Sepenggal Kisah Toko Jepang

Sepenggal Kisah Toko Jepang Sepenggal Kisah Toko Jepang pengantinjepang asamoya

If you don’t know history, you don’t know anything

Sebuah undangan menarik yang sayang untuk ditampik untuk dihadiri di hari kamis minggu lalu yang diadakan oleh JETRO (Japan External Trade Organization) cabang Indonesia. Pembicaranya adalah Ishii Hideosan, seorang penasehat senior kawakan di Jakarta Japan Club yang sudah tinggal di Indonesia sejak masih remaja. Sebagai penasehat senior yang cukup terkenal dan disegani, tidak mengherankan banyak perusahaan Jepang yang mau menyambangi Indonesia “meminta pendapat” beliau lebih dahulu, itu informasi yang saya dapatkan dari seorang kawan berkebangsaan Jepang.

Topik yang diselenggarakan cukup unik, dalam seminar SMEJ (Small and Medium Enterprise Japan) yang merupakan rangkaian acara Jak Japan Matsuri (festival Jakarta Japan), tentang toko Jepang (toko yang dioperasikan oleh orang Jepang yang disebut oleh orang lokal Indonesia sebagai “toko Jepang”). Kebetulan beliau adalah saksi hidup fenomena maraknya toko-toko orang Jepang di tahun 1920-1940an. Dengan dilengkapi beberapa slide gambar toko-toko milik orang Jepang di masa itu baik di kota Jakarta, Surabaya, Jogjakarta, seminar itu terasa unik dan seakan dibawa nuansa kala itu.

Kalau sekarang banyak perusahaan Jepang yang masuk ke Indonesia didukung penuh dan di-support oleh pemerintah Jepang dan dukungan dana besar dari kantor induknya di Jepang, dulu toko-toko milik orang Jepang banyak yang merupakan milik orang kebanyakan menengah ke bawah (grass-root) Jepang, yang memasuki Indonesia karena betul-betul mengadu nasib karena kala itu tidak ada bantuan sama sekali dari pemerintah jepang, Jadi benar-benar karena usaha untuk berdagang untuk memperbaiki ekonomi keluarga mereka. Sebagian besar dari mereka datang bahkan tanpa pengalaman sebelumnya menjadi pedagang. Menurut Hideo-san, rata-rata pemilik toko Jepang Indonesia hanya lulusan sekolah menengah di sekolah Jepang. Sejarah mencatat, orang Jepang datang pertama kali ke Indonesia tahun 1887, sedangkan konsulat Jepang di Batavia (Jakarta sekarang) baru berdiri di tahun 1909.

Setelah berdirinya konsulat Jepang di Batavia, toko-toko Jepang di tanah air semakin bermekaran bak cendawan di musim hujan. Dari catatan sensus 1939 tercatat kurang lebih 6900 orang Jepang yang berada di seantero Indonesia. Hideo Ishii-san mencatat mekarnya toko-toko Jepang kala itu disamping diuntungkan karena daratan Eropa sebagai penyupplai utama barang-barang ke Indonesia sedang berkecambuk Perang Dunia I yang melumpuhkan produksi sekaligus jasa ekspedisi barang dari Indonesia-Eropa serta sebaliknya. Penyebab lainnya juga dikarenakan adanya policyharga pas” yang kala itu belum begitu dikenal disamping seringnya toko Jepang mengadakan sale atau obral.

Kebijakan “harga pas” kala itu belum begitu lazim, karena seringkali harga-harga barang sudah lebih dulu dilambungkan harganya, lalu pembeli akan mencoba menawar harganya. Kalo harganya disepakati barulah terjadi transaksi. Akan tetapi jika si pembeli tidak lihai menawar, maka akan dirugikan. Tak ayal orang lokal Indonesia pun tidak takut menyuruh anak kecil untuk membeli barang ke Toko Japan karena tidak mungkin “ditipu” karena harganya sudah pas. Sedangkan adanya sale atau obral membuat Toko Japan kala itu sering disesaki pengunjung.

Disisi lain, toko Japan juga tidak membeda-bedakan pembeli, walaupun pembeli orang Indonesia tetap dipanggil “Tuan” dan “Nyonya”, sebuah panggilan yang kala itu hanya diperuntukkan untuk orang Belanda atau Eropa kala itu. Kadang-kadang kalo pembeli datang bersama anaknya, terkadang diberi hadiah lipatan kertas (origami) “burung bangau”. Mereka selalu berpakaian rapi meskipun dalam suasana panas terik yang mengigit, demi menjaga citra baik di mata penduduk lokal. Kala itu modal mereka hanya kerja keras, kejujuran dan sikap ramah tamah untuk bergaul di lingkungan orang Indonesia papar beliau.

Merujuk pemaparan Ishii Hideo-san yang merupakan saksi hidup maraknya toko Jepang kala itu, sikap yang mengedepankan integritas yang diramu dengan kemampuan untuk bisa masuk dan bergaul (ability to mingle with others) di lingkungan yang menjadi target pasarnya merupakan salah satu strategi untuk panetrasi pasar target pasar. Sekarang sudah banyak perusahaan Indonesia yang berkiprah di negeri orang, kalau Anda berencana berekspansi bisnis ke luar negeri yang notabene berbeda kultur dan budayanya, sepenggal kisah yang diusung oleh toko Jepang ini bisa dijadikan inspirasi untuk memperluas horizon perspektif bisnis kita.

Credit photo : Asa-moya@flickr.com

Previous

Merubah Diri atau Dipaksa Berubah ?

Next

Mencermati Kecenderungan Outsourcing

4 Comments

  1. Terima kasih…
    sayang saya saat itu begitu sibuknya sehingga tidak sempat menghadiri acara ini.

    diana.s.n
    the japan foundation, jakarta

  2. Yusuf

    Bagus artikelnya. Ngomong-ngomong, toko-toko jepang di indonesia jadul ada dimana?

    • @Yusuf : Menurut Ishii Hideo-san, di jalan Malioboro Jogja saja ada belasan toko Jepang, antara lain tokonya bernama Fuji Yoko yang core business-nya menjual senbei (biskuit ala Jepang). Menjelang masuknya Jepang ke Indonesia, banyak pemilik toko tersebut berangsur kembali ke Jepang untuk mengantisipasi perang. Jadi sekarang agak jarang toko Jepang di Indonesia, seperti yang kita ketahui kebanyakan yang beroperasi bisnis di Indonesia adalah perusahaan/korporasi. Di salah satu mall besar di Jakarta Utara ada toko Jepang yang menjual barang-barang pernak-pernik namanya Daisho-shop. Terima kasih atas apresiasinya 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén