Pindah Kuadran : Harus Menunggu Berumur Dulu-kah?

gmbr flicker Pindah Kuadran : Harus Menunggu Berumur Dulu-kah? Pindah Kuadran : Harus Menunggu Berumur Dulu-kah? gmbr flicker Beberapa saat lalu, dalam sebuah mailing list yang saya ikuti, seorang kolega yang kebetulan bekerja di salah satu perusahaan otomotif perusahaan besar di Republik ini bermaksud pindah kuadran dengan berbisnis sendiri. Akan tetapi sepertinya, dia mengalami sedikit dilema dalam memutuskannya. Sehingga dia sempet mewacanakan isu ini ke mailing list, jadi rame mailing list full pro dan kontra. Salah satu isu atau alasan yang mengemuka adalah kalau toh harus pindah kuadran, menunggu berpengalaman dulu-kah baru mengundurkan diri atau segera mengundurkan diri.

Diakui atau tidak, dalam masyarakat kita, memilih berusaha sendiri (building own business) setelah lulus kuliah/sekolah masih dianggap “kurang wah” dan acapkali  dicibir sebagai bukti kegagalan masuk bursa kerja, dengan kata lain gak punya kompetensi babar blas ( celakanya lagi terkadang dinilai “bego”). Lebih mentereng kalau diterima kerja di  jajaran perusahaan yang namanya familiar di telinga atau iklannyan bolak-balik kayak seterika muncul di TV atau Radio. Orang tua bakal menceritakan dengan nada bangga dengan berulang-ulang dan mata berbinar-binar bila anaknya bekerja di perusahaan “X” misalnya, ketimbang anaknya memutuskan untuk mengibarkan bisnis sendiri (meskipun perusahaan X tadi sahamnya terjun payung bebas di Wall Street baru-baru ini). Menyedihkan sekali !!

Kembali ke cerita tadi, kalau pilihan pindah kuadran akan dilakoni, menunggu punya pengalaman memadai atau segera? Pendiri FedEx, Fred Smith yang sempat mencicipi kuliah di Yale University, dan dimata kuliah Business Plan, dia mengumpulkan tugas model bisnis yang dipakai FedEx sekarang, tapi mendapat nilai “C”. Akan tetapi Fred berketetapan tetap mengibarkan bisnis FedEx dari usia muda. Cerita lain, William Hewlett  dan David Packard yang memulai bisnis HP dari garasi, segera mengibarkan bisnis segera setelah lulus dari Stanford. So what?

Sepertinya tidak ada korelasi signifikan antara berumur dengan pindah kuadran mengibarkan bisnis sendiri. Walaupun dalam derajat tertentu pengalaman dengan bekerja lebih dulu akan memberikan insight tentang business model tertentu. Tetapi haruskan berlama-lama sehingga harus menunggu “berumur”. Sejatinya ada beberapa “nilai lebih” yang direngkuh, bila mencemplung membangun kerajaan bisnis sendiri di usia relatif muda:

Pertama, terkadang kolega bisnis yang sudah senior biasanya “harapan” terhadap mitra bisnis yang muda tidaklah”setinggi” kalau bermitra dengan  perusahaan yang sudah established. Pengalaman penulis ketika mengibarkan bisnis di awal-awal, terkadang servis yang kita deliver ke klien tidaklah sepenuhnya memuaskan, kolega bisnis lebih bisa “memahami” dan “memaklumi”-nya. Asal jangan under-performance saja, itu lain masalah.

Kedua, Mengibarkan bisnis di masa muda biasanya otak kita masih fresh, perspektif lebih luas, dan energi masih enerjik. Ini adalah modal awal yang kalau terlambat diambil, tidak bisa ada diambil mundur. Ekspoitasi bisnis terkadang bisa beyond–expectation. Fakta membuktikan pendiri Yahoo, Microsoft, Dell, FedEx menginisiasi bisnis sendiri pada usia yang relatif muda.

Ketiga, terkadang tidak mesti cerita bisnis berakhir dengan cerita penuh kesuksesan. Kegagalan tak jarang menghampiri. Kalau terpaksa gagal di usia muda—tanpa bermaksud menggantungkan orang tua, “kiriman” masih ada. Apalagi ketiga memulai bisnis sendiri biasanya belum mempunyai tanggungan keluarga. Kegagalan meretas bisnis sendiri tidak akan berimbas pada periuk nasi keluarga.

Demikian pilihan untuk menjadi kepala kucing daripada menjadi ekor seekor singa sudah menjadi ketetapan hati, janganlah berpikir untuk menundanya lagi. Tetapi keputusan untuk itu tetaplah kembali kepada Anda.

Photo credit by : shadphotos@flickr.com

Previous

Performance-based Leadership for Managers/Supervisors

Next

Indonesia Top CEO Wisdom: Precious Lesson

8 Comments

  1. sinta damayanti

    Pertama dalam otakku… aku salut banget punya temen yang kritis dan luar biasa… dari beberapa artikel aku sedikit terperangah mengenai marketer jepang.. di Indonesia saja utk sekelas penjaga toko aja ramah kalo customer jadi beli barangnya kalo ngga tau sendiri kan?? apa itu masuk budaya rata2 bgs kita ato krn pendidikan?? aku coba terapin pada wirausahaku yg baru sangat2 small ini utk ikut ngerti kerjaan peg-ku dngn ikut melayani customer yg makan diwrgku emang jadi lebih memahami sekalian mengajarkan peg utk selalu ramah dgn contoh lgs dariku, cuman SDM kita yg rata2 minus pendidikan paling ribet utk ngasih pemahaman tsb mo cari sing radha mlethek sethithik aku gak kuat mbayare.. trus aku mo sedikit curhat.. tapi kalo tak rasa2in bagus juga cuman harus telaten .. gini aku cb tanamkan ke peg-ku untuk merasa memiliki usahanya jadi semacam dia punya saham gratislah.. kalo ada keuntungan ya aku bagiin walo cuman puluhan/ratusan ribu aja.. emang angot2an pas ada untung mrk rajin tp pas lagi seret mrk cm jadi peg aja yng kerja berdasar perintah lagi2 aku hrs nyemangati mrk dgn berbagai gaya spy omset kembali naik, disini aku ikut terjun lgs dengan bikin coupon disc yg disebar ato brosur2 alakadarnya.. ini dah berjalan setahun peg udah mulai pinter sampe mo dibajak d crepes.. tp alhamdulillah dia tdk tergiur krn perkembangan wrg mulai baik aku nambah peg cewek eee la kok baru 3 bln kerja malah peg ku yg pnter dibajak utk diajak nikah sama peg baru tadi.. waduh2.. nyesel aku kok nekake peg sing rodho ayu.. padahal peg pinter td baru menginjak 20 thn … bt..bt… kembali lagi SDM kita masih minus pendidikan jadi kaya aku yg mo jd wirausahawan kecil2an ini…berat utk menyemangati lagi.. cari peg lagi… dst… btw mskasih dikasih kesempatan curhat dan wawasan2.. yg mudah2an lebih banyak lagi dan lgs ke praktisinya (contoh cerita lgs wirausahawan sukses dari nol utk terus menyemangati kita2)

    • @Sinta : Curhat bisnis-nya boleh ini Bu Direktur Restoran he..he..:), ya memang kita sendiri yang kebetulan “terjun” dalam bisnis setelah sebelumnya “ngantor” terkadang mengalami pengalaman yang awal-awalnya hampir mirip seperti yang dialami Ibu Sinta walaupun dengan derajat yang berbeda-beda. Semoga nanti ada sidang pembaca Blog Manuver Bisnis lainnya yang bisa memberikan advis yang lebih tokcer dan cocok, khususnya yang berbisnis di bidang restoran. Jadi nanti solusinya lebih pas. Sedikit informasi saja, dalam Blog ini, khususnya kategori (kanal) Entrepreneur Spirit akan mengulas dan menitikberatkan perbincangan tentang wirausaha, khususnya usaha kecil dan pernik-perniknya.
      Jadi tetap mampir di Blog ini, kita berbagi cerita bisnis yang kita geluti, siapa tahu ada solusi yang bisa dipetik untuk kemajuan bisnis kita bersama. Matur nuwun Ibu Sinta mampir di Blog ini, dan sukses untuk Anda

  2. OFA

    Banyak orang setelah membaca buku “CASHFLOW QUADRANT” Robert T. Kiyosaki, banyak yang ingin berpindah kuadran ke kuadran kanan menjadi Business Owner….tetapi kata Robert Kiyosaki, mereka sebenarnya belum di kuadran B, tetapi masih di kuadran S, karena “SYSTEM” tidak ada, sehingga bila ditinggal pergi usahanya berbulan2, usahanya akan mati, tetapi kalau ditinggal berbulan2 usahanya tetap berjalan, bahkan semakin maju….berarti “system” sudah berjalan dan dia sdh berada di kuadran B….memang dia mempekerjakan Direktur, manager2 dan karyawan2 pendukung lain….itulah business owner.
    Untuk berpindah kuadran ke kuadran B memang tdk mudah, dia butuh modal yang sangat besar, tempat utk usaha, waktu yang khusus, network, dan keahlian yang baik. Kecuali hanya berpindah kuadran di kuadran S seperti buat warung/restoran, toko, small business, klinik, atau konsultan, tdk butuh modal dan keahlian yg besar. Tapi tipe ini hanya mengandalkan keahlian dirinya sendiri, makanya bila dia sakit atau meninggal, maka harus ada orang yang mempunyai keahlian yang sama, sehingga kuadran S masih di sebelah kiri. Kuadran yang tidak aman secara ekonomi.

    Cara yg mudah kalau punya modal adalah membeli salah satu franchise yang baik dan tepat.
    Tetapi kalau Anda tidak mempunyai modal yang besar dan sedikit keahlian dalam membangun “system” bisnis, dan Anda juga takut keluar dari temapt kerja untuk berpindah ke kuadran B, maka…selagi Anda bekerja Anda bisa belajar entrepeneur dengan menjalankan salah satu bisnis personal franchise (MLM), demikian menurut Robert T, Kiyosaki dalam buku “BUSINESS SCHOOL FOR PEOPLE LIKE HELPING PEOPLE”.
    Jadi meurut saya kita harus mulai terbuka dengan bisnis MLM, dan kuncinya mindset harus dirubah. Mindset kita harus berpindah kuadran juga di kuadran B, yaitu membangun system bisnis yg besar dengan membangun sebuah aset, bukan mindset seorang karyawan yg ingin cepat mendapatkan uang dengan jumlah yg tetap tiap bulannya.
    Kalau “mindset” Anda sudah terbentuk, maka “sikap” anda sebagai seorang pembangun aset juga terbentuk, dan Anda pasti akan “melakukan” yang seharusnya dilakukan seorang pengusaha, dan akhirnya Anda akan mendapatkan “hasil” sebagai seorang pembangun aset bukan seorang employee atau self employee.

    http://www.facebook.com/pages/MELILEA-OGY-FEBRI-ADLHA/50174224658

    • @Ogy: Terima kasih mampir Blog Manuver Bisnis, betul sekali ulasan anda….kata-kata yang selalu ingat dari bukunya Robert Kiyosaki “Bagaimana caranya uang bekerja untuk kita, bukan kita bekerja untuk mencari uang”…..ulasan-ulasan selanjutnya ditunggu ya Mas…..

  3. Artikel dan Komentarnya menarik semua.
    “Tapi tipe ini hanya mengandalkan keahlian dirinya sendiri, makanya bila dia sakit atau meninggal, maka harus ada orang yang mempunyai keahlian yang sama, sehingga kuadran S masih di sebelah kiri. Kuadran yang tidak aman secara ekonomi”

    Agar aman atau nilai ekonomis terlindungi, ambilah Asuransi Jiwa,s ehingga nilai ekonomis Anda akan tercapai.
    So mau diKuadran manapun tetap Bisa Kaya, asal Financial Planningnya jalan, baik Investasi ataupun asuransinya.

    Salam sukses selalu.

  4. Miris juga ya dengan keadaan masyarakat yang malah mencibir dan mengatai bego orang-orang yang lebih memilih membangun bisnis sendiri daripada ngantri ngelamar kerjaan.

    Wah kalo begini kudu kuat mental nih…

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén