Tradisi “Down to Earth” ala Jepang

Tradisi “Down to Earth” ala Jepang Tradisi “Down to Earth” ala Jepang kuil kinkaku kyoto
Suatu saat saya menyambangi langsung ke tempat klien kami, untuk datang mengecek secara langsung persiapan tim kita di lapangan. Disana saya disambut dengan raut muka sedikit kaget dan tatapan heran staf klien yang berada di situ”, Selamat Malam Pak Donny, wah “Bos” sendiri nih yang langsung turun tangan niih,” ujarnya tersenyum mengajak bersalaman. “Selamat malam Pak, sekedar mampir kok,” jawab saya sambil tersenyum. Saya menangkap ada nada heran dari staf klien saya, dari sapaan di awal pembicaraan saya menduga beliau berpikir untuk urusan seperti ini, tidak perlulah harus “turba” (turun ke lapangan langsung), cukup duduk manis, menunggu laporan saja.

Kejadian di atas jadi mengingatkan saya akan pengalaman waktu magang kerja di Jepang. Kakarichou (kepala seksi) yang membawahi saya, Pak Sugiyama Tetuo, yang sering saya panggil Sugiyama-san sering dalam diskusi saat kerja, mengajarkan kepada saya akan perlunya pimpinan itu sering “turun ke bawah” alias mengecek secara langsung apa yang terjadi di lapangan. Di Jepang, adalah hal yang sangat tabu bila seseorang pimpinan hanya duduk manis di kantor, menunggu laporan staf saja serta sibuk tanda tangan disana-sini. Pimpinan haruslah “sering” turun langsung ke bawah mengecek secara langsung kondisi lapangan (down to earth). Kalau tempat kerjanya pabrik ya harus mengunjungi pabrik itu secara regular, diskusi langsung dengan pekerja untuk mencari tahu masalah yang muncul. Kalau toh relatif tidak ada masalah, bukan berarti pimpinan “memingit dirinya” di ruangannya, tetapi justru kembali turun ke bawah untuk mencari tahu bagaimana cara menaikkan omset dan mengefisienkan pekerjaan. Menakjubkan.

Mengapa perlu turun ke lapangan langsung? Terkadang dalam laporan pekerjaan, karena takut dimarahi pimpinan, laporan yang disampaikan acapkali mengalami “penghalusan”atau eufisme redaksional laporan. Tidak berbohong barangkali, tetapi laporanya bisa direduksi sedemikian rupa sehingga terjadi “penyamaran” laporan….kalau berbohong dan tidak sesuai fakta kan lebih berabe lagi bukan?. Karena ada penghalusan laporan tadi, jadi laporan yang tersaji menjadi tidak valid, dan celakanya bisa jadi merembet ke solusi yang diambil menjadi tidak pas dan malah bisa meleset. Jadi kondisi dan atmosfer yang sebenarnya bisa terdeteksi lebih awal (early warning system) dan segera bisa diambil langkah-langkah antisipasinya secara cermat bila kita pendekatan secara langsung.

Dalam sebuah buku lama yang pernah saya baca, ditulis oleh Masaaki Imai berjudul Gemba Kaizen : A Commonsense, Low-Cost Approach to Management , Imai menjelaskan dengan gamblang kunci segala permasalahan dan cara menanggulangi permasalahan bisa dicermati dari gemba (artinya tempat kerja) secara langsung. Idealnya, saran Masaaki Imai yang juga penulis buku Kaizen, sebelum atasan membaca laporan bawahan, atasan harus mau berpayah-payah, berkeringat, mencari tahu serta mencari tahu kondisi riil di tempat kerja. Baru setelah kondisi dicek secara langsung, laporan dari bawahan dibaca sebagai cross-check. Makanya tak heran, dengan menerapkan hal tersebut, banyak perusahaan Jepang dalam ber-manuver bisnis berhasil menjadi perusahaan papan atas dunia (world class company).

Bagaimana dengan Kita? Menilik percakapan saya dengan seorang staf klien, kita bisa mengerti bahwa masih banyak ada anggapan yang cukup kuat bahwa atasan itu ndak perlu sampai repot-repot turun langsung ke bawah. Itu urusan “tim lapangan”. Malah terkesan, atasan yang turun langsung serta mondar-mandir mengecek langsung ke lapangan, seakan “turun harkatnya” karena akan terlihat berkeringat, sibuk,dan repot. Ada kesan, yang berkeringat, repot, dan terlihat sibuk diharamkan mampir kepada “atasan”, itu milik “bawahan”. Mind-set yang keblinger atau mental aristrokat yang sedemikian kental ? Sayang saya belum pernah meneliti hal itu, tapi itulah fakta yang terjadi di lapangan.

Jadi inget “seloroh” kecil dengan seorang rekan ketika berbincang tentang penanggulangan kemacetan yang luar biasa di Jakarta. “Ya memang agak susah memang kemacetan ini bisa segera di tanggulangi, lha wong masih banyak pejabat kalau menembus jalan macet menggunakan kawalan sirene yang meraung-raung, sehingga jalan baginya terasa lapang bak jalan tol, gak ada macet sama sekali. Kalau tidak melihat dan merasakan langsung, terasa tidak ada masalah yang perlu segera dituntaskan bukan?,” tanyanya retoris. Saya cuma bisa tersenyum kecut, tapi sebuah pendapat jernih yang pantas diamini.

Bagaimana menurut Anda? Bisakah kita meniru kebiasaan positif para pimpinan bisnis di Jepang itu ?

Tulisan ini didedikasikan untuk Bapak Sugiyama Tetuo, yang menjadi patner diskusi penulis selama program magang (internship). “Sugiyama Kakarichou, iro-iro osewa ni natte, arigatou gozaimashita. Totemo ii benkyou ni narimashita”

Credit photo by: vvish@flickr.com

Previous

Pengangguran Terdidik, Cak Eko dan Wirausaha

Next

Free Trade Area (FTA) ASEAN-China di Mata Pebisnis

12 Comments

  1. betul sekali.. pentinganya seorang pimpinan terjun langsung ke lapangan. Selain untuk mengontrol dan mendeteksi masalah yg mungkin timbul, juga untuk memperat hubungan lintas level jabatan.

    • @Ndre : Betul, tetapi masih banyak pimpinan bisnis di Indonesia terkadang “malas” untuk itu….gak tahu kenapa ? anyway terima kasih atas atensinya mampir di Blog Manuver Bisnis….

  2. Saya sangat setuju bahwa atasan harus mau untuk turun ke lapangan. Alasan utamanya, seperti yang sudah mas Donny sebutkan di atas, adalah untuk mencocokan persepsi dari seorang bos yang pandangannya cenderung lebih global, lebih luas jangkauannya dengan orang lapangan yang lebih lokal dan lebih “on the spot”.

    Hanya saja jangan sampai mental yang dipakai ketika turun ke lapangan adalah mental seorang bos juga yang inginnya mengatur-atur dan merasa dirinya benar sendiri. Saya rasa mutual respect dalam cross-check lebih penting daripada cross-checknya itu sendiri. Cross-check yang hanya melihat dari satu sisi malah mencegah terjadinya “crossing”. Seorang bos harus bisa memberikan balance antara persepsi tingkat global dan lokal agar badan yang iya kelola bisa selaras dan serasi. Kalau global tidak mau peduli dengan lokal dan lokal juga tidak pernah tau soal global, bagaimana sebuah perusahaan bisa menjadi meaningfully integrated dalam sebuah purpose yang jelas?

    “Malah terkesan, atasan yang turun langsung serta mondar-mandir mengecek langsung ke lapangan, seakan “turun harkatnya” karena akan terlihat berkeringat, sibuk,dan repot.”

    Sangat setuju sekali! Ego dan pride lebih penting atau keselarasan perusahaan yang lebih penting? Heran..

    • @Pandu: Tepat sekali Mas Pandu…..gap “on the spot” dan “grand-design policy” inilah yang perlu dijembatani dengan serangkaian diskusi, brainstorming yang strategik. Celakanya, fakta yang acapkali saya lihat perusahaan di Indonesia, keengganan untuk menyambung benang merah ini gagal terjadi karena pimpinan terlampau sering “berkutat” dan berasyik masyuk berkutat “urusan kantor”. Kalo ditanya kok gak sekali-kali ditengok…jawabannya kan sudah didelegasikan…..(kalo ketemu klien yang ngeles kayak gini, saya cuman bisa “pasrah”…mau-mau loe saja deh :))

      OK, terima kasih atas sharingnya Mas….

  3. Dalam seminar yang pernah saya ikuti memang sebaiknya seorang pemimpin memang harus turun kebawah agar sistem yang ada bisa jalan dengan baik. Namun kenyataan di Indonesia saya belum pernah melihat, semoga saja ada. Membaca dari tulisan Anda, ternyata sikap orang Jepang seperti itu bukan sesuatu keharusan lagi namun seperti kebiasaan. Jika tidak turun kebawah sepertinya pasti ada yang salah.

    Bagus sekali artikel.

  4. sinta damayanti

    aku sependapat sama Sugiyama-san… turun kebawah langsung menurutku ngga menurunkan derajad, malah temen2 dibawah akan lebih menghormati dengan cara yang lebih nyaman penuh keakraban dan jadi tidak ada kalimat ABS “asal si bose seneng to?”” dan yang paling pasti kita selalu peduli sama usaha kita, kesulitan2 yang sering dihadapi, kita bisa lebih tanggap ngadepin karyawan kita utk ditempatkan pada posisi yg pas “the right man at the right place” jadi usaha mjd lebih sehat n transparan utk laporan sendiri pasti mutlak kita butuhkan selain utk report kedepan yg akan dicapai jg kita bisa mengkroscek kondisi usaha berjalan kita.

    • @Sinta : wah kalo ini advice langsung yang memulai usaha jadi wirausaha….terima kasih Bu Sinta buat masukannya….ditunggu masukannya di artikel-artikel selanjutnya…:)

  5. Jepang, tradisi dan mentalitas nya selalu sja membuat saya kagum. Untuk kesekian kalinya.
    Saya pun merasakan hal sama di kantor saya mas.. Atasan turun hanya di saat2 beliau ‘butuh’ saja. Semoga saat saya jadi pemimpin, saya tida termasuk golongan itu..

  6. Sepertinya, pak Donny banyak membaca buku manajemen Jepang yang bagus. Apakah sudah ada terjemahannya dalam bahasa Inggris atau Indonesia ?

    • @Yando : Banyak sih tidak, ada beberapa yang sempat saya baca, sekarang sudah banyak kok tulisan tentang manajemen Jepang yang ditulis dalam bahasa Inggris maupun Indonesia, salah satunya Gemba Kaizen yang ditulis penulis Masaaki Imai ditulis dalam bahasa Inggris. Terima kasih berkenan mampir 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén