Plus Minus Implementasi ERP Plus Minus Implementasi ERP erp2“Gimana gak stress Pak”, ujar seorang kawan agak magsyul. “Tiap hari saya rekap manual transaksi untuk beberapa cabang beberapa kali dalam sehari”, tambahnya jengkel. “Kalau sudah begitu, bisa dipastikan kita kerja lembur untuk sebuah pekerjaan yang berulang”, semburnya uring-uringan. “Lho emang dengan transaksi sebanyak itu, inputnya masih belum single entry?”tanya saya heran. Belum implementasi ERP ya ?

Di era informasi yang serba cepat, salah satu penentu kegemilangan bisnis adalah penerapan IT secara tepat yang mengedepankan kecepatan dan mereduksi “day-to-day activities” yang terkadang masih membayangi dalam bisnis. Salah satu tool untuk hal itu adalah menerapkan aktivitas bisnis konvensional dengan implementasi yang dikenal dengan sebuah sistem yang dikenal sebagai ERP (Enterprise Resource Planning). Perusahaan yang sudah beranjak “dewasa” dengan transaksi cukup komplek per harinya, disisi lain tuntutan informasi real time untuk pengambilan strategis adalah hal yang penting, maka tidak bisa lagi roda bisnis digelindingkan dengan sistem bisnis konvensional nan sederhana.
Setidaknya dengan diterapkan ERP, perusahaan akan akan memperoleh manfaat kunci, antara lain pengulangan input terhadap data transaksi bisa dieliminir (double job), data real time bisa lebih cepat didapat, paperless documentary, integrity data dimana keamanan data terjadi sesuai dengan level otorisasi, dls. Singkat kata penerapan ERP yang meningkatkan daya saing sekaligus mengunduh efisisensi dan efektivitas menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi. Walaupun menerapkan ERP juga tidak berarti dengan serta merta daya saing meningkat, karena tingkat kegagalan-pun menjadi besar kalau faktor utama yang menunjang implementasi tersebut tidak berjalan.
Faktor-faktor penunjang itu diantaranya:
Pertama, faktor SDM yang akan “mengemudikan” proyek ini harus siap merubah gaya kerja “konvensional”. Kalau tidak, para pekerja yang sudah disibukkan dengan pekerjaan rutin serta tidak mempunyai banyak waktu untuk “belajar” atau ikut training akan melihat implementasi ERP ini hanya menghadirkan kerepotan baru yang membuat pekerjaan menjadi lambat. Walaupun program ERP menelan dana yang tidak sedikit ini akan berakhir menjadi sebuah kemubaziran kalau para SDM yang terlibat didalamnya enggan merubah pola kerja lamanya. Pada titik ini, menghadirkan budaya selalu belajar dalam perusahaan akan membantu mempercepat proses implementasinya program ERP ini.
Kedua, cara kerja ERP membutuhkan dukungan teknologi tinggi yang memadai. Artinya butuh pengadaan yang relatif besar di awal dalam rangka memuluskan program ERP. Oleh karenanya peran manajemen puncak untuk “merestui”implementasi ERP di dalam perusahaan menjadi hal penting. Karena ada dana yang dikeluarkan cukup lumayan agar implemetasinya dapat berjalan dengan baik.
Ketiga, biasanya akan timbul resistensi terhadap penerapan ERP ini dari orang-orang tertentu dalam perusahaan jika ERP ini diterapkan. Misalnya karena takut pekerjaannya berasur-angsur hilang karena “digantikan”sistem baru ini. Atau malah orang-orang dalam perusahaan yang “takut”ketahuan karena melakukan pekerjaan yang merugikan perusahaan. Nah, kalau hal ini terjadi perusahaan harus bersikap tegas agar orang-orang yang apatis mengimplementasikan ERP, karena merupakan sebuah indikasi keengganan yang membahayakan kinerja perusahaan dikemudian hari.
Jadi kalau ERP bisa sukses diterapkan di perusahaan Anda, pastikan usaha-usaha untuk “mengamankan”faktor-faktor penunjang di atas bisa berjalan baik di perusahaan Anda. Sebab kalau tidak hal itu akan menyumbang kekacauan dalam perusahaan. Bagaimana proyek implementasi ERP di tempat Anda?