Tawaran Telpon Menjadi CEO Tawaran Telpon Menjadi CEO phonecall

Seorang teman yang kebetulan menjadi jajaran senior di sebuah perusahaan pernah curhat kepada saya menyatakan “kegemasan” atas policy yang diambil CEO dan beserta jajarannya di kantornya yang menurutnya “kurang progresif”. “Kalau saya jadi CEO saya akan melakukan gebrakan dengan tidak mengintrodusir strategi itu, nanggung”, ujarnya sewot. “Sayang ya, aku tidak mendapatkan kesempatan untuk menerapkan strategi yang ingin kuterapkan?” sambungnya sambil menerawang, barangkali teman saya sedang membayangkan kalau “kesempatan” itu datang kepadanya. Dia lantas membeberkan ide dan rencana kalau dia mendapat kesempatan mengelola perusahaaan itu. Ide Cukup jenial saya pikir…Saya sendiri mengakui kapasitas dan kemampuan teman saya ini cukup mumpuni, barangkali kesempatan saja yang belum berpihak kepadanya. “Bagaimana cara tercepat menjadi CEO atau Board of Director tanpa harus “melalui” logika urut kacang ?”

Seorang yang pernah menjabat sebuah direktur di sebuah perusahaan pernah bercerita, dirinya di telpon tengah malam dari seseorang yang mempunyai posisi penting di negeri ini. Setelah melalui serangkaian obrolan, pembicaraan itu diakhiri dengan sebuah tawaran “menggiurkan” untuk mengkomandani sebuah perusahaan dengan misi menarik perusahaan itu dari kubangan kerugian yang menghimpitnya. “Kalau Anda bersedia menerima tawaran ini, mohon besok datang di tempat X untuk ceremoni pelantikan, sampai ketemu besok”, ujar lawan bicara di telpon. Pembicaraan beberapa menit di telpon pun selesai, bak di sebuah film, tapi cerita ini benar-benar kejadian nyata. Memimpin sebuah perusahaan dengan ribuan karyawan, sesuatu yang diakui CEO tersebut sebagai sebuah “tawaran yang mengkagetkan”.

Barangkali cerita di atas, merupakan sekilas kasus bagaimana seseorang mendapatkan kursi kepemimpinan tanpa harus melewati jalur konvesional karir yang seringkali membutuhkan waktu lebih lama karena harus “urut kacang”. Beberapa kolega saya, walaupun episode ceritanya tidak sedramatis petikan cerita di atas, dengan sekup yang lebih kecil, ada beberapa mengalami cerita yang sama dengan cerita CEO di atas. Tiba-tiba saja ada seorang investor menawari dia untuk mengelola sebuah perusahaan yang sudah berjalan. Malah ada beberapa rekan lain diminta untuk membikin cetak biru serta membangun pabrik atau perusahaan benar-benar dari nol. Sebuah tawaran yang merangsang “naiknya” adrenalin di tubuh.

Saya melihat “opsi” semacam ini walaupun tidak mudah untuk “dijumpai” atau dialami oleh setiap orang bukanlah sebuah mimpi di siang bolong. Apalagi atmosfer kekinian sangat mendukung opsi ini. Baru-baru ini di sebuah berita, Ketua BKPM Gita Wirjawan menuturkan target awal dipatok investasi yang masuk ke Indonesia diprediksi 161 triliun, tetapi sampai triwulan ketiga saja di Oktober 2010 penanaman modal dalam negeri dan penanaman modal asing sudah mencapai 149,6 triliun. Apabila dibandingkan dengan periode yang sama di 2009 sebesar 112,1 triliun, maka terdapat peningkatan sebesar 33,4 persen, naik cukup signifikan. Dari data makro ini menyiratkan masih akan ada lanjutan “tawaran-tawaran” menarik, termasuk tawaran mengkomandani bahtera bisnis menghampiri untuk mengelola bisnis di arus mikro karena membaiknya kondisi iklim investasi di tanah air. Gelontoran investasi, terutama dari mancanegera sedang deras menggelontor ke Indonesia. Fenomena ini pasti membutuhkan figur-figur seseorang untuk mengelola bisnis yang akan digelindingkan, tertarik menerima tawarannya?

Lalu strategi apa yang mesti dibentangkan agar mendapatkan tawaran seperti ini?

Pertama, Pastikan selalu mengasah kemampuan sesuai dengan kompetensi Anda secara berkesinambungan. Dengan selalu mengasah kemampuan diri, Anda akan terkondisikan selalu siap kapan saja. Karena jelas tawaran memimpin seperti ini biasanya datang dengan cepat yang seringkali kita tidak membayangkan sebelumnya. Banyak orang saya lihat banyak orang ingin mendapat kursi “kepemimpian” ini tetapi seringkali alpa mengkondisikan untuk siap memimpin. Sibuk “sikut” sana, “sikut” sini meraih jabatan itu, tapi lalai men-charge baterei kapasitas diri. Berapa banyak orang mendapat kesempatan menduduki kursi no.1, tapi gagal memanfaatkan momentum itu. Ini akan menodai track record sejarah karier Anda.

Kedua, melebarkan rentang networking dengan bisnis yang ditekuni. Seringkali saya melihat bebrapa calon-calon CEO itu sangat piawai secara teknis, tetapi jarang bahkan tidak pernah mendapatkan tawaran menduduki kursi ini. Kasus ini juga sering terjadi pada beberapa orang berbakat di bidangnya, tetapi karena cakupan rentang networking terbatas, tidak banyak investor yang menawari dia kursi CEO. Bukan karena investor tidak mau, tetapi karena tidak tahu. Karena itu banyak-banyaklah bergabung di asosiasi dengan bidang bisnis terkait yang Anda tekuni, ini akan mempermudah orang mencermati sekaligus menyadari kemampuan yang Anda miliki.

Jadi, siapkah Anda menerima telpon tawaran mengelola perusahaan menjadi CEO dari investor atau share holder terkait?

Credit photo : www.dailymail.co.uk