Sinyal Bahaya dari “KPI Games” Sinyal Bahaya dari “KPI Games” playingoffice1 corbis1

“Jadi, kalau target atu tugas utama yang dibebankan kepada kita, bisa dicapai bahkan melampui target, dalam implementasi KPI, individu tersebut bisa mendapat reward yang disepakati?,” tanya seorang peserta in house training di dalam topik KPI (Key Performance Indicator). “Betul, sekali”, jawab instruktur. Lalu, sang penanya tadi membisiki teman di sebelahnya,”Wah, kalau begitu target yang kita buat dalam penyusunan KPI Individu, kita buat yang mudah untuk dicapai, sehingga KPI kita hijau terus.” Teman sebelahnya terkikik pelan sambil mengganggukkan kepala disertai menyeringai tanda setuju. Kebetulan saya yang dibelakang yang terlibat juga sebagai instruktur hanya bisa mengulum senyum mendengar obrolan kecil tadi.

Penerapan KPI atau penerapan di dalam bahasa Indonesia sering dikenal IKU (Indikator Kinerja Utama) memang merupakan sebuah pendekatan yang mulai banyak diimplementasikan di banyak perusahaan Indonesia (sebelumnya bisa baca artikel “Alat Takar itu Bernama KPI” di blog ini juga). Sepenggal pembicaraan para peserta training di atas, menandakan adanya keinginan untuk mereduksi target KPI individu ketika mengisi dokumen KPI individu dalam pelaksanaan implementasi KPI. Dengan harapan KPI individunya akan selalu “hijau” karena target KPI Individu dibuat “achievable” agar mudah tercapai, sehingga terhindar dari angka “merah” yang menandakan skor individunya tidak melampaui target. Dalam kosakata implementasi KPI, fenomena di atas sering disebut KPI Games.

Biasanya, dalam penyusunan KPI berbasis Balance Scorecard, mestinya diawali dengan mengulas strategi perusahaan terlebih dahulu. Hal ini diperlukan agar nantinya strategi utama perusahaan yang biasanya ditampilkan dalam bentuk corporate performance scorecard tadi ketika di-cascade (diturunkan) ke level lebih rendah (departemen sampai individu) terdapat keselarasan (alignment) dan ada benang merahnya. Setelah diulas dengan seksama, bagaimana KPI departemen dan KPI individu menyelaraskan dengan grand strategy perusahaan agar langkah-langkah KPI mereka mampu menyumbangkan value added terhadap pencapaian strategi perusahaan. Dengan kata lain, dengan diterapkan KPI sampai level individu seharusnya semakin kuat dan solid dalam mencapai tujuan tersebut.

Tetapi dengan adanya satu-dua individu di sebuah perusahaan yang “nakal” dengan menurunkan target KPI Individu agar mudah dicapai dengan mudah, seyogyanya praktik semacam harus dihindari dan diantisipasi. Karena dengan tindakan tersebut sedikit banyak akan merugikan perusahaan, apalagi kalau dilakukan secara “berjamaah” dan sistematis. Mengapa?

Pertama, dengan menurunkan target pribadi tersebut, memang target KPI Invidu akan relatif mudah dicapai. Akan tetapi daya saing perusahaan secara makro akan kurang kompetitif karena target KPI Individu dipatok terlampau “gampang”. Apalagi kalau target yang dipatok “terlampau jauh” dari capaian target KPI perusahaan kompetitor sejenis. Bisa ditebak, daya kompetitif suatu perusahaan akan menurun jika ada “pembiaran” dari pelaksanaan KPI Games oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, apalagi kalau bersama-sama…..wadooh bunuh diri namanya.

Kedua, secara perseorangan melakukan KPI Games secara sengaja, secara tidak langsung individu yang bersangkutan akan melakukan pekerjaan yang “terlampau mudah” dan under value. Karena target yang dipatok terlampau mudah direngkuh. Ibarat anak bersekolah di level kelas 1 SMP misalnya, minta soalnya kelas VI SD. Jelas sangat mudah. Sementara individu yang melakukan akan terjangkiti sindrom “kerja santai” yang tidak produktif. Ini juga tidak kalah berbahaya. Secara budaya, kalau menular apalagi kalau banyak yang ikut terjebak KPI Games, “budaya santai” di perusahaan akan melanda.

Jadi dalam penerapan KPI di dalam perusahaan, untuk menghindari hal ini, peran departemen SDM atau HR yang biasanya “mengurusi” hal ini haruslah “waspada” dan peka, agar menyimak betul serta memastikan tidak ada KPI games dalam implementasinya. Kalau merasa ragu-ragu atau takut gagal untuk mereduksi oknum-oknum “nakal” di perusahaan yang mencoba bermain mata dengan KPI games, ada baiknya Anda menggandeng perusahaan konsultan yang piawai dan berpengalaman dalam penerapan KPI Balance Scorecard. Bagaimana dengan perusahaan Anda?

Credit Photo : www.corbisimages.com