sering tercetus ungkapan “tajam di bawah tapi tumpul di atas”.  Ada jaminan ini, bukan tidak mungkin penyelewengan yang dilakukan oleh level atas akan bisa dilaporkan dan diusut. Peraturan memang didesain untuk tajam kepada seluruh pegawai, bukan untuk level tertentu saja.

Apa peran jaminan keamanan untuk whistle blower  dalam bisnis? Pertama, Jelas, para karyawan yang concern terhadap budaya perusahaan yang bersih dan terpercaya akan merasa diperlakukan secara egaliter dalam ini. Karena ketidakadilan dalam perlakuan seperti itu yang akan menyeret suburnya penyakit KKN (kolusi, Korupsi dan Nepotisme) yang ditengarai banyak pengamat akan berperan menghancurkan sendi-sendi ekonomi bangsa ini.

Kedua, dalam bisnis penegakkan peraturan secara fair akan melahirkan kepercayaan. Ini yang sering menjadi sebab, penyelewengan aturan-aturan dalam organisasi bisnis, khususnya yang dikelola oleh Negara mengalami kemiskinan kepercayaan. Rontoknya beberapa perusahaan di Amerika Serikat dan sector perbankan Eropa baru-baru ini salah satunya dipicu dari sisi ini, diabaikannya peran integritas dalam bisnis yang akhirnya berujung lahir ketidakpercayaan (business distrust). Tak salah kalau M.R Stepehen Covey dalam bukunya yang baru saya dapatkan berjudul The Speed of Trust, bertutur integritas dalam meningkatkan performa kepercayaan terhadap perusahaan adalah merupakan hal penting dalam membangun bisnis yang berkelanjutan.

Jujur saja ketika saya membaca tulisan tentang jaminan untuk whistle blower serta penjelasan dari orang-orang level kunci di kantor klien saya tadi, sedikit banyak timbul asa. Diantara gemeruh berita ketidakpercayaan publik yang dilakukan oknum-oknum pegawai perusahaan yang dikelola begitu menggema. Kejengkelan yang lahir karena menyimak berita-berita kurang mengenakkan tersebut sesaat terasa berkurang. Masih ada sederetan orang dan perusahaan (khususnya milik Negara) yang berusaha untuk menjaga martabat integritas, yang notabene hal utama dalam kelanggengan bisnis.

Semoga budaya perusahaan yang cukup sehat seperti ini bisa menular. Tidak usah menghembuskan nada pesimis akan harapan tergerusnya integritas dalam bisnis di negeri ini. Setidaknya, mulai dari kita sendiri, kita berusaha sekuat mungkin untuk comply dan tidak bermain api. Anggap saja ada banyak whistle blower yang selalu mengawasi kita dan siap menyempritkan peluitnya kalau kita melanggar garis demarkasi code of conduct yang digariskan selama kita beraktivitas bisnis sehari-hari. Kalau tidak sekalipun, nyakinlah Yang Maha Kuasa selalu mengamati dan merekam tindak tanduk kita….selamat beraktivitas bisnis.

Credit Photo : ninitalk.wordpress.com

 

 

Previous

Bank Pro Bisnis 2012

Next

Menginjeksikan Corporate Culture Baru

4 Comments

  1. yudi,90

    bang dony, artikel yg sangat bagus …. kebetulan dr puasa kmrn sy lg membaca dan mencari mslh topik ini.. ada beberapa institusi besar di indonesia yg sdh menerapkan ini spt KPK dan DJP mudah2an instansi lain ngikut ya .. cuman kadang ada keraguan , apakah mrk2 mau menindak lanjuti begitu ada informasi masuk …. apalagi kl berhubungan dg kedudukan mereka …. salam

    • @Yudi, 90 : Terima kasih Mas Yudi bersedia mampir, saya melihat mulai ada perubahan paradigma berpikir di kalangan kawan-kawan di BUMN dan perusahaan negara lain. Langkah sekecil ini layak diapresiasi, karena bagaimanapun kita sepakat integritas dalam bisnis kalau diabaikan sangatlah berbahaya…..mudah2an program whistle blower ini bisa memberikan asa yang lebih baik kedepannya.

  2. Andreas Mulianto

    Mantab sekali artikelnya. Kebetulan juga ditempat saya bekerja, sudah lama menerapkan hal ini. Menurut info yang saya dapatkan, cukup banyak masukkan yang diperoleh dari cara ini, baik yang kemudian terbukti benar maupun tidak. Satu hal yang penting juga adalah perusahaan menjamin tidak adanya retaliation terhadap pihak pelapor dari pihak terlapor. Hal ini bisa menjamin kelangsungan program karena orang yang melapor tidak merasa nasibnya di perusahaan atau bisnisnya dengan perusahaan menjadi terganggu dengan tindakannya melaporkan penyelewengan.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén