Viral Marketing di Era Social Network

Viral Marketing di Era Social Network Viral Marketing di Era Social Network social networking

Dulu kala masih kuliah di kota Gudeg,saat itu internet belum mewabah seperti sekarang, beberapa rekan yang aktif di dunia jurnalistik dan penyuka dunia tulis menulis, seringkali mencoba peruntungan mengirim tulisan, ulasan, ide, maupun resensi buku di belbagai media cetak. Terkadang beberapa kali menulis, tak jarang tulisan ditolak dan dikembalikan, apalagi di media besar yang rata-rata kolom tulisan didominasi penulis tingkat nasional. Tidak mudah menerobos barikade itu. Alhasil, ketika suatu saat tulisan saya masuk diterima oleh sebuah majalah ekonomi berskala nasional kala itu, senangnya setengah mati. Senang karena honor uang yang tidak seberapa itu cukup berharga buat anak kos, lebih dari itu tulisan yang merupakan pengejawantahan ide dan ulasan dapat diterima serta diterbitkan di sebuah majalah dan dibaca banyak orang.

Idem ditto, kala itu di dunia musik, beberapa teman yang ngeband dan punya koleksi lagu-lagu sendiri, mencoba masuk keluar perusahaan rekaman yang rata-rata berpusat di Jakarta. Memasukkan demo rekaman lagu maupun video dengan harapan akan dilirik produsen yang berminat untuk mengkontrak mereka dengan merekam lagu mereka. Untuk itu, tidak jarang teman-teman band dengan uang saku seadanya, mereka menggelandang di Jakarta keluar masuk perusahaan rekaman “menjajakan” lagunya. Tidak semua lolos, tapi jaman itu Dhani Ahmad dari kota Surabaya, pentolan grup Dewa kala itu berhasil menembusnya dengan cara seperti itu.

Tetapi sekarang, merebaknya internet dan munculnya trend beragam social network, peta dan fenomena di atas agaknya tidak perlu dilakoni lagi. Bahkan efek berantainya lebih cepat. Bagi seorang penulis tidak perlu lagi mengirim tulisan serta antri untuk diterima tim redaksi majalah/koran tertentu untuk menjadi penulis hebat. Dengan membuat blog, saat itu juga tulisan-tulisan Anda bisa diposting akan dibaca banyak orang. Untuk penyuka musik, memasang video di situs youtube, orang yang suka bakalan ngefans, seperti yang dialami Shinta dan Jojo dengan Keong Racun-nya. Untuk photographer berbakat, untuk dilirik kemampuannya, bisa dengan menyimpan hasil jepretannya di situs flickr. Pendek kata, tinggal dipilih saja media yang pas yang sesuai passion kita.

Dengan adanya kemudahan dan social network trend, bukan tidak mungkin, orang yang “nobody” alias bukan siapa-siapa, mendadak sontak populer seperti Shinta dan Jojo misalnya. Di beberapa tulisan blog tertentu terkadang sering diacu oleh media karena tulisannya dianggap lebih berbobot dan menukik. Bahkan ada sebuah Blog, kumpulan tulisannya dijadikan naskah sebuah film dan difilemkan. Dan ini prosesnya lebih cepat, dalam terminilogi pemasaran, hal ini seringkali disebut Viral Marketing. Sebuah proses pemasaran menjalar dengan cepat. Term Viral Marketing dipopulerkan oleh Tim Draper dan Jeffrey Rayport yang menulis artikel “The Virus of Marketing”.

Tertarik terimbas Viral Marketing sehingga produk atau jasa dengan cepat menjalar dan dikenal luas?

Hampir sama dengan aktivitas marketing di dunia offline, di era online dan maraknya social network, istilah AIDA (Awareness, Interest, Desire dan Action) juga diterapkan. Langkah pintu pertama, untuk mendapatkan Awareness di ranah digital, kita harus pasang iklan dulu di media online. Ada beberapa pilihan, detik.com barangkali salah satu situs yang perlu dipertimbangkan. Atau bisa membangun blog yang selaras dengan produk atau jasa yang ingin dikenalkan.

Langkah selanjutnya adalah Interest. Kalau para potential client tertarik, biasanya mereka akan mencari-cari info lebih lanjut mengenai hal ini. Search engine seperti Google, Yahoo! Atau media sosial seperti facebook maupun twitter akan mereka sambangi untuk mencari tahu info lebih dalam. Kalau para potential clients melakukan “pencarian informasi ini”, berarti mereka masuk pada level ini, yakni tertarik (interest).

Setelah merasa sreg dan yakin, misalnya setelah membaca blognya atau page yang di facebook, keinginan untuk mecoba produk atau jasa yang ditawarkan muncul. Pada level ini disebut level Desire. Pada level ini terkadang dibarengi dengan adanya proses pembicaraan (via telpon atau email) bahkan terkadang diminta melakukan presentasi di kantor potential client. Sedikit catatan, beberapa klien yang mengkontak dan meminta saya mempresentasikan jasa yang ditawarkan, terkadang mereka lakukan setelah membaca tulisan-tulisan yang saya posting di blog ini.

Tahap terakhir adalah level Action, sebuah level yang dinanti-nanti tentunya, ada sebagian teman menyebutnya “closing” level. Yakni keputusan untuk melakukan pembelian atau penggunaan jasa yang diinginkan. Semoga dengan menerapkan AIDA proses dengan baik, proses viral marketing yang melingkupi produk dan jasa Anda akan terbuka lebar.

Sudahkan proses AIDA produk atau jasa Anda sudah terkomunikasi dengan baik?

Credit Photo : thebandnextdoor.wordpress.com

Previous

Bisnis “Built to Sell”

Next

Peran Tsukiai Dalam Bisnis Jepang

1 Comment

  1. sari

    saya juga menjual beberapa produk saya melalui media social network, memang jauh lebih mudah dan murah, yang penting kita tidak malas untuk mengupdate dan sering2 buka halaman social network tersebut.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén