Pengangguran Terdidik, Cak Eko dan Wirausaha

Pengangguran Terdidik, Cak Eko dan Wirausaha Pengangguran Terdidik, Cak Eko dan Wirausaha graduation2
Melihat acara widusa para wisudawan/wati di sebuah universitas dengan segala pernak-pernik yang menyertainya ditingkahi “canda kemenangan” foto bersama memakai toga wisuda dan ucapan selamat bertubi-tubi dari handai taulan, terkadang membuatku “miris”. Betapa tidak, barangkali senyum mengembang di pipinya akan berubah menjadi sebuah kekhawatiran apabila membaca fakta dari Kompas sebagai berikut ini. Ada sekitar 9,26 juta orang tidak/belum mendapatkan pekerjaan alias menjadi pengangguran di Indonesia, 1,14 juta merupakan “pengangguran terdidik” alias lulusan perguruan tinggi. Kurang lebih, 500 ribu adalah pengangguran adalah lulusan diploma dan 630 ribu merupakan lulusan strata satu (Kompas, 17 September 2009). Sebuah data yang mengagetkan, tapi ini adalah fakta lapangan.

Kebetulan ada saudara yang baru lulus strata satu (sarjana) dari sebuah sebuah universitas negeri yang menginap di rumah saya dari sebuah kota di Jawa Tengah, yang cukup gigih terbang ikut tes dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Dari sedikit ngobrol sambil makan malam, terkuak bahwa sudah lumayan banyak “uang” yang dikeluarkan untuk sekedar “wira-wiri” mendatangi tes-tes masuk kerja dari kotanya ke Jakarta dan kota-kota lain. Belum lagi tetek-bengek seperti foto copy dokumen, pergi ke warnet ngecek pengumuman. Dan hal itu tidak hanya berlangsung 1-2 bulan, tapi bisa “berbulan-bulan”. Saudara saya tadi setelah 12 bulan alias 1 tahun sejak wisuda, baru diterima di sebuah perusahaan di Jakarta. Terkadang saya berpikir, pernahkah para lulusan tadi berpikir kalau uang yang tadi dikeluarkan cukup “lumayan” digunakan untuk mencari-cari pekerjaan (job hunting)itu dikonversi untuk memulai usaha sendiri walaupun kecil-kecilan? Dugaan saya tidak banyak memilih pilihan kedua itu ketimbang pilihan pertama tadi.

Tapi ada perkecualian, Minggu lalu saya didapuk menjadi moderator sebuah diskusi bertajuk “Membangun Spirit Wirausaha” yang diadakan Majalah Masjid Kita, yang salah satu pembicaranya seseorang yang riil dari lulus kuliah langsung memutuskan pilihan hidupnya menjadi wirausaha. Saya yakin tidak banyak lulusan berpikiran seperti beliau di tanah air, kalau toh ada tapi jumlahnya tidak banyak. Namanya Ir.Henky Eko S.,M.T atau sering dikenal dengan nama Cak Eko, pemilik waralaba gerai Bakso Malang kota “Cak Eko”. Saya sempet melongo sekaligus angkat topi mendengarkan Cak Eko mengawali ceritanya dengan 10 “kegagalan bisnis” yang dialami sebelum membangun imperium bisnisnya tadi. Mulai jual HP second, agrobisnis (jahe gajah) sampai bisnis bandeng cabut duri. Pantang menyerah, tegar dan konsisten.

Disamping sederetan kegagalan tadi, pilihan hidup menjadi wirausaha ini juga mendapat tantangan keras baik dari orang tua maupun mertuanya. “Tukang insinyur kok malah jualan bakso, ngapain sekolah tinggi-tinggi?”. Tapi tekadnya yang keras, tekun dan fokus mulai mendatangkan hasil . Singkatnya, kini sudah lebih dari 90 cabang dengan ratusan pegawai. Tak ayal Cak Eko pun diganjar oleh Bank Mandiri sebagai Pemenang I Wirausaha Mandiri 2008 serta Young Entrepreneur Award 2008. Dari pemaparan “road of success”-nya sebagai pengusaha — beda lho mendengarkan orang berbincang tentang wirausaha yang terjun langsung dengan yang berteori semata — setiap kata yang diucapkan terasa powerful.

Dari sekian banyak petuah-petuah bisnis yang coba di-share oleh Cak Eko, ada satu penjelasan menarik Cak Eko mengenai resep suksesnya, daya tahan (endurance) di kalangan lulusan sekolah tinggi kita kurang kuat. Barangkali mereka sudah mencoba berwirausaha, tapi ketika menekuninya dan gagal mereka kapok dan memutuskan untuk “keluar arena”, padahal mereka sudah mulai tahu detail dari bisnis yang ditekuninya. Dengan kata lain menjadi wirausaha itu seperti lari marathon 42 km bukan lari sprint 100 meter, usaha baru akan keliahatan hasilnya di km 40, di km 41 atau di km 42, bukan di 100 m pertama, 200 m pertama di perlombaan lari. Siapkah daya tahan Anda untuk itu?

Sebenarnya kasus yang dialami saudara saya yang menginap di rumah di atas bukan karena dia “bodoh” tetapi memang struktur ekonomi Indonesia yang cenderung bertumpu pada sektor jasa seperti sektor keuangan dan komunikasi, menyebabkan serapan tenaga kerja melemah. Tapi menggerutu dan menyalahkan pemerintah serta menyesali nasib bukanlah tindakan yang bijak bukan?

Jadi teori setiap pertumbuhan ekonomi Indonesia 1% bakal menyerap 700 ribu pengangguran tidak terjadi. Alhasil setiap lulusan baru pun rata-rata menunggu antara lulus dengan mendapatkan pekerjaan semakin panjang. So, daripada uang dihamburkan sekedar wira-wiri dan mengantri di bursa kerja dengan waktu yang relatif panjang, barangkali tidak ada salahnya menjajal jalur wirausaha bukan ? walaupun kecil-kecilan ???

Credit photo : lowrylou@flickr.com

Previous

Brand Extension dan Brand Stretching ala Lego

Next

Tradisi “Down to Earth” ala Jepang

14 Comments

    • @Yodhia : Terima kasih atas kesediaan Bung Yodhia, penulis blog Strategi+Manajemen kenamaan, untuk mampir di Blog Manuver bisnis. Di kesempatan lain, ditunggu ulasan dan komentarnya di blog ini….

  1. onokarsono

    Disamping itu pemdidikan tentang wirausaha tidak ditanamkan sejak dini atau sejak bangku kuliah/sekolah. Sehingga mindednya ya cuma cari pekerjaan dan cari pekerjaan di perusahaan mentereng.

    Kalau saja setiap lulusan PT bisa menciptakan lapangan kerja baru, mungkin kita tidak perlu mengekspor pembantu ke luar negeri.

    Semoga Indonesiaku bisa semakin berbenah …Amin.

  2. arief

    kebanggaan tersendiri bagi ortu manakala anaknya di wisuda,…… harapanx mereka dapat bekerja sesuai dengan gelar yg diperoleh di lembaga yang bergengsi misal: bank, tambang, pns dll (ini merupakan salah satu prestise tersendiri bagi ortu d mata tetangga, relasi, musuh, n lainnya, dg biaya ratusan juta pun ortu akan rela berkorban demi sang anak) ……..klo mereka setelah wisuda berwirausaha ato waktu kuliah sdh mempunyai usaha…..orang sekitar akan bilang itu lumrah krn ortux mampu n mereka akan bisa melakukannya (ini memang sangat berbeda dg ortu yg pas-pasan,….. mereka akan mencari n trus mencari pekerjaan sampe dpt) ….ironis memang, mungkin dengan sharing wirausaha spt cak eko (tsb d atas), purdie (primagama), ananta (robota) n msh byk lg, akan bisa menjadi salah satu cara mengubah paradigma pengangguran terdidik.

    • @ Arief: Pendapat menarik Mas Arief…..tapi jaman sekarang kalo berbisnis hanya menggantungkan pada modal semata, cepat atau lama pasti akan roboh dan gulung tikar. Karena Elemen penting dalam berbisnis ini tidak semata modal tetapi juga daya juang dan daya tahan yang kokoh. Anyway, terima kasih sharing dan komentarnya Mas Arief…..

  3. wah setelah baca artikel tentang pengangguran terdidik membuat saya jadi berpikir apalagi notabene saya masih di bangku kuliah jadi bisa merasakan kondisi sebenarnya, memang betul setiap ortu menginginkan anaknya lulus kuliah dan di wisuda dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Saya pernah berbincng dengan temen kuliah tentang pengangguran di indonesia yang super-super banyak. Teman saya bilang “kalo kita nanti lulus dan mengharapkan mendapatkan pekerjaan di kantor-kantor bonafide, jangan harap bisa semudah membalikan telapak tangan. karena apa? karena kita akan menambah jumlah pengangguran yang tiap tahun-nya ribuan bahkan lebih yang masih menunggu dan antri melamar.

    Singkatnya saya terkesan membaca artikel ini, seandainya setiap lulusan sarjana dapat membuka usaha akan sangat bermanfaat karena dapat membuka lapangan pekerjaan dan mengurangi jumlah pengangguran walaupun hanya beberapa…..

    Bravo buat Blog Manuver Bisnis

  4. aryo baskoro

    huaaa thanx mas, it meanz alot ;D
    dinamika dunia kerja memang ga ada matinya.
    Bagi mereka mahasiswa yg baru lulus dgn gelar diploma ato sarjana terkadang msh mempunyai idealisme dlm berkarir,
    tapi terkadang dlm kenyataanya di dunia kerja perusahaan lebih memprioritaskan karyawan yg berpengalaman kerja dari pada menerima entry level yg baru memasuki dunia kerja.
    Semoga teman” fresh graduate bisa sukses dlam melewati masa” transisi dr bangku kuliah ke dunia karir. Salam sukses ..amiin..

  5. Topik

    Memank jiwa wirausaha,hrvs dipupuk sjak dini.Sya sndiri aja,wirausaha parfum isi ulang,pdahal backrground saya diploma.Lulus kuliah jgan malu wirausaha

    • @ Topik : Wah Mas Topik perlu tuh memberikan kiat suksesnya berbisnis parfum isi ulang….pasti menarik, ditunggu Mas…terima kasih berkenan mampir di Blog Manuver Bisnis.

  6. risa meliana

    nambah semagagg,, sekaligus nambah inspirasi bagi saya yang sedang bengong harus gimana?? pake strategi apa buat lulus nanti??
    saya pengen jadi PNS!!!
    itu cita-cita saya dari SD hingga sekarang walaupun toh di lingkungan keluarga bergelut wirausaha, yang sampai sekarang pun saya masih bisa kuliah!!!tapi saya juga senang berjualan sampai sekarang. jual apa ja,, yang penting bisa nambah uang saku. terus berusahaa seoptimal mungkin jika ingin sukseeess!!! trima kasih kang atas ulasan tulisannya..

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén