Reverse Brain Drain dan Entrepreneur

Reverse Brain Drain dan Entrepreneur Reverse Brain Drain dan Entrepreneur brain drain whatwhat2
Hari Sabtu lalu saya diundang sharing di komunitas rekan-rekan Indonesia yang ada di kota Duisburg, sebuah kota kecil dekat kota besar Dusseldorf, sekitar 1 jam naik kereta api dari kota Bonn. Walaupun musim panas, cuaca dingin masih cukup “menggigit”. Dengan ditemani sayunya mendung dan sergapan angin dingin, kita memasuki stasiun Duisburg. Dua orang berwajah “melayu” diantara rame-nya kerumunan orang-orang bule berwajah tegang dan super serius di stasiun, menyapa dengan penuh kekeluargaan. “Mas Donny….?”, sapanya hangat. Ternyata mereka adalah rekan-rekan dari komunitas Indonesia Duisburg yang menjemput kami dengan hangat.

Ada sekitar tiga puluhan-an rekan-rekan Indonesia yang datang di siang itu, rata-rata didominasi para mahasiswa program doktoral dan master di bidang teknik dan IT, sebagian kecil mengambil program sarjana dan komunitas Indonesia yang bermukim dan berkeluarga di sana. Walaupun di Jerman, nuansa ber-atmosfer Indonesia tercium teramat pekat. Aroma hidangan sate padang, empek-empek, lontong sayur dan beberapa kudapan khas Indonesia yang tersaji terasa merayu-rayu mengundang rasa .

Topik yang disodorkan ke saya adalah mengenai Peran Penting Entrepreneur. Di depan para peserta yang rata-rata mempunyai “kecerdasan” di atas rata-rata, walaupun tidak semasif rekan-rekan dari India dan China, mereka adalah “human capital flight“. Banyak dari mereka yang belum lulus saja sudah “dipinang” dan magang di beberapa perusahaan di sana. Sejatinya, kemampuan mereka akan sangat bermanfaat jika kompetensi mereka disumbangkan di tanah air. Tetapi sepertinya lemahnya infrastruktur di tanah air, dan beberapa “pekerjaan” tertentu tidak/belum mendapatkan tempat di Indonesia, menyebabkan mereka memilih untuk bermukim di sana. Terjadi sebuah brain drain mini ke Jerman (fenomena yang hampir sama terjadi juga di Jepang, Australia dan beberapa Negara maju lainya).

Untuk kasus India dan China, sudah ada beberapa para brain drain ini diundang “pulkam” (pulang kampung) oleh pemerintah dan sebagian pulang karena keinginan sendiri membaktikan kemampuannya di tanah air. Di Amerika Serikat, dimana para pekerja yang bekerja di sektor IT didominasi warga keturunan India, bahkan di banyak universitas sudah banyak Professor pengajarnya berkebangsaan India pada mulai pulang kampung (reverse brain drain). Dugaan saya, Sektor IT Amerika yang memperkerjakan banyak orang terdidik dari India seperti Google, Yahoo bakal kewalahan kalau reverse brain drain warga Negara India ini berlangsung masif dan berkelanjutan. Hal yang sama dilakukan oleh pemerintah China yang beramai-ramai mengundang balik para jagoan intelektualnya untuk berkiprah di tanah airnya dengan memberikan dihujani serangkaian “kemudahan fasilitas”.

Terus apa hubungan reverse brain brain dengan topik Entrepreneur yang saya introdusir di komunitas Indonesia di kota Duisburg tadi? Harus kita akui pemerintah kita agak sedikit “terlambat” menjemput bola dalam hal ini. Tapi berharap pemerintah akan berlaku aktif seperti yang dilakukan oleh pemerintah India dan China dalam waktu dekat agaknya belum memungkinkan melihat keterbatasan yang dimiliki pemerintah terutama masalah pendanaan.

Tapi dengan kemampuan yang dimiliki, “orang-orang pilihan” ini, saya mengajukan beberapa opsi untuk bisa memulai “membisniskan” kemampuannya di tanah air dengan cara membuka usaha mandiri (entrepreneur). Makna usaha mandiri disini tidak mesti semuanya dimulai berbisnis dari kocek sendiri. Bisa melakukan aliansi bisnis maupun diretas sendiri.

Yang penting jangan sampai kepulangan ke Indonesia nantinya hanya untuk melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan, karena dengan kemampuan di atas rata-rata, kemungkinan besar untuk mendapatkan pekerjaan dengan melamar pekerjaan amatlah besar. Tidak salah sih bekerja di perusahaan-perusahaan besar yang ada di Indonesia, tetapi “nilai lebih” bisa terengkuh manakala para brain drain made in Indonesia ini meretas sebuah institusi bisnis yang berbasis kemampuannya.

Seorang Dr.Nurul Taufiqu Rochman, pakar nano Indonesia jebolan Universitas Kagoshima dari Jepang sebenarnya bisa saja “hidup enak” di luar negeri. Tetapi dia pilih pulkam ke Indonesia dan berhasil “membisniskan” kemampuannya, sekaligus membuka lapangan kerja di negeri tercinta. Tercatat beberapa alat nano yang diciptakan dan dipesan oleh perusahaan-perusahaan luar negeri . Sebuah langkah yang perlu diapreasi.

Ditunggu kiprah para brain drain ini……Indonesia menunggu aksi Anda.

Credit Photo : What What@flickr.com

Previous

Mengendus Potensi Bisnis Agro di Jerman

Next

Your Job is Not Your Career

2 Comments

  1. Miedha

    Great !!! Sebuah idealisme yg sangat nasionalis. Saya sangat support usaha mas donny untuk terus mendorong para brain drain kita ini agar mulai menumbuhkan jiwa entrepeneurnya demi kemajuan negara kita sendiri… Sukses selalu 🙂

    Salam,

    -Miedha Aromatherapy-

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén