Petualangan Wirausaha Brilian Richard Branson Petualangan Wirausaha Brilian Richard Branson a crazy global entrepreneur

Kewirausahawan adalah denyut nadi bisnis. Kewirausahawan bukan perkara modal, melainkan perihal gagasan.” (Richard Branson, CEO Virgin Group).

Tidak Banyak yang menyadari kalau nahkoda group bisnis besar satu ini memulai bisnis pertamanya dari industri rekaman. Barangkali di akhir 80-an dan penghujung 90-an, ketika kaset masih menjadi primadona, mungkin diantara kita masih ingat di label kaset yang kita beli tercetak ada label “Virgin Records”. Dan ternyata dirajut dari Bisnis inilah, Sang CEO Sir Richard Branson berhasil membangun imperium bisnisnya hingga menggurita merambah beragam bisnis. Setidaknya ada 7 sektor bisnis yang digelutinya, salah satunya Virgin Galatic, yang mefokuskan traveling ke luar angkasa.

Buku yang mengambil judul The Adventure of A Crazy Global Adventure, lebih merupakan buku yang memaparkan “petualang bisnis” ketimbang “petuah bisnis”. Bagi yang menyukai film action, atmosfernya kurang lebih seperti itu suasananya ketika membacanya. Ada perasaan deg-degan ketika membaca ketika salah satu perusahaannya, Virgin Blue (perusahaan penerbangannya yang bermarkas di Australia) dalam suatu makan jamuan makan dengan seorang CEO penerbangan ditawar 250 juta dollar US, padahal ongkos pendiriannya hanya 10 juta dollar Australia. Tawaran itu ditolaknya setelah hampir semalaman menganalisis serta merapatkan dengan tim-nya, padahal deadline keputusan ditunggu kurang dari 24 jam. Menegangkan!

Atau, saya sempat terkikik geli sembari membayangkan perbincangan di “tempat tidur” dengan salah satu konsultan bisnis kenamaan Mc Kinsey & Co yang menyambangi rumahnya dengan membawa sebuah proposal bisnis. Karena masih mengantuk, akhirnya sang konsultan dipersilahkan menyambangi kamar sang CEO dalam kondisi masih terbalut selimut. Mengobrol sambil terkantuk-kantuk. Singkat cerita, proposal diterima. Yang membuat saya melongo adalah adalah ketika membahas nama jabatan baru yang diduduki sang konsultan tersebut. “lalu apa jabatanmu?” tanya Branson. “Mungkin Direktur Strategi terdengar lebih pas,” jawab sang konsultan. “Baiklah, kami akan mengangkatmu menjadi Direktur Strategi Grup Virgin”, jawab Branson. Sebuah keputusan jauh dari kesan formalitas kaku, tetapi tetap berbasis perbincangan jenial dan berkerangka pikir strategis.

Bahkan ada beberapa cerita, yang saya pikir perlu diimplementasikan oleh perusahaan-perusahaan di tanah air, khususnya para direktur-nya. Misalnya di salah satu maskapainya, dia mengharuskan tim manajemen (Manajer ke atas) untuk keluar kantor minimal sekali dalam 3 bulan untuk menjadi “buruh angkut koper”. Dengan demikian, para “decision maker” itu akan secara langsung tahu dan memahami masalah yang dihadapi di lapangan. Efeknya luar biasa, policy yang dihasilkan tidak pernah menganggap mereka “sebagai buruh rendahan” sehingga mereka lebih loyal dan kokoh ikatan emosionalnya.

Banyak cerita-cerita di buku Branson merupakan rekaman problem, dinamika, tantangan ketika dia berusaha mengibarkan merek Virgin. Tetapi strategi-strategi yang dia introdusir laik dijadikan pembelajaran bagaimana mengelola banyak orang dan mengatur strategi. Misalnya ketika peristiwa 11 September 2001 terjadi yang menyebabkan dia harus merumahkan karyawan-karyawan terbaiknya di sektor penerbangan, ada pesan yang dia comot dari diary pribadinya di buku itu (sebuah kebiasaan yang layak dicontoh, mendokumentasikan hal-hal penting sebelum lenyap dari ingatan). “Kepemimpinan yang bermartabat adalah bagaimana menjelaskan sebaik mungkin dengan tidak emosional, mengapa sebuah keputusan tersebut harus diambil’, kenangnya ketika harus menghadapi masa-masa sulit itu.

Akhirnya, seperti yang saya ungkap di awal, buku ini lebih bercerita tentang petualangan bisnis, khususnya ketika dia mendirikan majalah “student” di usia 16 tahun. Bukan sebuah tulisan yang tersusun runtut dan sequence nan tertata rapi. Alur ceritanya “agak” meloncat-loncat, sering flashback mondar-mandir, tidak teratur. Namun demikian cerita pencapaian 40 tahun menjalankan bisnis dengan segala gemuruh, tepukan dan sorak kekaguman bercampur kesedihan dan kemuraman ketika strategi bisnisnya mengalami kegagalan merupakan pengalaman menakjubkan yang pantang dilewatkan begitu saja.

Sebuah buku yang sangat direkomendasikan untuk dibaca, seorang nahkoda bisnis besar yang gagal meneruskan sekolah menengah atas di usia 16 tahun karena mengidap disleksia (kesulitan mengeja dan menulis), tetapi mempunyai 7 sektor bisnis yang berbeda dengan nilai 7 miliar dollar. Majalah Forbes di tahun 2009 menduduk-kan dia sebagai salah satu orang terkaya dengan kekayaan 36.2 triliun rupiah. “Idenya brilian sekaligus gila”, sanjung majalah Business Week. Sebuah petualangan bisnis yang pertumbuhannya lebih cepat daripada Microsoft, Google dan Amazon.

Selamat menikmati petualangan bisnisnya!

Credit Photo : www.republikbuku.com