Sang Pemimpi : Bangkitnya Bisnis Kreatif di Indonesia ?

Sang Pemimpi : Bangkitnya Bisnis Kreatif di Indonesia ? Sang Pemimpi : Bangkitnya Bisnis Kreatif di Indonesia ? sang pemimpi4

Creativity is more powerful than knowledge, for knowledge is limited while creativity embraces the entire world (anonym).

Jujur saja ada semburat rasa bangga menyeruak tatkala memandangi antrian film Sang Pemimpi, yang dibesut dua anak bangsa Mira Lesmana dan Riri Riza, di salah satu gedung bioskop di Jakarta terlihat antusias dan terlihat mengular antriannya. Kebetulan sekali, saya sudah mengkhatamkan membaca master-piece tetralogi Novel Andrea Hirata yang sangat memukau, mulai dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov sampai halaman terakhir . Saya sangat menikmati kata demi kata yang dirangkai secara apik dan berkelindan yang disajikan sang penulis. Sebuah novel yang teramat jenial sekaligus menginspirasi, layak untuk diapresiasi.

Melihat antrian yang mengular tadi, sesaat ingatan saya dibawa jaman masih ngekos di Jogya waktu kuliah dulu di dekade tahun 90-an. Ada satu bioskop yang biasa saya sambangi untuk menonton yang pengunjungnya sama mengularnya seperti fenomena di atas, cuma yang ditonton kala itu didominasi film-film Barat, yang sesekali diselingi film Hong Kong yang mengusung tema kung fu dan komedi. Nyaris tidak tersisa ruang untuk film nasional. Kala itu, menonton film merupakan “bisnis” yang tidak kalah seksi dan memikatnya dibanding dengan bisnis kamar kost, restoran/warung makan, penyedia jasa foto copy. Apalagi kalo malam minggu, dijamin deh gak dapat tiket kalo gak ngantri di awal-awal, dijamin pulang ke kamar kos dengan gigit jari…karcis sold out kayak kacang goreng diserbu mahasiswa yang berpacaran di akhir pekan.

Di tengah deru semakin murahnya CD, DVD serta gegap gempita mudahnya menonton film di internet , lewat YouTube misalnya, menjadikan “mengiming-imingi” orang untuk menonton film sehingga mengular seperti ramainya antrian karcis di film Sang Pemimpi bukanlah pekerjaan yang gampang. Setidaknya dibandingkan dengan jaman saya kuliah, ketika semua film yang disajikan pasti ditonton. Kasarnya, ape yang loe jual, gue beli deh, kata teman betawi saya. Sekarang kondisi teramat berbeda, melahirkan film laris-manis (box office) yang ditonton lebih dari 1 juta penonton, pastinya ndak bisa memproduksi film dengan asal-asalan dan semau gue.

Simak beberapa contoh film Nasional yang digarap secara serius dan penuh totalitas yang mampu menggebrak penonton di atas 1 juta. Misalnya Ada Apa Dengan Cinta (2,2 juta tiket), Nagabonar Jadi 2 (1,3 juta tiket), Eiffel I’m in Love ( 3 juta tiket), Garuda Di Dadaku (1,4 juta tiket) dan tentu saja dua buah film fenomenal yang sidang pembaca blog Manuver Bisnis mengetahuinya, Ayat-Ayat Cinta (3,4 juta tiket) dan Laskar Pelangi (4,5 juta tiket). Dengan rata-rata 8-10 film dirilis per bulannya demikian pula jaringan distribusi film dikuasai single player, menjadikan labirin bisnis film di tanah air terasa “unik” sekaligus ketat persaingannya. Apa kiat yang dibentangkan manajemen film Sang Pemimpi sehingga mampu menciptakan penonton dengan antrian yang mengular?

Memang, tidak ada sebuah obat yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit, tapi saya melihat “pembelajaran yang memikat” yang bisa kita kail dari manuver bisnis yang diracik oleh manajemen film Sang Pemimpi.

Pertama, ada passion kreatif di dalam pembuatannya. Di semua lini bisnis, “kreatifitas” merupakan mantra dahsyat yang perlu dilafalkan dengan sungguh-sungguh. Apalagi bisnis film yang notabene sarat dengan “norma-norma” kreatif yang kental. Film ini dibangun dari passion kreativitas yang tinggi. Bisa dilihat konsorsium kreatifitas yang dibangun penulis Andrea Hirata, produser Mira Lesmana, dan sutradara Riri Riza mempersembahkan energi dan passion-nya untuk itu. Ada semburat “bekerja dengan cinta” terpancar. Antrian yang mengular di loket tiket adalah “ekses” dari passion itu, bekerja dengan cinta.

Kedua, ada unsur realitas yang disodorkan sangat pas dengan kondisi pemirsa dan kondisi realitas masyarakat pada umumnya. Kalau boleh saya sebut mengandung “me-too feeling”. Kisah Ikal dan sepupunya Arai mengejar sekolah ke Jakarta sampai ke Sorbonne University, Perancis dengan kondisi keuangan yang serba mepet dengan berjuang mendapatkan beasiswa, mewakili betul realitas “mahalnya” mendapatkan pendidikan yang layak di Republik ini. Tetapi dengan semangat baja, persistensi yang kuat, “impian” itu tergapai. Walaupun sibuk mengejar studi, balutan unsur menghibur (entertaining) tetaplah disodorkan dan tersaji, seperti Arai “Simpai Keramat” yang mengejar-ngejar “cinta” Zakiah Nurmala, atau kenakalan “lumrah” ala anak sekolahan sehingga dikejar-kejar gurunya. Pokoknya, penonton dibuat “tersenyum simpul” serta mengakui bahwa fenomena yang digelindingkan itu sering muncul di sekitar mereka (membumi).

Terakhir, menyadari film adalah sebuah “industri”, tim manajemen film ini tetap mengusung aksi promosi di radio, televisi, press release, menggandeng sponsor dilakukan dengan tetap menggunakan kaidah-kaidah pemasaran sebagaimana laiknya. Walaupun kuat di ide cerita, penggarapan film tapi alpa mengeksekusi “pemasaran”-nya, saya pikir tidak bakalan ada barisan penonton yang mengular atau sederetan sponsor yang “bersedia” mensponsorinya. Sangat Well-prepared. Wajar kalau banyak yang antri menonton film ini, tinggal kita lihat berapa jumlah tiket yang terjual untuk film Sang Pemimpi kelak.

Apakah ramenya penonton akan menjadi pertanda bangkitnya bisnis kreatif, khususnya film di Indonesia?

credit photo : anggita-cinditya.blogspot.com

Previous

Agar Tidak Gulung Tikar di Bawah 5 Tahun Pertama

Next

Belajar dari “Sarari-Man” ala Jepang

11 Comments

  1. Template blog kamu ini mungkin perlu diganti….yang sekarang kelihatannya kurang friendly. Diganti yang lebih segar dan elegan.

  2. Salam Super –
    salam hangat dari pulau Bali-
    kunjungan balik dari saya,semoga sukses selalu…
    saya juga sangat senang sebab film itu bercerita tentang realitas dan bukan film yang glamour.yang jauh dari kenyataan masyarakat kita…

    • @Andry Sianipar: sepakat saya juga jenuh lihat film Indonesia yang terlalu mengedepankan kemewahan, yang terkadang sangat jauh “mengawang-awang”…..salam hangat juga dari kayu Putih

  3. Sekali lg ini membuktikan bahwa film yg berlatar belakang ekonomi kelas menengah jauh lebih artistik ketimbang film yg mengangkat ekonomi kelas atas & gaya hidup mewah.
    Sang pemimpi telah membuktikannya lewat kesederhanaannya.

  4. Salam Sukses****
    Indonesia Raya, Indonesiaku.
    Kunjungan balik dari saya, film ini sangat memberikan dorongan motivasi buat saya untuk meraih mimpi.

  5. @DonnyOktavianSyah, kok ga pake dot com?

  6. danny hatta ekonomika 96

    tahun 2004 kali ya, saya bekerja sambil belajar dari seorang teman yg kbtln seorang programer acara tv yg lumayan kondang trutama stlh acara2 tvnya selalu diatas rating 2,0 (aku blum dong tp ktnya segitu itu sgt tinggi 😀 ), sambil bekerja, belajar dan nguping2 dr mereka, kira2 kasus dan tricknya begini. bbrp individu sjk tahun 2000an terutama setelah bisnis hiburan anak muda mulai marak dgn bejibunnya tv swasta (dan tv kabel) lokal-nasional, internet, menemukan bisnis baru yg sebetulnya tidak mereka sadari omzetnya bisa jadi sangat besar. yg mereka kuasai adalah link, hubungan very personal serupa teman ngobrol, maaf kalau terlalu panjang, satu orang saking gaulnya dia punya teman dibidang (produser acara tv, artis, sutradra, kameramen, desainer grafis, video editor, penulis atau sekarang menjelma dgn nama copy writer, fotografer komersial-jurnalistik-art, rumah mode, model, peragawati, distro, klub2 teater mahasiswa jakarta dan daerah lain, politikus atau anaknya, Pejabat tinggi Pemerintahan TNI Polri atau anaknya, pengusaha atau staf tinggi perusahaan besar kalau bisa dr bagian promo,) dll mungkin aja ada yg kelewatan. Orang ini setelah hitung menghitung memberikan proposal biaya sebesar plg tdk 4 milyar rupiah untuk satu rantai promosi yg disebutnya sebagai manajemen gossip. Org ini mmg sgt skillfull dan berpengelaman, dlm tempo 30 menit (pernah juga cuma 2 menit) satu kali ngobrol dia sudah lsg bisa menyebutkan apa judul promo, tag line promo, jenis2 promo yg sebaiknya diambil, rancangan triler film, talkshow tv, radio, pembuatan website, treatment facebook(ini baru), dan diakhir diskusi dia biasa mengakhiri dengan kalimat ini, “pokoknya elu tinggal merem aja, gue suka’ film elu, gue urusin semua promonye, 3-4 bln time line ampe elo tayang perdana dibioskop”. waduh trik selanjutnya panjang banget pokoknye om, ntar aja kalo situ kejogja kita ngobrol2 ha3 😀 cape’ jg ngetik.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén