Tertarik Menjajal Bisnis Mom-and-Pop ?

Tertarik Menjajal Bisnis Mom-and-Pop ? Tertarik Menjajal Bisnis Mom-and-Pop ? pia piajogja

Yang selalu saya dan keluarga lakukan kalo pas menyambangi kota Jogja, disamping sowan kakek-nenek-nya anak-anak adalah wisata kuliner tempat favorit jaman jadul pas kuliah adalah sebuah pilihan yang mengasikkan. Memang tidak banyak tempat makan yang saya hampiri dulu tetap eksis di kota Gudeg yang semakin terasa semakin “metropolis” . Dengan gempuran franchise lokal maupun mancanegara yang lebih populer, banyak tempat makan “harga pro mahasiswa” nan mak nyuuss berguguran. Tapi ada juga yang masih eksis, bahkan membesar, salah satunya yang sering saya sambangi adalah soto sapi Ngadiran atau sering disebut Soto Klebengan, karena terletak di daerah Klebengan nan padat dengan kost mahasiswa ( Di sebelah utara Fakultas Peternakan UGM ).

Belasan tahun yang lalu ketika dulu sering mampir, tempat soto itu hanya menyediakan beberapa kursi dari bambu beralas tanah, yang terkadang di sore hari sudah habis. Soto rasa sapinya renyah, bisa nambah pilihan irisan daging, babat atau usus. Yang membuat kangen adalah gorengan tempe langsing-nya, gurih habis, apalagi kalau disantap waktu hujan yang dingin. Dulu hanya Keluarga Pak Ngadiran dan anak-anaknya saja yang menjalankan bisnis itu. Sekarang, tempat soto yang cuman seluas 2 kamar kos-kosan telah menjelma menjadi 5-6 kali lebih besar dengan interior yang lebih modern dengan harga yang yang ramah untuk mahasiswa. Kru sotonya juga bertambah, yang sedikit membedakan kalau dulu yang meracik soto Ibunya sekarang sepertinya anaknya yang dulu hanya bantu bantu sudah mulai ikut berperan serta.

Ini adalah tipikal bisnis yang dalam term bisnis sering disebut bisnis “Mom-and-Pop”, sebuah bisnis berskala kecil yang dioperasikan sebuah keluarga dengan jumlah pegawai yang tidak begitu banyak. Mungkin dalam istilah kita acapkali disebut bisnis rumahan. Bisnis ini beciri nuansa kekeluargaannya teramat pekat. Ketika saya mampir kembali ke sana setelah belasan tahun meninggalkan kota Jogja, masih ada senyum tersungging akrab menandakan mereka masih ingat saya yang dulu sering mampir sambil membawa tas cangklong ala mahasiswa. “Monggo Mas….”, sapaan hangat beraksen Jawa Jogja sambil menyorongkan mangkuk soto panas yang masih mengepul. Saya lihat beberapa keluarga yang mampir di kedai soto itu, melihat gayanya bercengkrama dan mengobrol, saya yakin dia jebolan sekolahan dari Jogja yang dulu sering mampir di soto Klebengan ini. Ah nyaman sekali suasananya….jadi ingat lagunya Jogyakarta-nya Kla Project.

Di Indonesia banyak bisnis yang berawal dari rumahan bisa berkembang dan berkinerja bagus. Malahan, terkadang lebih tahan banting. Di Jogja disamping soto Klebengan, ada juga gudeg Bu Ahmad di selokan Mataram, Pia-Pia Jogja di Pogung Baru. Dari Semarang, Bandeng Presto Juwana yang sering dijadikan buah tangan khas Semarang yang dulunya merupakan berawal bisnis Mom-and-Pop. Para generasi penerusnya mampu melanjutkan estafet sehingga bisnis itu membesar dan melegenda, dan tidak jarang menjadi ikon produk di daerahnya masing-masing. Tapi banyak juga beberapa bisnis Mom-and-Pop yang sejatinya berkinerja bagus harus tapi gulung tikar karena tidak ada yang melanjutkan bisnis yang sebenarnya berprospek ini. Sayang sekali bukan?

Kalau ada diantara Anda yang ingin berpindah kuadran, di samping mengikuti beragam pilihan franchise yang menjamur untuk diterjuni, mengembangkan potensi bisnis Mom-and-Pop yang dimiliki keluarga merupakan sebuah pilihan yang laik untuk dilakoni. Saya melihat kelebihannya disamping “menjual” keintiman dengan para pelanggan niche-market-nya, mengembangkan bisnis Mom-and-Pop ini akan menjauhkan dari “penyeragaman” yang merupakan ciri khas dari bisnis berbasis franchise yang baku dan seragam. Bagi yang tidak begitu suka dengan hal itu, mengembangkan bisnis Mom-and-Pop merupakan alternatif yang perlu dipertimbangkan. Di Amerika Serikat, bisnis Mom-and-Pop bisa tetap eksis di tengah kepungan toko-toko Wal Mart yang ada dimana-mana.

Dulu ketika saya kuliah, saya banyak melihat beberapa keluarga dari teman-teman, terutama yang berada di daerah atau kota-kota kecil mempunyai bisnis utama maupun bisnis sampingan yang berbasis seperti ini. “Untuk tambah uang jajan dan kuliah anak-anak…”, ujar Ibu seorang kolega ketika ditanya kala itu mengapa masih mengembangkan bisnis rumahan yang ‘remeh’ itu, walaupun suaminya masih aktif bekerja. Ketika suaminya pensiun, tidak dinyana bisnis yang dianggap “rumahan” tadi menjadi penopang utama mengepulnya dapur keluarga itu.

So, tidak ada salahnya Anda mencoba melirik ulang serta mengembangkan usaha tersebut kalau memang ada. Tertarik mencoba mengembangkan bisnis ini seperti Soto Klebengan, Pia-Pia Jogja, Gudeg Bu Ahmad atau bandeng Presto Juwana?

Credit Photo : by Endah wulandari (Gambar foto merupakan salah satu produk Mom-and-Pop dari Jogja bernama Pia-Pia Jogja, sebuah buah tangan khas Jogja seperti bakpia yang dikemas dan rasa yang berbeda, bisa dibeli di daerah Pogung Baru-Jogja).

Previous

10.000 Hour Rule

Next

Early Adopter dan Pebisnis Pembelajar

4 Comments

  1. papayasmin

    betul Pa Donny, disekitar kita banyak bisnis yang sudah sangat diterima oleh hati masyarakat. Hampir disetiap daerah memiliki bisnis mom and pop seperti itu.

    Harus kita dorong mereka 2 untuk mampu mengembangkan dan mentransformasikan bisnisnya …..mungkin dengan membeli lisensi bisnis mereka….

    bagaimana menurut Pa Donny….?

    • @Papayasmin : Betul sekali, tetapi kalo boleh saya sarankan, bisnis Mom-and-Pop harus membenahi secara internal dulu. Saya seringkali melihat “kelemahan”nya adalah dikerjakan asal menggelinding, belum dikerjakan dengan lebih profesional. Masih dianggap “sambilan”. Nah yang tertarik untuk mengembangkan dan membeli bisnis ini harus mau menyediakan waktu dan tenaga untuk membenahi secara internal bisnis agar bisa berkembang. Kalau tidak nanti akan “get stuck”, karena biasanya bisnis ini pasarnya ada, tapi lemah di manajemen. Selamat mencoba…..terima kasih berkenan mampir 🙂

  2. Muha

    Sepakat….kalau di bundel jumlahnya mungkin di Indonesia sangat banyak bisnis semacam ini, hanya saja sistem manajemen dan pengembangan usahanya banyak yang menggunakan aturan naluri dan takut melakukan perubahan. sehingga tergilas oleh pesaing yang melakukan inovatif dan modal besar.
    Untuk selanjutnya terserah pak Donny, bagaimana ajian ampuhnya untuk petunjuknya…
    ditunggu sesajen berikutnya…he…e

    • @Muha : he..he…he…emang dukun pake sajen :), pembenahan internal dan digarap dengan kecamata bisnis secara serius itu merupakan kata kunci agar bisnis Mom-and-Pop tidak tergilas oleh pesaing terutama yang berbasiskan waralaba yang punya pondasi dan sistem lebih terstandar.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén