Tips Kecil untuk Kohai Kenshusei

Tips Kecil untuk Kohai Kenshusei Tips Kecil untuk Kohai Kenshusei factory workers jurvetson
Hari ini saya diminta menemani staf Ahli Menteri UKM, Bapak Muhammad Taufiq yang akan melepas pemberangkatan program mahasiswa pemagangan ke Jepang di kampus IKOPIN di daerah Jatinangor. Ada wajah-wajah muda yang sumringah nan semangat berdiri di depan kami, ketika rombongan kami datang di kampus yang udaranya masih terasa segar itu. Kami disambut dengan alunan kidung indah lama milik duo Kiroro, Chiharu Tamashiro dan Ayano Kinjo, Mirai e. Mendengar lagu lama itu, sesaat ingatan sempat melayang dan terkenang-kenang , mengingat masa-masa pengalaman magang kerja di Jepang dulu. Ah…. menyenangkan……

Ada banyak program pemagangan yang digawangi institusi swasta maupun milik pemerintah. Tapi penyumbang terbesar jumlah pemagangan di Jepang atau lebih dikenal dengan Kenshusei ini masih diduduki oleh program yang diusung oleh IMM. Terlepas dari sisi positif dan negatif program pemagangan ini, saya masih melihat program pengiriman kenshusei ke Jepang yang sudah berjalan bertahun-tahun hasilnya belum bisa maksimal. Terkesan pengiriman pemagangan ini “terjebak” pada rutinitas pengiriman semata.

Oleh karenanya ajakan Pak Taufiq agar ikut menemani beliau sekaligus diminta ikut sharing di forum tersebut, saya langsung mengiyyakan karena merupakan kesempatan untuk sedikit “berkontribusi” kepada para “kohai” yang akan berangkat. Dari aspek pembekalan, dari para dosen dan trainer sepertinya memang jauh lebih memadai ketimbang pembekalan di jaman saya. Sehingga pada kesempatan tersebut, saya mencoba menyoroti hal lain, yakni beberapa “kebiasan” atau perilaku para kenshusei yang “kontra produktif” yang acapkali terjadi (common mistake).

Pertama, karena gaji dibayar dengan yen yang nilai tukar uangnya lebih tinggi dari rupiah. Seringkali para kenshusei terjebak pada pola hidup konsumtif yang cenderung boros. Kebetulan untuk produk-produk tertentu di Jepang, harganya lebih murah ketimbang di Indonesia. Sehingga pembelian yang berlebih-lebihan kerap terjadi. Padahal begitu program pemagangan selesai dan pulang, uang yen yang biasa didapat juga “tidak menghampiri” lagi.

Kedua, kurang pas dalam “menginvestasikan” uang yang diperoleh. Banyak yang mengira dengan menggunakan uang gaji untuk membeli motor atau mobil merupakan langkah berinvestasi yang “benar”. Padahal sebenarnya yang dibeli adalah liabilities, yang harganya pasti turun begitu dibawa keluar dari show room. Sehingga pembelian sesungguhnya bukan didasarkan pada kepentingan investasi, tetapi sudah masuk pada tataran agar kelihatan dipadang “berhasil” bekerja di negeri seberang.

Ketiga, seringkali para kenshusei cenderung enggan belajar bahasa Jepang lebih lanjut. Memang bisa dimengerti memang mengerti dan memahami bahasa Jepang tidak mudah untuk orang Indonesia yang terbiasa belajar huruf alphabet. Tetapi dengan lemahnya penguasaan bahasa Jepang membawa konsekuensi “lambatnya” pula proses transfer pengetahuan di sana. Banyak kejadian terjadi para kenshusei yang magang kemampuan bahasa jepangnya agak “memprihatinkan” karena disana jarang digunakan.

Tiga poin di atas merupakan kesalahan yang kerap terjadi. Sehingga saya banyak menghimbau agar kesalahan yang sama terulang kembali. Selamat berjuang di negeri sakura…minna ganbatte kudasai
!!

*kohai (後輩):junior

Credit Photo : jurvetson@flickr.com

Previous

Kachou, Entrepreneur Maker dan China

Next

Mengendus Potensi Bisnis Agro di Jerman

2 Comments

  1. roy

    Memang seperti itu.
    Hanya 5% dari mereka yang masih menggunakan jepangnya dengan benar.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén