PLN Menjadi Perusahaan Kelas Dunia 2012

PLN Menjadi Perusahaan Kelas Dunia 2012 PLN Menjadi Perusahaan Kelas Dunia 2012 pelatihan pln1

Saya juga menulis CEO Note untuk karyawan bahwa sekarang kami punya ‘teman baru’ namanya antusiasme. Jadi semua harus bersemangat untuk berubah” (Dahlan Iskan, CEO PLN).

Ada semburat semangat menyergap yang begitu terasa ketika yel-yel para peserta didengungkan ketika saya hendak memulai pelatihan yang akan diadakan “perusahan setrum raksasa” di Republik ini, PLN (Persero). Hawa dingin nan sejuk yang ditingkahi hujan gerimis rintik-rintik di kawasan perkemahan di kawasan Jatinangor mendadak terasa hangat oleh gemeruh ratusan yel-yel para peserta. “PLN Bangkit !!”, seru moderator. “Yesss…!!!!”, pekik seratusan peserta tidak mau kalah. “WCS 2012…”Balas sang moderator kembali. “Luar..Biasaaaa,” Jawab peserta tidak kalah antusias.

WCS yang diteriakkan moderator tadi merupakan kepanjangan dari World Class Service (Perusahan Berbasis Jasa Kelas Dunia) yang dicanangkan oleh PLN untuk bisa direngkuh di tahun 2012. Sepertinya, di tengah aroma globalisasi yang menyengat tajam, tak ada pilihan lain bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia, termasuk PLN untuk berusaha meraih kesejajaran dengan perusahaan-perusahaan kelas dunia, sebagai world class company. Pelatihan yang dilakukan seperti yang dipaparkan di atas merupakan bukti geliat persiapan menjadi perusahaan kelas dunia mulai ditularkan ke semua lini karyawan. Sebuah langkah yang patut diapresiasi, karena menurut informasi, semua APJ (Area Pelayanan dan Jaringan) di lingkungan PLN di Jawa dan Bali akan dipersiapkan untuk itu.

Jelas langkah memposisikan menjadi perusahaan kelas dunia kalau sekedar untuk menjadikan sekedar “gagah-gagahan” akan menjadi blunder dan kontra produktif. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, PLN harus bisa merengkuh “indikator-indikator “ atau melampaui passing-grade yang biasanya harus dilewati ketika perusahaan ingin ditahbiskan menjadi perusahaan kelas dunia. Sebagai “orang luar”, saya melihat beberapa karakteristik di bawah ini harus bisa ditradisikan di lingkungan PLN:

Pertama, semua jajaran yang di PLN harus mulai mentradisikan untuk bekerja dengan kompetensi tinggi. Kompetensi tinggi yang dimaksud tidak hanya berorientasi pada dimensi internal, tetapi juga mengacu pada dimensi eksternal. Misalnya Saifi dan Saidi yang ingin direalisasikan harus juga di-benchmark dengan mengacu perusahaan sejenis yang sudah menjadi perusahaan kelas dunia, tidak sekedar target Saifi dan Saidi yang ditetapkan stakeholder internal (standar dari Direksi dan pemegang saham semata). Jadi area yang biasa menjadi daerah byar-pet harus direduksi sehingga tingkat Saifi dan saidi membaik.

Kedua, tradisi akan budaya kualitas harus mulai diinjeksikan. Hal ini menyangkut juga kebiasaan seenaknya yang acapkali “dipertontonkan” jajaran PLN dalam menservis pelanggan. Sebagai pelaku yang dominan yang nyaris tidak mempunyai pesaing, bukan rahasia lagi PLN agak kedodoran menerapkan hal ini. Pelatihan sekaligus evaluasi secara teratur diharapkan akan bisa mengurangi budaya menservis ala kadarnya yang pantang dilakukan perusahaan yang menggelorakan menjadi perusahaan kelas dunia. Pokoknya kesan lamban, tidak efisien, dan sulit berubah yang selama kerapkali dirasakan ketika memasuki atmosfer PLN harus bisa dihilangkan kebiasaannya.

Ketiga, tradisi inovatif dan kemampuan beradaptasi juga menjadi kebiasaan berikutnya yang harus dicangkokkan. Misalnya untuk menggerakkan listriknya, pembangkit listrik yang digunakan tidak melulu harus berbasis gas atau solar. Tetapi mulai dipikirkan misalnya penggunaan pembangkit yang basis-nya menggunakan energi sinar matahari. Karena sebagai Negara tropis, panasnya sinar matahari sangat potensial untuk itu. Pastinya lebih efisien, karena melimpah ruah di Indonesia. Tetapi hal ini tidak akan tercapai, bila tradisi inovasi ini tidak disebarkan di lingkungan PLN secara masif.

Kalau ketiga pilar di atas mampu ditradisikan di lingkungan PLN, saya pribadi yakin World Class Service yang didengung-dengungkan tidak hanya menjadi slogan semata. Apalagi momentum sekarang, saatnya sangat tepat, karena kepemimpinan yang memegang tampuk pimpinan PLN, dipegang oleh Bapak Dahlan Iskan, mantan Bos Koran Jawa Pos grup yang notabene berpengalaman menahkodai ratusan perusahaan. Apalagi belum masuknya “tekanan” dari luar untuk masuknya perusahaan listrik sejenis dari luar negeri beroperasi di Indonesia, memungkinan PLN untuk berlari “mencuri start” berlari kencang lebih dulu.

Sebagai orang Indonesia tulen, saya termasuk yang merindukan masuknya perusahaan-perusahaan di tanah air masuk jajaran perusahaan kelas dunia yang sejajar dengan perusahaan lain dari luar negeri. Itu pasti membanggakan, dan PLN pasti bisa…….kita semua di Republik ini menunggu “berita baik” itu.

Credit Photo : Larisya

Previous

Menginjeksi “Can Do Virus” dalam Berbisnis

Next

Kachou, Entrepreneur Maker dan China

6 Comments

  1. hery hariyanto

    apa hal tersebut merupakan konsep ‘learning organization’ mas…sampai saat ini yg dpt sy rasakan di org. publik adalah kendala budaya org. misal manajemen waktu,sumberdaya yg krg dikelola dg baik..sdh sejak lama diketahui bahwa ABS, kolusi & nepotisme menjadi sbh kewajaran…kira2x bgmana menangani permasalahan mendasar tsb..?

    • @ Hery Hariyanto : Betul Mas itu merupakan pilar konsep learning organization. Analisa Mas Hery benar, lemahnya pengelolaan SDM bisa sedikit tereduksi kalau proses “learning organization” bisa diterapkan. Karena ada pengkondisian untuk “belajar bersama”, jadi akan timbul kesadaran untuk “bekerja” yang lebih baik.
      Mengenai ABS, kolusi dan nepotisme…..kalau saya bilang reward dan punishment management harus mulai diberlakukan, tanpa pandang bulu. Sehingga orang berpikir 2 kali sebelum melanggar. Hal di atas tumbuh subur karena lemahnya penerapan reward dan punishment diterapkan tanpa reserve.

  2. rdika

    Saya tentu saja sangat mendukung harapan dan tekad luhur dari perusaahan publik ini. World Class Servis, untuk perusahaan sekelas PLN adalah suatu keharusaan yang tidak bisa ditunda.

    Apa yang terjadi kalau seandainya masalah paling dasar yaitu supply listrik tidak mencukupi, menejemen yang amburadul ataupun servis yang ala khadarnya ? Jawabannya akan menjadi sangat panjang. Tanpa ada pasokan energy yang namanya listrik, sepertinya “kemajuan” yang diidamkan oleh banyak, baik bisnis, pendidikan, teknologi atau apalah jenisnya, akan menjadi teramat susah atau bahkan tidak berlebihan kalau dikatakan mustahil untuk diraih.

    Beruntung, transportasi trem dan kereta api listrik sangat tidak populer di negara kita sehingga permasalahan ini tidak terlalu kentara. Namun masalahnya, transportasi model baru yaitu mobil listrik, saya percaya hanya tinggal menunggu waktu saja. Di negara orang, beberapa tempat parkir seperti di mini market sudah mulai dibangun colokan listrik untuk charge mobil. Atau mungkinkah di negara kita, nasibnya akan sama dengan angkutan masal dan murah yaitu trem, menjadi tidak populer karena alasan listrik ?

    Tahun 2012, sudah sangat dekat yaitu cuma 600an hari lagi. Tenggang waktu yang sangat pendek tentu saja namun saya tetap percaya harapan menjdai Perusahaan Berbasis Jasa Kelas Dunia pasti bisa diwujudkan. Dan mudah mudahan “dunia” yang dimaksud bukanlah dunia ke 3 . . . Salam

    • @Keranjang Kecil : Ulasan yang menarik Mas….insightful,perusahaan seperti PLN ini terlepas dari problem yang membelitnya, kita harus mendukung “sekecil” apapun progress yang dibuat.
      Mudah-mudahan Mas bukan “dunia ke-3” yang disitir Mas…..trims Mas

  3. rdika

    Mas Donny yth. Mohon di edit Mas :

    nasibnya akan sama dengan trem, angkutan masal dan murah ini menjadi tidak populer karena alasan listrik ?

    menjadi :
    nasibnya akan sama dengan angkutan masal dan murah yaitu trem, menjadi tidak populer karena alasan listrik ?

    Tulisan sebelumnya berkonotasi mobil listriknya yang murah. Trim’s

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén