Trik Perusahaan China di Afrika

Trik Perusahaan China di Afrika Trik Perusahaan China di Afrika china africa

Dulu saya punya teman yang punya perusahaan keluarga yang sukses “menggarap” ranumnya pasar Eropa dan Amerika Serikat. Kebetulan perusahaan tersebut bergerak di bidang furniture. Hampir tiap bulan puluhan kontainer berisi furniture khas bernuansa etnik dikapalkan ke pasar itu. Cerita suksesnya kadang membuat “iri”. Ketika Dollar dan Euro menguat daripada rupiah, ada saja barang mewah baru yang nongkrong di rumah itu. Ada juga kawan yang keluarga besarnya sukses mengirim baju-baju (tekstil) dalam jumlah besar ke pasar Amerika, idem ditto kesuksesan dan gelimpahan kemewahan merudungi keluarga tersebut.

Tak heran fenomena tersebut menyebabkan banyak perusahaan di Asia, tidak hanya di Indonesia, ingin “meniru” cerita sukses beberapa perusahaan Jepang dan Korea yang sukses melakukan panetrasi ke pasar Eropa dan Amerika Serikat yang terkenal sulit bagi kebanyakan perusahaan Asia. Alasannya masuk akal, keberhasilan memasuki serta menggarap pasar Eropa dan Amerika Serikat, disamping menikmati kesempatan mencicipi renyahnya Dollar dan Euro, reputasi perusahaan dan bisnisnya akan ikut terdongkrak. Tak heran persaingan brutal untuk memasuki pasar tersebut menjadi kian mengeras. Tak ayal keberhasilan perusahaan-perusahaan Asia memasuki pasar tersebut merupakan prestasi tersendiri. Toyota, Sony dari Jepang, serta Samsung dan LG dari Korea selatan merupakan contoh keberhasilan perusahaan besar milik Asia yang berhasil menancapkan kukunya di pasar yang dikenal “sulit” ditembus itu.

Sementara itu, perusahaan Asia lain yang berguguran serta berdarah-darah untuk mencoba peruntungan pasar bonafid tersebut juga jauh lebih banyak. Ibarat keramaian pasar, semua perusahaan mencoba peruntungan menuju ke sana. Bisa ditebak, di tengah keramaian serta kegaduhan merengsek pasar tersebut, tidak semua sukses menikmati legitnya Dollar dan Euro. Yang kandas juga tidak sedikit. Tetapi diantara keriuhan dan gegap gempita keinginan banyak perusahaan menuju kesana, ada beberapa perusahaan yang berpikir “berbeda”. Siapa Dia?

Beberapa perusahaan dari China ternyata mempunyai pikiran sedikit berbeda. Ketika perusahaan Asia beramai-ramai merangsak pasar di Amerika dan Eropa. China malah melirik pasar yang tidak banyak terpikirkan, bahkan yang tidak diperhitungkan. Tidak hanya melirik tapi juga mulai menggarapnya. Menyitir berita yang CAIF (China Africa Industrial Forum), mengeluarkan 100 list perusahaan China yang direkomendasikan di Afrika, diantaranya CNMC (perusahaan tambang), CGGC (China Gezhouba Group Company Limited) sebuah perusahaan China yang banyak bergerak di bidang real estat dan konstruksi, Sinohydro Corporation sebuah perusahaan dari China yang fokus pada pelistrikan, penyediaan alat mekanik, dan juga CMEC (China Machinery Engineering Corporation), sebuah perusahaan yang banyak bergerak di konstruksi, export-import.

Sekedar untuk informasi, mitra dagang terbesar Afrika, bukan lagi negara Eropa yang dulu pernah menjajahnya, tetapi mitra terbarunya adalah perusahaan-perusahaan China. Nilai perdagangan China-Afrika selama bulan Januari sanpai November 2010 mencapai China-Africa US$114.81 milyar, melonjak 43.5% dari tahun sebelumnya. Afrika sekarang menjadi mitra dagang terbesar keempat China. Dugaan saya, 5 tahun mendatang kalau Anda menyambangi piramid di Mesir, atau menaiki gunung indah Kilimanjaro di Tanzania, jangan heran bila akan banyak jasa dan produk made in China menyapa Anda disana, malah banyak orang berkulit hitam dan berkulit keriting piawai bercas-cis-cus berbahasa Mandarin. Cengkraman negara yang berpenduduk nomer satu dunia memang sudah tidak terelakkan lagi.

Sebenarnya ada juga perusahaan Indonesia mempunyai alur berpikir yang sama dengan para perusahaan China tadi. Diantaranya, Group Wings yang dikelola Keluarga Katuari mempunyai pengalaman panjang bersentuhan dengan konsumen Afrika-nya. Produk andalan toiletries-nya yang dipasarkan di beberapa negara Afrika menuai kesuksesan. Beberapa diantaranya dipasarkan dalam bentuk lebih “ekonomis” di sana mendapat sambutan hangat. Bahkan beberapa produk yang sudah tidak begitu laku dijual di Indonesia, masih laku keras disana. Misalnya sabun cuci batangan biru masih diminati disana. Belum banyak perusahaan Indonesia melakukan hal sama seperti yang dilakukan Group Wings ini, sementara China sudah beraksi “menusuk jauh” sebagai mitra terbesar Afrika.

Pembelajaran manuver bisnis perusahaan China di Afrika? Dalam bisnis, tidak harus pasar bisnis yang digarap harus pasar ranum dan seseksi pasar Amerika dan Eropa yang digandrungi banyak perusahaan (apalagi saat ini kedigdayaan pasar Amerika dan Eropa cenderung mengalami penurunan). Terkadang perlu menengok pasar lain yang lebih lega dan prospektif….juga tidak dilirik banyak perusahaan.

Kalau kita seorang perenang cepat dan tangguh tapi berenang di kolam renang yang banyak perenang tangguhnya, tidak banyak orang melihat kehebatan dan kemampuan renang Anda di kolam penuh sesak seperti “es dawet”. Tapi ketika Anda pindah ke dalam sebuah kolam yang relatif sepi dan lenggang. Dan Anda mendemonstrasikan sprint renangnya, orang lain bakal menyadari bahwa Anda adalah perenang hebat. Jadi perlu pindah kolam yang lebih lega dan juga lebih segar. Kurang lebih itu yang dilakukan perusahaan-perusahaan China dan group Wings di Afrika.

Tertarik membuka bisnis ke Afrika?

Credit Photo : fastcompany.com

Previous

Bekerja : Menyelesaikan Keribetan Pelanggan

Next

Fenomena Starts Up di Indonesia : Momentum dan Daya Tahan

2 Comments

  1. terima kasih pak. sangat menambah wawasan.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén