Sang Penantang Pasar itu bernama Yamaha

Gambar Yamaha Sang Penantang Pasar itu bernama Yamaha Sang Penantang Pasar itu bernama Yamaha gambar yamahaSalah satu tugas sehari-hari saya adalah berputar-putar tiap hari mengitari sudut-sudut kota Jabodetabek untuk menyambangi klien-klien kami. Ruwetnya jalanan Jakarta yang ditingkahi beragam kendaraan dari metromini, taxi, mobil angkot, dan “armada motor” yang akhir-akhir ini volumenya menyeruak naik menjadi “teman keseharian” keluyuranku tiap hari. Berbicara tentang naiknya volume armada motor yang gigantis di tanah air, saya mengendus ada kecenderungan tergerusnya dan berkurangnya kepemilikan salah satu merek yang sejak jaman saya masih kecil mendominasi kepemilikan “motor bebek” di tanah air.

Saya mencoba mengecek data tersebut dari sebuah majalah SWA yang sudah saya ‘pacari’ dan ‘gumuli’ sejak masih sebulan sekali terbit ketika kuliah dulu. Ternyata dugaan saya tidak salah, kalau dulunya di jaman saya masih duduk di bangku SMA, nama “Honda Bebek” sebagai penguasa dominan yang akhirnya menjadi nama generik. “Honda bebeknya merek apa?” adalah pertanyaan yang acapkali terjadi kalau kita punya sepeda motor kala itu. Menjadi Top of Mind (TOM) bagi Honda kala itu merupakan pencapaian yang luar biasa, sedangkan Yamaha, Suzuki serta merek lain tertinggal cukup jauh dibawah Honda di masa itu. Akan tetapi, konstelasi kue omset penjualan sepeda motor sekarang sudah berubah secara dramatis.

Dari perspektif marketing, dulu sepeda motor Honda dapat dikatakan sebagai sang pemimpin pasar (market leader) yang menggenggam dalam kisaran 60-70% pasar Indonesia, sedang sepeda motor Yamaha di posisi Penantang Pasar (market challenger ) menggenggam kisaran 15-25%, sisanya dibagi-bagi merek lain. Sekarang data bicara lain, titik balik sesungguhnya terjadi di tahun 2007 ketika Yamaha mampu membukukan kenaikan penjualan 25,7% dibanding tahun sebelumnya sementara Honda melorot 8,5% penjualannya, walaupun secara total volume Honda masih unggul. Di tahun 2008, Honda membukukan penjualan 2,87 juta unit, dibuntuti secara ketat oleh Yamaha dengan pencapaian 2,46 juta unit. Masih kalah per unitnya, tapi Yamaha berhasil memendekkan jarak dengan sang market leader.

Persaingan memperebutkan trophy No.1 semakin sengit bak balapan di sirkuit. Tahun 2009 ini, April 2009, Yamaha berhasil menyalip sementara di angka 189.082 unit, sementara Honda Cuma bisa melego 155.789 unit. Bulan Mei, Honda kembali memimpin pasar dengan perolehan 208.266 unit sedangkan Yamaha membuntuti di angka 206.992 unit. Bulan Juni dan Juli Yamaha kembali menyalip di tikungan dengan melego pada angka 218.614 unit dan 253.683 unit, sementara di bulan Juli Honda hanya mencatatkan angka 241.354 unit, sungguh ramai persaingan pasar sepeda motor untuk memperebutkan gelar pemimpin pasar (Sumber: Swa Sembada No.12/XXV Tahun 2009).

Setidaknya ada beberapa pelajaran menarik dari fonomena sempet disalipnya Honda sebagai market leader oleh manuver bisnis Yamaha sebagai challenger Market. Pertama, Honda sebagai pemimpin pasar melalaikan salah satu sendi disiplin pemimpin pasar yang sering disebut Michael Treacy dan Fred Wiersema dalam adi karya bukunya berjudul Discipline Market Leader sebagai customer intimacy of discipline value. Sejak saya di bangku SMA dulu saya naik sepeda motor Honda Prima, nyaris sampai sekarang tidak nampak perubahan mendasar dari bentuk sepeda motor Honda, kalau toh ada penampilannya berubah hanya sedikit, seakan takut untuk “keluar dari pakem”. Setidaknya bila dibandingkan dengan Yamaha jenis Mio milik Yamaha, sungguh penampilan berubah sama sekali, dinamis dan mengikuti selera kekinian dari konsumen. Dugaan saya, peluncuran sepeda motor Yamaha Mio itu buah “keintiman” yang dirajut Tim Yamaha dengan calon pembeli sepeda motor di tanah air.

Kedua, saya melihat keberhasilan Tim Yamaha membuktikan sekaligus kesuksesannya mengkomunikasikan kepada public bahwa perceived-quality mesin Yamaha tidak kalah bahkan bisa menyamai mesin Honda. Simpul-simpul komunikasi nan efektif dengan komunitas Yamaha seperti mensuport komunitas Yamaha Mio (Mio Club), nonton bareng MotoGP mulai dilakukan dan hal itu merupakan sarana ampuh untuk mengkomunikasikan sisi postif dari Yamaha. Dari sisi advertising above the line, penggunaan Valentino Rossi sebagai bintang iklan Yamaha adalah sebuah pilihan jenial untuk menyupport hal itu. Kalau mesinnya tidak dipersepsikan unggul, mana bisa Rossi bisa bolak-balik jadi racer champion.

Ketiga, sepertinya Tim Yamaha menyadari produk yang yang bagus, tanpa service after sales yang prima akan mengundang “kegeraman” dari sang pemakai. Sering saya melihat dengan kepala sendiri, dulu sangat susah mencari counter Yamaha yang menyediakan service. Sekarang bak jamur cendawan di tengah hujan, setidaknya di kawasan jabotabek sudah banyak counter service yang dihadirkan oleh Yamaha. Terkadang vis a vis dengan counter Honda di koridor jalan sama.

Bak genderang perang yang alpa ditabuh, sepertinya persaingan memperebutkan gelar sebagai pemimpin pasar antara Honda dan Yamaha di tanah air tetap bergulir dan akan cenderung “sengit” dan ketat kedepannya. Siapa-pun pemenangnya mari kita tunggu saja. Pelajaran bisnis penting dari salip-menyalip-nya penjualan Honda-Yamaha adalah, kalau posisi bisnis Anda sebagai pemimpin pasar, janganlah lengah karena posisi itu tidaklah abadi. Kalau bisnis Anda berposisi sebagai “penantang pasar”, fenomena ini mengajarkan dalam bisnis tidak ada yang tidak mungkin merebut posisi jawara. Posisi pemimpin pasar adalah sangat mungkin direngkuh. Selamat Berjuang !!

Credit photo by : reezal@flickr.com

Previous

Mercu Suar untuk Berbisnis di Indonesia

Next

Angin Perubahan agar Sang Gajah Bisa Menari

13 Comments

  1. yah baca tulisan pak doni kaya nonton motor gp aja,, jadi inget waktu ikut pelatihan organisasi dikampus yaitu “Perubahan muncul dari kaum minoritas”, mungkin team yamaha tidak mau jadi bayang-bayang honda.

  2. Weka

    Kalau sdr Arif menyatakan bahwa tulisan Pak Donny mirip nonton motor gp saya sepakat, karena ulasannya sangat berapi-api mengulas kesuksesan Yamaha ‘menyalip’ Honda di kompetisi pasar motor Indonesia.

    Bahkan jika tidak mengenal Donny secara pribadi, saya akan menuduh beliau tidak lurus dan dibayar oleh Yamaha dalam rangka kampain merek tersebut, karena -tumben- saya melihat analisis pada tulisan ini standar Kalau sekedar jumlah Show Room atau Bengkel u/ masing-masing merk saya kok melihat setara, artinya bukan hanya kedua merek tersebut bahkan merk India pun bengkel dan show roomnya mulai banyak). Untuk itu saya ingin melengkapi ulasan Donny, tetapi saya akan menggaris bawahi aspek sosio kultur Indonesia.

    Kultur sosial Indonesia. 1. Masyarakat pengguna motor di Indonesia rata-rata adalah kelas menengah kebawah untuk kelas standar (asal bukan moge/ 250 cc keatas). 2. Kelas menengah kebawah adalah kelas pekerja (biasanya butuh supervisi/panduan dalam berbuat sesuatu). 3. Pengguna motor diluar itu adalah anak sekolah, yang notabene, masih suka mencari status/suka popularitas.

    Terlepas dari mutu produk (testimoni saya; lebih enak tarikan vario drpd mio, demikian juga untuk ukuran fisik), Iklan Yamaha dengan bintang Komeng, Deddy Mizwar, dan Didi Petet sangat mengena dan menancap di benak konsumen kita dibanding Honda.
    Sindiran-sindiran halus dan ‘petuah’ Deddy Mizwar sebagai orang tua bagi anaknya, dan mensupervisi orang tua agar memilih Yamaha sangat melekat dibenak masyarakat ( untuk kriteria kelas diatas). Apalagi dengan bantuan lelucon yang mengena dari Komeng untuk anak mudanya 

    Karenanya kalau Honda ingin mengulang masa kejayaannya, selain membuat inovasi baru, carilah bintang iklan yang ‘more attractive n popular’ di banding yang sekarang, lelucon simply simple lebih dikenal drpd ilmiah , karena daya tarik Yamaha tinggal Deddy Mizwar, Komeng sudah mulai monoton dan popularitas Didi Petet semakin menurun seiring kurangnya muncul di media public.

    Sebuah partai saja membutuhkan artis dan pelawak untuk menang pemilu, apalagi motor…

    • @Arief: Salah satu alasan saya memposting artikel ini, jangan takut bermimpi untuk menjadi No.1, semua kemungkinan itu mungkin (terjadi)….tetap mampir di blog ini Mas 🙂

      @Weka: Pak Weka terima kasih atas ulasan jernih tentang tulisan ini, inilah yang kita harapkan bersama…..saling sharing ide sehingga “sense business” kita akan terlatih kalau dibiasakan sharing seperti ini. Pak Weka memang backgroundnya kuat di sosiologi dan manajemen SDM….saya sangat berterima kasih bersedia “mewakafkan” sedikit kemampuannya untuk menyoroti “kekurangan” dari artikel….saya tunggu ulasan jernihnya lho Pak…..

  3. Heru Priyanto

    Mas Donny, tulisannya menarik dan gaya penulisannya sangat bersemangat keliatan Banyumas nya he.he. Aku mau ikutan komentar soal fenomena persaingan antara Honda dan Yamaha. Saya setuju dengan pendapat bahwa sebagai pemimpin pasar Honda lengah dan itu merupakan sebuah kenyataan alamiah. Mayoritas pemimpin pasar dalam industri apapun cenderung mengalami rasa puas diri dan terjebak oleh kesuksesannya dimasa lalu. Mereka berhenti berinovasi, yang ada hanya melakukan improvement kecil dan tidak mendasar. Mungkin selama pasar masih menyerapnya kenapa harus menluncurkan produk baru yang tentunya lebih costly dan beresiko kan.
    Sementara itu, saya lebih melihat keberhasilan Yamaha merupakan sebuah blessing in disguise. Why? Karena sepertinya itu lebih karena Yamaha kehilangan akal untuk meningkatkan market sharenya di pasar sepeda motor roda dua. Seiring meredupnya teknologi 2 tak dan meningkatnya kesadaran akan hemat energi/bbm, yamaha kehilangan kekuatan andaikata dia terus bertahan bertarung dalam segment yang itu-itu saja. Satu-satunya jalan untuk mengambil ceruk pasar adalah dengan berinovasi dan membuat produk yang benar2 baru dan bisa diterima oleh masyarakat. Mio, tidak hanya sebuah produk yang baru namun sekaligus mampu membentuk sebuah segment baru di pasar sepeda motor roda dua. Terbukti dengan mulai masuknya merek lain termasuk Honda ke dalam segmen motor matik.

    • @Heru: Mas Heru, “berpuas diri” terkadang membuat terlena ya….sip ada tambahan amunisi ulasan bisnis dari yang barusan pulang sekolah dari luar negeri…fresh from the oven….matur nuwun Mas Heru….ditunggu ulasan ‘jilid’ berikutnya Mas 🙂

  4. Wawan

    Mas doni tulisan bagus dan cara menceritakannya pun bersemangat yang membuat pemabaca greget apalagi di tambah dengan data-data yang akurat….saya ada beberapa bagian yang setuju saya tulisan mas doni..
    Pertama : mungkin salah satu faktor yang mendukung peningkatan penjualan Yamaha adalah, dengan bergabung ‘The Doctor” atau Valentino Rossi ke dalam Team Yamaha….kita tahu semua bahwa Rossi adalah pembalap Motor Gp terbaik dunia kerena dia telah menjuarai GP selama 5 tahun berturut2, oleh sebab dengan faktor secara ga langsung membuat brand Yamaha menjadi lebih kuat….

    Kedua : Di buatnya Motor Matic Mio, karena pada waktu itu merk motor Jepang di indonesia blom bermain di kelas motor Matic….aku punya cerita pas mtr honda ku di kirim, aku nanya ke tukang kirimnya “Mas kapan Tiger keluar yang 250ccnya”, beliau menjawab,”Saya ga tahu mas soalnya Matic kita aja msh kalah,jadi sekarang kita lg kosentrasi untuk kelas matic dan bebek….

    Walaubagaimanapun Mayarakat Indonesia itu kebanyakan masih memilih Honda daripada Yamaha, karena yang masyarakat kita tahu bahwa motor Honda itu bensinnya irit dan juga kalau di jual kembali harganya tidak terlalu jatuh….
    Faktor-faktor itulah yang bisa menguatkan kalau motor HOnda lebih di gemari oleh semua kalangan Masyarakat,namun tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat Yamaha menjadi plihan no 1 masyarakat Indonesia

    • @Wawan : Rekan Wawan ini sepertinya pengamat GP, terima kasih ulasan panjang lebarnya, berdasar cerita dari Anda sepertinya sih pihak Honda “memperkuat” sektor motor matic untuk membendung laju Yamaha. Siapa pun pemenangnya, seperti nonton GP di TV…mari kita tunggu sama-sama. Tetap mampir ya di Blog Manuver Bisnis 🙂

  5. Lili Muflihah

    Wah, Don, kamu memang pengamat pasar yang jeli…
    Kalo aku penikmat pasar.. Kebetulan aku juga menjadi bagian dari pemakai Honda yg pindah ke Yamaha…
    Setelah baca artikel ini, jadi madan mudeng dengan apa yg terjadi di pasar motor Indonesia.
    Soal content aku belum berani kasih kritik. Soal linguistiknya aja ya: Sebagai pembaca tulisanmu sudah sangat enak dibaca, mudah dipahami dan alurnya runtut. MPaling ada satu kata yang mestinya ditulis: di bawah, tapi tertulis dibawah. hehehe… Gak urgen ya?? tapi karena bidangku linguistik ya baru itu yang bisa aku sampaikan..
    Salam sukses, ya Don…

  6. Rozi

    hmm..klo aq sih dalam beberapa hal, sebenarnya ada kemiripan dari tren yang terjadi di Honda dengan Yamaha. Salah satunya mengenai bentuk fisik dari produk yamaha sendiri. Motor Yamaha sempat juga mengalami fase dimana bentuknya hampir tidak jauh beda. Bisa dilihat dari model Yamaha Vega yang sangat mirip dengan Fitz-R ataupun Krypton.

    Lalu mengapa Yamaha mampu bersaing dengan honda? Jawabannya memang terletak pada produk mio. Seblum mio ada produk matic yang bentuknya sangat besar dan terkesan sangat tidak fleksibel (ibu kos klo ga salah pernah beli trus ga lama dijual lagi karna suatu hari pernah jatuh, karena saking besarnya)Beda jika dibandingkan dengan Mio, yang lebih ramping dan lebih terkesan fleksibel.Sehingga wajar jika kemudian orang beralih ke Mio dan jatuh hati kepadanya.

    Namun, Walaupun sukses diraih, Yamaha tetap waspada saat Honda mengeluarkan produk maticnya yaitu Vario. Yamaha lalu membalasnya dengan mengeluarkan mio sport yang didesain untuk cowok. Memang pda awalnya, kemunculan Mio diperuntukkan untuk kalangan wanita, namun siapa yang menyangka kalo 60 % pembeli Mio adalah kaum pria.

    So, memang dari beberapa artikel yang saya baca, memang keandalan strategi dari Yamaha terletak pada pemilihan target pasar yang cukup tepat. Yamaha tidak mau bersaing secara frontal dengan Honda di pasar yang sama. Yamaha terkesan lebih mencari pasar mana yang tidak digarap oleh Honda. Kemudian Strategi Honda yang telah usang tetap dipertahankan, yaitu tetap digunakannya teknologi lama milik produk sebelumnya. Honda cukup mengganti bajunya, sedangkan mesin dan rangka tetap bertahan menggunakan versi nenek moyangnya.Itu yang kini terjadi pada Honda Revo….

  7. SAlam
    Menarik sekali ulasannya, hanya saja merk Yamaha terkenal Khususnya di Indonesia berkat Consummer Marketing dimana mereka yang membuat sebuah komunitas sepeda motor Yamaha bahkan sampai-sampai para teknisi “pinggir jalan” mengungkap bahwa untuk urusan kecepatan nih motor Yamaha emang jagonya sehingga waktu itu banyak anak muda yang gandrung oleh motor sampai ngiler lihat nih yamaha dan yang penting ada statement bahwa apabila yamaha membuat motor pasti bagus karena gampang di modif, bandel, serta Body nya yang keren, bahkan Teknisis yang bukan bengkel resmi pun dapat memperbaiki dan faham akan performa mesin dari yamaha..
    tetapi itu dulu saat ini motor kawasaki juga akan menandingi motor yamaha, hanya saja belum kelihatan, karena di USA sendiri untuk raja jalanan nih merk emang top, dan kabarnya para bengkel jalanan kita juga mahfum dan pahamakan motor ini sehingga pasti akan mendongkrak hanya saja saat ini masih belum kelihatan mungkin kita tunggu saja…

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén