Peran  Tsukiai  Dalam Bisnis Jepang Peran  Tsukiai  Dalam Bisnis Jepang tsukiai

Barangkali, sebenar betulnya seorang manajer bernama Kobayashi-san (nama samaran) di perusahaan Jepang yang bergerak di bidang konstruksi tidak menyukai model mobil merk Y. Tetapi karena perusahaan dimana dia bekerja telah “bekerja sama” dan bermitra dengan salah satu perusahaan grup perusahaan mobil Y, hampir semua mobil perusahaan di tempat dia bekerja menggunakan mobil merek Y. Jadi walaupun kasarnya sangat benci mobil Y, tetapi karena hal tersebut, maka suka atau tidak suka semua mobil di perusahaan itu menggunakan mobil Y.

Saya tidak tahu apakah pendekatan bisnis ini hanya hanya terjadi di Jepang atau tidak. Tetapi yang jelas, di Jepang ketika suatu perusahaan membangun kemitraan dengan perusahaan lain baik karena hubungan berbasis mitra antara perusahaan yang memasok dengan perusahaan yang dipasok maupun kemitraan karena hubungan bisnis belaka, misalnya ada perjanjian dengan afiliasi grup maka akan lahir fenomena seperti yang saya paparkan di atas yang dalam istilah Jepang dikenal dengan “tsukiai”. Arti sederhananya berarti menemani, tetapi makna secara dalam hal itu bisa dimaknai dengan membangun hubungan baik jangka panjang.

Dalam pelaksanaan bisnis sehari-hari, tsukiai bisa diartikan untuk “menggunakan” atau “memakai” produk rekanan atau pemasok dikarenakan adanya hubungan baik yang ada. Dulu, di tempat perusahaan saya bekerja di Jepang, karena perusahaan kita memasok peralatan listrik di suatu perusahaan, dapat dikatakan seluruh peralatan listrik dan komponennya di perusahaan saya bekerja tersebut menggunakan barang-barang yang diproduksi perusahaan yang kita pasok. Tentunya ini dilakukan karena tsukiai.

Maka tidak heran, dalam kontek bisnis yang lebih luas, perusahaan-perusahaan Jepang yang beroperasi di suatu negara, entah karena kesamaan bahasa, peran tsukiai sangat menjadi semakin kelihatan terang benderang. Misalnya pengalaman yang saya lihat sendiri, kalau di Indonesia di beberapa perusahaan otomotif Jepang selalu menggunakan jasa advertising kepada sebuah perusahaan advertising Indonesia yang berafiliasi dengan advertising Jepang. Terkadang makna tsukiai pun meluas, sebuah perusahaan Jepang karena perusahaan yang dipasok “berkawan karib” dengan salah perusahaan pembersih kimia tertentu, demi tsukiai , bisa jadi perusahaan yang memasok tadi berganti menggunakan pembersih kimia yang merupakan produksi kawan perusahaan tadi. Jadi secara tidak langsung tsukiai membentuk jaringan pertemanan bisnis yang saling “menghidupi” dan memberi “makan”.

Bagi pemerhati dari luar inner-circle, kesannya jadi pola tsukiai menyerupai sebuah kartel bisnis gurita yang sulit ditembus. Ibaratnya uang hanya “berputar” diantara anggota perusahaan yang tergabung dalam aliansi “tsukiai” tersebut. Kokoh, saling menghidupi, dan sulit ditembus. Acapkali tidak masuk akal, terkadang harga sedikit mahal, tetapi karena ada faktor tsukiai, produk tetap digunakan dan pertemanan tetap dikedepankan. Selain perusahaan Jepang, di Indonesia beberapa perusahaan Korea agaknya juga menganut pendekatan hampir sama, hanya saja istilahnya tidak sama. Di salah satu gerai service mobil bermerek Korea yang saya kunjungi, beberapa perusahaan dari Korea “menghidupi-nya” dengan menyerahkan jasa servis mobil perusahaannya kepada gerai tersebut.

Saya melihat konsep ada nilai positifnya, karena hubungan baik dan saling “menghidupi” ini muncul sifat saling percaya jangka panjang. Jadi secara jangka panjang manfaatnya sangatlah terasa. Tetapi hal ini agaknya belum bisa dipraktekkan perusahaan-perusahaan di Indonesia, saya sering melihat perusahaan di Indonesia sering kali berganti-ganti supplier dalam berkongsi bisnis, dan keputusan itu seringkali hanya diambil karena hanya mempertimbangkan harga murah semata bukan “perkawanan bisnis” jangka panjang. Saya lebih suka menyebut fenomena sebagai hit and run business relationship. Padahal kita tahu persis bisnis itu tidak sekedar apa yang kita makan hari ini, tetapi juga berpikir dan berstrategi “mengamankan” apa yang kita harus makan esok atau lusa.

Karena tsukiai ini, perusahaan-perusahaan Jepang mungkin akan mau “berkorban” saat ini, demi menjaga hubungan baik, untuk memperoleh pelanggan yang loyal. Karena temannya dari teman pun karena tsukiai ini akan bisa menjadi pelanggan pula, kalau kelanggengan hubungan serta network bisnis pun meluas.

Credit Photo : www.japanprint.com