Sepenggal Insight Business dari Bilik Notaris

Sepenggal Insight Business dari Bilik Notaris Sepenggal Insight Business dari Bilik Notaris grandpa and grandsonBeberapa minggu lalu, karena ada sebuah urusan, mengharuskan saya harus menyambangi sebuah notaris mengantar perpanjangan sebuah tempat yang digunakan untuk melakukan sebuah usaha. Sembari menunggu kedatangan sang notaris yang kebetulan sedang dalam perjalanan, kami berbincang-bincang dengan sang empunya rumah yang kebetulan seorang kakek yang sudah berumur yang ditemani istrinya. Sembari menunggu kita mengobrol kesana-sini, tentang cucunya yang sudah belajar bahasa mandarin dan fasih berbahasa inggris dengan fasih yang dipertontonkannya lewat sebuah rekaman di genggaman smartphone-nya. Ya, kasih sayang seorang Kakek dan Nenek kepada cucunya…terkadang melebihi ayah ibunya…mata berbinar-binar mereka mewakilinya.

Tapi kunci obrolan menarik bukan ada di perbincangan gemesnya seorang Kakek dan Nenek pada cucunya –itu hanya efek samping– tapi lebih pada kiprah bisnis yang dilakukan Kakek berpembawaan tenang ini. Singkatnya,  Kakek yang duduk dihadapan saya adalah seorang pebisnis yang mainan investasinya adalah properti rumah.  Seingat saya sudah sejak empat tahun lalu, kami menyewa tempat ini untuk usaha, dengan ditandatanginya dihadapan notaris, maka setidaknya tiga setengah tahun kedepan, kami masih berhak menempati bangunan itu. Kalau mendengar berapa dia dulunya membeli bangunan ini beberapa tahun yang lalu, saya bisa memastikan bahwa uang yang dikeluarkan untuk membeli bangunan itu sudah terbayar, sisanya dia tinggal “menikmati” panen hasilnya, plus masih bisa mempunyai  kepemilikan rumah tersebut. Hebatnya, rumah yang kami sewa tadi bukan satu-satunya aset properti yang mereka kelola, masih ada beberapa bangunan, apartemen di titik-titik strategis yang “dimainkan”

Kiprah Kakek dan Nenek tadi mengingatkan saya manuver bisnis yang dilakukan oleh Robert Kiyosaki di bukunya yang sampai sekarang masih laku dan mudah didapatkan di toko buku, Rich Dad Poor Dad. Dalam buku tersebut, Kiyosaki meneriakkan adagium yang terkadang sering “dipinjam” penipu-penipu investasi gadungan untuk memperdaya mangsa-mangsa mereka, “Jangan bekerja untuk uang, tapi jadikan uang bekerja untuk kita,” papar Kiyosaki. Ya, manuver Kiyosaki di Amerika ketika mulai pelan-pelan membeli properti di Amerika, dan mulai menyewakan setelah dipoles atau dijual dipraktekan dengan jenial oleh pasangan Kakek-Nenek bersahaja yang kelihatan masih chic itu. Tidak heran, ketika manuver itu berhasil, pasangan itu amat menikmati hasilnya. Tinggal membuat jadwal mengunjungi cucu-cucunya yang tinggal di beberapa negara, tanpa harus bingung bagaimana “menabung” untuk uang sakunya, dari sederetan kepemilikan properti yang dibeli sedikit demi sedikit di masa lalu membuat pundi-pundi selalu terisi, seperti kita yang selepas penandatanganan kontrak dihadapan notaris, kita harus menguncurkan uang untuk mengisi pundi-pundi mereka, karena kita akan menyewa kembali bangunan tersebut untuk beberapa tahun mendatang. Yah, pada titik itu, pasangan tersebut sudah menikmati  “uang yang bekerja untuk mereka”.

Dari sedikit obrolan di bilik kantor notaris itu, setidaknya ada sebuah gambaran betapa gurihnya bisnis properti, khususnya di Jakarta, apalagi ditambah laju perekonomian Indonesia yang membaik, beberapa posisi strategis yang menjadi incaran berbisnis harganya seakan “tidak terkendali”.  Sang Kakek bercerita sebuah bangunan yang dibelinya yang kemudian dijualnya delapan bulan kemudian menghasilkan ratusan persen dari harga pembelian. Saya sempat melongo, karena untuk bisa mendapatkan margin seperti itu, kita harus bekerja mati-matian dengan rentang waktu yang lebih panjang. Tapi itulah, setiap bisnis punya sisi plus-minus-nya. Bagimana modus modelnya bisnis properti sang Kakek ini? Ternyata tidak “rumit-rumit” amat, tetapi cukup disiplin manuvernya.

Pertama-tama, common sense saja, investasi dimana-mana teorinya sama, yaitu mencari rumah atau bangunan yang posisinya strategis tetapi harganya masih relatif murah. Lalu dibelilah rumah itu. Dengan sedikit dipoles dan diperbaiki disana-sini agar kelihatan lebih cantik dan baru. Akhirnya rumah atau bangunan ditawarkan untuk disewakan (per kamar untuk kos juga boleh) atau dijual. Dalam hal ini kalau kita mempunyai pekerjaan lain, tidak sempat menjajakan secara aktif. Sekarang agen penjualan dan penyewaan rumah yang ada dimana-mana untuk digunakan jasanya.

Langkah kedua, setelah kalau laku terjual atau disewa, uang yang didapat dari bisnis itu maksimal hanya 10 % yang boleh dikonsumsi, 90 persen sisanya harus siap-siap digelontorkan untuk mencari dan membeli sasaran rumah atau bangunan yang harganya masih “miring”. Inilah disiplin manuver dari sang Kakek yang tidak banyak dilakukan orang. Dengan limpahan uang yang lumayan, godaan mengkonsumsi untuk “belanja-belanji” biasanya cukup menggoda. Tapi sang Kakek yang bersahaja ini, saya lihat cukup kekeuh dalam berdisiplin investasi. Akhirnya, rumah demi rumah, apartemen demi apartemen di lokasi strategis yang dimulai dari rumah kecil bisa didapat. Beberapa diantaranya ada pada posisi yang cukup strategis di dekat-dekat pusat bisnis. Sehingga tak jarang, beberapa perusahaan cukup ternama menyewanya. Jarang kosong dalam rentang waktu yang lama.

Makanya setelah terkumpul koleksi beberapa bangunan, rumah, apartemen yang semuanya tiap bulan “mengalir deras” secara bergantian pundi-pundi uang sang Kakek dan Nenek yang kita ajak ngobrol di bilik kantor notaris tadi. Karena pundi-pundi jarang kering kerontang, urusan menengok cucu di luar negeri tanpa harus “bekerja” bukanlah masalah yang berarti buat mereka. Tinggal menyempatkan pulang ke Indonesia sejenak, kalau ada urusan menandatangani perjanjian perpanjangan sewa atau jual beli bangunan. Itupun urusan pertemuan sepenuhnya sudah diurus broker bangunan yang ada.

Wah siapa ingin sering-sering “menengok cucu” nantinya, tanpa harus bingung mencari uang saku? Kayaknya menjajal bisnis properti  seperti sang Kakek tadi perlu dicoba ya 🙂

Photo Credit : imeriti.com

 

Previous

Ketika Perubahan Dihadang Resistensi Internal

Next

Core Business Beringsut: Dari Ayam ke CD Musik

4 Comments

  1. Artikel yang berguna, Bro Donny. Menurut saya, prinsip pertama dalam berinvestasi adalah kuasailah kendaraan investasi itu. Jangan cuma ikut2an teman, saudara, tetangga, atasan, bawahan, dll..Dengan menguasainya, kita jadi mengenai profil resiko yang terkandung dalam investasi tersebut. Setiap orang (seharusnya) punya pilihan investasi yang berbeda tergantung dari pengetahuan dan pengalaman yang bersangkutan. Saat ini semua orang berbondong2 ke emas. Teorinya harga emas akan selalu naik dan mungkin betul untuk horizon yang cukup panjang. Tapi saya pernah mengalami secara pribadi dimana investasi emas harganya menurun karena horizonnya dibawah 10 tahun. Jadi saran saya sebelum memilih investasi apapun, pelajari dulu dengan detail sehingga tidak terperosok.

    • @Andreas : Bro Andre, betul sekali ulasan Anda, memilih investasi apapun, mempelajari dengan seksama dan detail agar tidak terperosok adalah hal yang cukup bijaksana dan sangat direkomendasikan dalam bisnis. Terima kasih berkenan mampir di Blog Manuver Bisnis

  2. weka

    sekilas info…
    http://www.dailymail.co.uk/news/article-2215642/Rich-Dad-Poor-Dad-bankrupt-dad-Best-selling-author-files-corporate-bankruptcy-losing-24m-judgement.html

    bagaimana menurut pak Donny, ketika melihat kiyosaki bangkrut? Apakah ada salah ide atau lepas konteks dari ide beliau, mengingat anda mengutip pendapat beliau ini dalam tulisan ini (secara kebetulan, waktu-nya hampir bersamaan dengan berita bangkrutnya kiyosaki)

    • @Mas Weka : Wah, setelah gak mampir, Mas Weka mampir juga di Blog Manuver Bisnis. Ya, saya membaca dan mendengar Kiyosaki mengalami “kebarangkutan”, menurut saya bisnis mengalami “pasang-surut” itu adalah hal yang sangat wajar. Mungkin kali ini Kiyosaki sedang mengalami masa “surut”. Tapi secara pribadi, saya tetap ancung jempol dengan manuver bisnis-nya di bidang properti tersebut, suka atau tidak buku Rich Dad Poor Dad itu merupakan buku yang cukup menginspirasi di masa itu. Di Amerika pernah dinobatkan menjadi buku terlaris di tahun 1999. Di Indonesia sendiri, buku ini berkali-kali dicetak ulang.Terima kasih Mas Weka berkenan mampir dan berkomentar di sini 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén