Rustono : Raja Tempe di Negeri Samurai

Rustono : Raja Tempe di Negeri Samurai Rustono : Raja Tempe di Negeri Samurai temperustono

Kalau Anda pernah menyambangi Jepang, apalagi di kota-kota industrinya seperti Tokyo, Nagoya, Osaka. Bersua dan bertemu dengan orang-orang Indonesia sekarang tidaklah terlampau sulit. Terutama di hari libur dan sabtu-minggu, akan dengan mudah bertemu saudara-saudara kita yang ikut program magang kerja di Jepang. Sudah banyak organisasi yang mengirim program magang ke Jepang, yang terbesar dan mempunyai sejarah panjang diantaranya adalah program magang dari IMM. Kalau Anda menyambangi daerah stasiun Ueno di Tokyo, di sekitar stasiun Nagoya di hari Sabtu dan Minggu kemungkinan besar untuk bertemu semakin besar.

Demikian pula, kalau Anda menyambangi kantung kampus-kampus tertentu di Jepang yang terutama sekali punya kelas program internasional (pelajaran ditawarkan dalam bahasa Inggris) seperti di Ritsumeikan daigaku di Oita, Beppu, di International University of Japan (IUJ) di Niigata-ken, atau sekolah bahasa Jepang di Shizuoka-ken, tidaklah sulit menemukan kumpulan orang-orang Indonesia di sana. Wajah-wajah familiar khas Indonesia akan menyapa dengan ramah kalau Anda berkunjung ke tempat-tempat tersebut.

Kalau yang magang atau kerja serta kuliah di Jepang dari Indonesia sudah menjadi pemandangan umum. Tapi masih sulit menemukan profesi orang Indonesia di Jepang untuk hal ini : entrepreneur alias wirausaha. Apakah tidak ada? Sudah mulai bermunculan, tapi tidak banyak. Salah satunya yang cukup popular karena memanfaatkan peluang menjual suatu produk makanan yang disenangi segala kalangan : Tempe. Berbicara Tempe di Jepang, tidaklah afdol kalau tidak menyebut sosok entrepreneur ini : Bapak Rustono yang dikenal sebagai Raja Tempe di Jepang.

Tinggal di daerah Katsuragawa sekitar 30 km dari ibukota lama Jepang, Kyoto, dengan merek Rustoh’s Tempe, Pak Rustono bisa memproduksi 16.000 bungkus per 5 hari dengan per bungkus beratnya 200 gram. Konsumennya kebanyakan orang Jepang yang sangat menyadari betapa “sehatnya” mengkonsumsi tempe. Jadi gak bener ya, ada orang bilang “orang bermental tempe” 🙂 Dari usaha rumahan itu, beliau sekarang sudah menjadi usaha pabrikan, bahkan hebatnya sudah membeli tanah seluas 1000 m persegi untuk membangun pabrik tempe di Jepang (harga tanah di sana mahal gak murah lho). Tak heran kesuksesannya ini menjadikan beliau sering diundang untuk bicara tentang Tempe di kalangan akademisi.

Perjalanan panjang untuk sampai level seperti ini tidaklah gampang, mulai dari menyesuaikan faktor kelembapan Jepang yang sangat berbeda dengan Indonesia untuk fermentasi kedelai, sampai mendapatkan izin produksi makanan Jepang yang terkenal cukup njlimet serta membutuhkan serangkaian rentetan penelitian laboratorium Jepang untuk bisa lolos produksi. Ini semua berkat daya juang yang tidak mengenal lelah dan persisten yang merupakan prasyarat mutlak menjadi seorang entrepreneur sejati. Sekarang beliau sedang merencanakan untuk menaikkan level produksinya di angka 10.000 bungkus per lima hari. Sebuah rencana besar yang layak untuk diapresiasi, sekaligus meneguhkan posisinya yang tidak tergoyahkan di sebagai Raja Tempe di Jepang. Sebuah gebrakan yang menggetarkan !

Melihat kesuksesan Pak Rustono, saya jadi ingat banyaknya orang Turki yang bermukim di Jerman dan berhasil dan gigih menjadi entrepreneur-entrepreneur tangguh. Awalnya mereka didatangkan oleh Jerman sebagai supporting blue collar. Bagi yang pernah menyambangi Jerman sekarang, bukan hal yang sulit menemukan usaha, toko dan kantor yang dikendalikan orang-orang Turki. Yang paling telanjang adalah kebab doner yang dijajakan di jalanan di Jerman menyajikan makanan seperti burger yang diisi irisan daging kambing atau ayam kalkun dengan ditaburi saus dan potongan bawang. Tidak hanya orang Turki saja pembelinya, tapi orang Jerman pun ramai ikut antri terutama jam makan siang. Rata-rata penjualnya adalah orang-orang Turki. Kebetulan saya pernah mencicipinya, kayaknya lidah orang Indonesia bisa masuk 😀

Kalau orang Pak Rustono saja bisa menggarap pasar Jepang, rekan kita dari Turki meramaikan roda ekonomi di Jerman. Masak kita tidak bisa? Bukan hanya monopoli orang Jepang saja yang bisa menggarap pasar Indonesia bukan ??? seperti di industri mobil dan elektronik. Saatnya orang Indonesia pun mampu berkiprah menggarap pasar Jepang. Jangan cuma mengekspor tenaga kerja semata.

Sungguh hal ini adalah masalah mau atau tidak mau. Bukan masalah bisa atau tidak bisa. Tertarik mengikuti jejak Pak Rustono si Raja Tempe?

*Tulisan ini didedikasikan untuk rekan-rekan Indonesia yang saya kenal maupun tidak yang sedang mati-matian menjadi “entrepreneur sejati” di luar negeri. Salut dan angkat topi untuk mereka semua, doa untuk kesuksesan untuk mereka semua. God Bless you !

Credit Photo : Warung Indonesia Kumamoto

Previous

Menyalip di Tingkungan ala Penantang Pasar

Next

One Heart : Serangan Balik Sang Pemimpin Pasar

2 Comments

  1. wah..luar biasa ya.smg bs nyontoh 🙂 hehehe..wkt itu pernah diliput salah satu TV jg cerita ini..inspiratif mas donny 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén