Teh Sosro : Menjajakan Ritual, Menepis Cemohan

Teh Sosro : Menjajakan Ritual, Menepis Cemohan Teh Sosro : Menjajakan Ritual, Menepis Cemohan tehsosro

Menyeduh daun teh dan kemudian meminumnya merupakan sebuah tradisi lama dimana banyak bangsa mengkonsumsinya. Teh yang punya nama keren Camellia sinensis ini memang menjadi salah satu minuman yang banyak digemari banyak orang di seluruh pojok dunia. Bangsa Inggris bahkan punya tradisi sakral tea time di sore hari yang masih dilakukan sampai saat ini. Bahkan di Jepang kebiasaan minum teh dibuat ritus dan upacara yang dikenal dengan nama chadou (茶道) masih dilestarikan sampai saat ini.

Bicara tentang teh, saya menjadi ingat sebuah perusahaan teh yang dikelola oleh keluarga Sosrodjojo dari Slawi, Jawa Tengah. Tentu Anda ingat Iklannya yang khas yang kerap mondar mandir di layar kaca “Apapun makanannya….minumannya tetap teh Sosro”. Rasa-rasanya sekarang tidaklah sulit untuk mendapatkan “teh dalam botol” ini di Indonesia. Bisa dipastikan di warung, kedai pinggir jalan sampai kelas restoran pun jarang yang tidak menjajakan produk satu ini. Tidak heran, sebuah perusahaan minuman karbonat multinasional di tanah air kewalahan “menggeser” kebiasaan minum teh dalam botol ini di Republik ini.

Tetapi keluarga Sosrodjojo yang menginisiasi ide bisnis pertama kali mengundang ejekan dan tertawaan bagi yang mendengarnya. Kok jualan teh dalam botol, lha wong bikin teh sendiri saja di rumah bisa dengan biaya yang tidak seberapa, kenapa harus dimasukkan dalam botol? Tapi keluarga Sosrodjojo tidak bergeming, setelah berjibaku di bisnis the sejak tahun 50-an, dengan tekad bulat PT.Sinar Sosro yang diinisiasi untuk menaungi bisnis teh dalam botol di 1974 dibangun. Mantan Dirut The Sosro, Surjanto Sosrodjojo mengenang ketika pertama kali mengetes the botol di toko-toko maupun di agen , teh botol yang dijajakan ditertawai serta tidak ada yang mau beli.

Tapi sekarang ? tentu saja tidak ada yang berani menertawakan. Tingkat aksepbilitas dari konsumen sudah terbentuk dan kokoh. Hal yang hampir mirip, pernah menimpa minuman air Aqua yang pernah diledek dengan cemohan “jualan air putih dalam botol kok lebih mahal dari seliter bensin” di era 80-an. Tetapi akhirnya, sejarah mencatat, Aqua merupakan market leader di ihwal air putih dalam kemasan di tanah air.

Dalam bisnis, terkadang untuk menginisiasi sebuah ide bisnis baru, bersiap-siaplah berteman dengan “keheningan” yang jauh dari gegap gempita dukungan maupun gemeruh dukungan tepuk tangan yang membahana. Seringkali kenyinyiran, cemohan serta ejekan akan menghadang, bahkan omelan kemarahan tak jarang mendekap. Ini adalah fase berat yang harus dilakoni ketika kita hendak meluncurkan sebuah produk atau jasa dimana bisnis model-nya belum ada sebelumnya.

Keluarga Sosrodjojo dari Slawi telah melewati fase itu. Saya yakin, kala itu tidak banyak orang berdiri di belakang ide “sinting” menjual teh yang biasanya disajikan dalam kondisi panas atau hangat dalam gelas. Tetapi disajikan dalam kondisi dingin, tetap segar dan dalam botol yang higenis. Sepertinya banyak orang merasa malu dan canggung untuk mengamini ide yang tidak biasa itu.

Edward de Bono, dalam adi karya lawas-nya yang sering dicuplik banyak praktisi bisnis dalam bukunya New Think: The Use Of Lateral Thinking, menyebut pentingnya punya pikiran lateral yang tidak lazim, keluar dari pakem biasanya. Hal ini menjadi penting untuk mendobrak kebuntuan dalam konstelasi bisnis. Cuman sayangnya, acapkali orang yang mempunyai pikiran lateral seperti keluarga Sosrodjojo mengalami ejekan, cemohan yang bertubi-tubi. Di pergaulan bisnis, orang seperti ini seringkali dianggap aneh dan tidak jarang dimusuhi. Dianggap “memalukan” corps dengan ide tidak biasanyanya. Sebaliknya, tidak banyak orang yang bakal “memujinya” ketika ide bisnis tersebut pada akhirnya nanti mendapat penerimaan yang luas.

Di tengah teriknya matahari menemani jagoan kecilku berlatih bela diri, saya berteriak “Bang, teh botol-nya satu dong,” pintaku. Tak lama Abang penjual minuman datang sambil menyodorkan Teh Botol Sosro dingin nan segar. Sebuah produk yang gagasannya dulu pernah ditertawakan sebagai ide gak masuk akal ini.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah membiasakan diri berpikir lateral?

*Artikel ini dipersembahkan untuk untuk perintis Teh Sosro, yang juga mantan pendiri grup bisnis Rekso, Almarhum Bapak Soetjipto Sosrodjojo yang meninggal Maret 2010.

Credit photo : indocashregister.com

Previous

Horenso : Bukan Sekedar Pelaporan semata

Next

Ketika Mama Mengerek Bendera Entrepreneur

3 Comments

  1. Wisnu Gardjito

    Mas Donny….yang budiman….sungguh berguna tulisan penggugah ini……saya sering melihat orang-orang hebat seperti pak Soetjipto Sosrodjojo ini di Indonesia….memang betul mereka ditertawakan dan dikucilkan, dianggap nyleneh, sinting, nggak logis, dan yang lain menyakitkan (menurut pengalaman saya) adalah DIREMEHKAN, dicibir…….terima kasih Mas Donny atas pencerahannya………Salam sukses selalu…….

    • @Wisnu : Pak Wisnu yang saya hormati, memang salah satu yang ingin saya kedepankan di blog ini disamping sharing tentang manajemen dan bisnis, kita perlu mengapresiasi orang-orang yang berhasil–setelah melewati serangkaian hujatan– dalam bisnis. Kesuksesan terkadang didapat lewat jalan melengkung…..tidak lurus seperti yang dilakoni perintis Teh Sosro Pak Soetjipto Sosrodjojo….nuwun Pak 🙂

    • Muhammad

      @Pak Wisnu : keep the faith, keep the fight, keep in spirit. Demi kemajuan Indonesia, maju terus Pak Wisnu :).

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén