wanita-belanja Sosok Kelas Menengah Indonesia Terbesar: The Climber Sosok Kelas Menengah Indonesia Terbesar: The Climber wanita belanjaPerilaku kelas menengah Indonesia yang disurvei Lembaga Riset Inventure yang dipimpin seorang kawan mantan “jurnalis kampus” di Jogja dulu, Mas Yuswohady atau akrab dipanggil Mas Siwo ini cukup menarik. Betapa tidak gemuknya kelas menengah Indonesia telah menyedot banyak produsen di pelbagai negara untuk beramai-ramai menggarap mereka. Tak heran, konsultan kenamaan dunia Mc Kinsey Global memprediksi Indonesia akan menjadi  negara nomor 7 terbesar di dunia di tahun 2030 dengan alasan semakin gemuknya kelas menengah Indonesia.

Di blog ini, beberapa saat lalu saya pernah mengulas sedikit riset Mas Siwo tentang 8 segementasi psikografis: The Aspirator, The Performer, The Expert, The Climber, The Trendsetter, The Follower, The Settler dan The Flow-er. Tapi kali ini, ulasan akan ditekankan pada satu segmentasi saja yang mempunyai prosentase mayoritas di riset ini, yakni The Climber yang menggenggam 21,51% .

The Climber dapat dikenali dengan norma dan nilai dianutnya yang khas: pekerja keras, produktivitas tinggi, dan orientasi terhadap keluarga yang cukup tinggi. Segmen ini dikenal aktivitasnya yang suka menjajal hal-hal baru dengan topik perbincangan yang disukai adalah peluang kerja dan bisnis serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Sosok The Climber ini terindentifikasi sebagai sosok yang keterhubungan dengan teknologi dan lingkungan sosial cukup erat. Saat ini segmen mereka masih termasuk “berdaya beli rendah”, tapi kemampuannya yang lekat dengan teknologi dan jejaring, 5-10 tahun kedepan dugaan saya, segmen bakal mendominasi dan eksis.

So, apa yang perlu dipersiapkan produsen untuk “mengantisipasi” perilaku The Climber ini, selaku pelaku terbanyak di kelas Menengah ini ? Ada beberapa hal yang perlu diantisipasi dari segmen ini:

Pertama, Prosentase yang “melek kesehatan” diprediksi akan semakin tinggi. Antisipasi terhadap perihal kesehatan akan cenderung meningkat, karena tingkat “literate” levelnya serta kesadarannya cukup tinggi. Terkadang tidak sakit pun, cek darah dilakukan. Ketergantungan dengan dokter yang lebih terspesialisasi pun makin tinggi. Mereka bersedia membayar lebih untuk kesehatan. Makanya sebuah laboratorium kesehatan prodia,serta klinik kesehatan yang tenaga-tenaga kesehatannya lebih terspesialisasi semakin “digandrungi”.  Termasuk klinik “kesehatan” wajah Natasha yang makin lama makin ramai disesaki itu. Juga, Bisnis makanan sehat yang menjadi turunan dari meleknya kesehatan diprediksi juga akan bisa berkembag.

Kedua, semakin banyaknya kelas menengah yang melek teknologi, e-commerce akan semakin menjadi pilihan yang tidak terelakkan lagi. Kalau sekarang tiket pesawat, kereta api, hotel dan konser musik, tiketnya dijual secara online. Kedepan produsen yang belum menggunakan dunia maya sebagai medium, perlu berpikir untuk mencoba menggunakan kanal online untuk lebih mendekatkan dengan para konsumennya yang rata-rata menjadi geek technology tersebut. Perlu dipikirkan bagaimana mendesain bisnis model yang terkait dengan gaya hidup mereka.

Ketiga, semakin meleknya kelas menengah ini, melibatkan konsumen dalam proses aktivitas pemasaran. Keterkaitan kelas menengah dengan sosial media yang begitu kuat akan lebih berdaya dobrak kuat jika mereka dilibatkan. Maksudnya kalau mereka dilibatkan dan merasa puas, mereka akan menjadi duta product dari produsen itu sendiri. Meraka akan dengan senang hati berbagi dengan networking-nya manakala keterlibatan mereka diikutsertakan. Saatnya menggarap komunitas-komunitas yang ada sebagai sarana untuk itu. Kurangi “mengoceh” di iklan-iklan yang cenderung “one way communication” yang mereduksi pelibatan kelas menengah ini.

Walaupun segmen The Climber merupakan segmen dominan di kelas Menengah Indonesia, tidak semua perilaku kelas menengah Indonesia segmen lainnya akan berperilaku sama. Dari hasil riset yang dilakukan Mas Siwo dengan Inventure-nya akan sangat membantu mengenali kecenderungan dari dari masing-masing segmen. Adalah usang ketika membidik perilaku konsumen hanya dengan memilahnya dan merabanya berdasarkan pendapatan semata.

Gemuknya kelas Menengah Indonesia jangan sampai dimanfaatkan hanya oleh para produsen luar negeri yang cukup agresif menggarap pasar segmen ini. Kita juga harus ikut “meramaikan” pesta gegap gempitanya kelas menengah kita ini. Sudahkan Anda mempunyai strategi dan produk yang tepat untuk menggarap pasar kelas menengah Indonesia yang dinamis ini?

Credit Photo: mitrafm.com