The Right Man in the Right Place

The Right Man in the Right Place The Right Man in the Right Place ship el visigido

Tidak perlu berpusing-pusing dalam membuat tim berisi orang-orang pintar untuk membangun perusahaan yang hebat. Orang-orang biasa tapi dengan dedikasi dan determinasi yang tinggi akan menghasilkan hal-hal yang luar biasa” (dikutip dari buku Right Process will Bring Great Results, Tjahjadi Lukiman)

Seorang rekan yang baru pindah kuadran meretas bisnis sendiri mengeluh bagaimana “susahnya” merekrut sumber daya manusia yang tepat untuk mendukung menggelindingnya usaha baru yang dirintisnya. Suatu saat, ketika bertemu dengan rekan saya tersebut, dia bercerita tentang kondisi yang pernah dikeluhkannya.” Karyawan yang satu, dengan terpaksa aku keluarkan walaupun sebenarnya kompetensinya ada,” jelasnya dengan nada kecewa.”Yang satu lagi, mengundurkan diri”, sambungnya lagi. “Padahal, sudah capek-capek saya ajarin tentang sistem bisnis dan kerja,” gerutunya. “Ya, terpaksa deh,ngajarin lagi yang baru”. Cerita di atas, barangkali dengan versi yang sedikit berbeda acapkali kita dengar dari kolega kita tentang susahnya mendapatkan “awak Kapal” (SDM) yang tepat.

Mendapatkan “awak kapal” yang tepat merupakan prasayarat kedua yang harus dilalui setelah memilih bisnis model yang tepat sudah diputuskan. Sayangnya mendapatkan awak kapal yang handal dan pas bukanlah pekerjaan yang mudah. Terkadang, merekrut awak kapal yang pandai semata tidaklah cukup. Banyak cerita yang penulis dengar dari beberapa kolega yang berbisnis sendiri, terkadang awak kapal yang pandai serta tidak disertai dengan imbuhan kata “tepat” di belakangnya, terkadang hanya akan mendapatkan kru kapal yang mumpuni akan tetapi tidak “sejalan” dengan “tujuan” kapal itu dihela. Apa yang terjadi bisa ditebak. Kasus yang dialami rekan saya di atas merupakan salah satu contohnya, proses bisnis menjadi terhambat.

Menurut pengalaman saya mengelola usaha, ketika merekrut awak kapal yang tepat, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah, pastikan orang-orang yang ada di kapal adalah orang-orang yang benar-benar mau “menaiki” kapal itu bersama-sama ketika sauh jangkar kapal diangkat, dayung dikayuh dan layar dikembangkan siap berangkat. Bukan orang-orang sekedar mau mampir coba-coba, sok-sok untuk berpetualang, atau lebih buruk tidak yakin (kepepet) ketika akan menaiki kapal tersebut. Jadi walaupun awak kapal yang melamar adalah awak kapak yang pintar dan mumpuni tetapi ogah-ogahan naik kapal, maka orang itu “tidak layak” ditahbiskan menjadi awak kapal Anda. Karena kalau tetap menaiki kapal, suatu saat Anda pasti mempunyai “problem” dengan orang tersebut. Karena integritas orang yang kita rekrut bermental “ogah-ogahan”-nya tadi bisa menjadi ancaman nantinya.

Ketika Anda memutuskan melayari sebuah bisnis yang penuh ancaman deburan ombak persaingan dan hembusan angin serta cuaca yang tidak menentu, tentunya awak kapal yang menyertainya harus mempunyai “endurance” (daya tahan) untuk itu . Trus tip apa yang perlu diperhatikan dalam memilih awak kapal yang tepat ? Setidaknya, ada 3 tip yang perlu dikulik secara cermat dalam merekrut awak kapal yang tepat :

Pertama, mempunyai integritas kokoh. Jaman sekarang banyak orang mempunyai kompetensi tinggi , tetapi integritas-nya diragukan. Kemampuan seorang nahkoda (pimpinan) “mengenali” calon kelasi (karyawan) yang dipimpinnya adalah hal yang sungguh penting. Karena kalau cuma pinter, tapi egois misalnya, tujuan perusahaan akan tidak tercapai. Makanya Pak Teddy P.Rachmat, mantan CEO kenamaan, pernah berujar “Tanpa orang yang (berintegritas) baik percuma create bisnis, hanya buang-buang waktu.”

Kedua, pastikan awak yang dipilih mempunyai passion atau semangat yang tinggi. Orang yang mempunyai passion yang tinggi itu tidak memerlukan dorongan yang besar untuk maju dan bangkit. Tinggal “disentil” sedikit saja, dengan semangat yang dimiliki, semua pekerjaan yang ditugaskan akan diselesaikan dengan penuh antusias. Kebetulan di kantor kecil yang saya kelola, saya punya awak kapal yang berkarakter seperti ini, ibarat ngomong A nyampe Z, baru sampai B atau C, dia sudah paham dan segera mengeksekusinya. Ndak perlu lagi didorong-dorong.

Ketiga, adalah sesuatu yang pasti, mempunyai kompetensi yang tinggi dan selalu mau belajar. Bagaimanapun awak kapal yang baik harus mempunyai skill yang memadai. Karena skill yang mumpuni ini menjadi prasyarat penting agar kapal tidak gampang karam, tentunya Anda sebagai seorang nahkoda Kapal tidak akan merekrut awak kapal yang malah menyebabkan kapal akan tenggelam bukan?

Kalau Anda memutuskan menjadi nahkoda bisnis pastikan awak kapal dan kelasi yang dibawa berlayar mempunyai 3 kapasitas di atas. Bagaimana dengan awak kapal tim Anda ?

Credit photo : el_visigido@flickr.com

Previous

Turnaround Trengginas ala Irfan Setiaputra

Next

Menginjeksi “Can Do Virus” dalam Berbisnis

2 Comments

  1. sinta damayanti

    wes..mateb pak!..na..itu dia yg saya cari selama ini…tapi sayang karakter tsb 1 dari 1000 org dengan kondisi usaha kita yg baru seumur jagung…
    Kebanyakan yg saya tau mereka kepepet keuangan dan harus mencarinya dgn bekerja.. okelah ngga masalah..yg penting integritas mrk , semangat…kebanyakan dari mrk pada saat interview pasti bilang SEMANAD… Lihat Selengkapnya (pake D!!) oke ngga masalah…naa yg terakhir mau belajar… kategori ketiga sulit je diprediksi sebelum kita mengenal mrk minimal 1 minggu hingga 1 bulan…

    Saya sangat setuju jika kita menempatkan tenaga yg kita punya pada tempat yg pas.. itu sangat membantu kita sendiri dalam bekerja..yaa spt uraian diatas baru ngomong A B C D dia sudah mengerti arah kita mau ke Z ….

    Itulah kita hrs paham minimal hobby mrk apa seh?? cocok ngga jika kita rekrut jadi pegawai kita.. misal spt saya cenderung dibidang kuliner yg kesehariannya bergelut dengan aneka bumbu dapur n tetek bengek… kita hrs mencari tenaga minimal yg pernah dan kalo perlu suka ke dapur..dari fisikpun lama2 kita bisa kok melihatnya… jika org tsb tidak suka berkuku panjang/berkutex, dan biasanya bentuk jarinyapun beda..sedikit lebih berisi dan kokoh..dibanding org yg suka bersolek yg cocok bekerja sbg CS atau salon (front) ..he3..btw pengalaman ini terbukti hampir 100%

    • @ Sinta : Wah Ibu Direktur emang pengalamanya T.O.P banget…thanks ya Bu berkenan sharing di sini….mudah-mudahan sidang pembaca Blog Manuver Bisnis bisa mendapat “pembelajaran aplikatif” dari rekan kita yang memutuskan untuk pindah kuadran…..sekali terima kasih Bu Sinta 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén