Pembelajaran Bisnis Saat Mengantar Anak Pentas

Pembelajaran Bisnis Saat Mengantar Anak Pentas Pembelajaran Bisnis Saat Mengantar Anak Pentas preschool

Sejak beberapa hari sebelumnya jagoan kecil saya wanti-wanti kepada saya agar jangan lupa mengantarnya untuk pentas, sekaligus mensupport-nya melihat aksinya di panggung. “Sudah berlatih tariannya,” cek saya. “Sudah dong,” sahutnya mantap, tanpa ragu-ragu. “Ok, Ayah pasti nonton “, Jawab saya. Terlihat mata jagoannya berbinar-binar gembira. Terkadang menyediakan waktu untuk aktivitas anak itu perlu, kata psikolog yang pernah saya baca, hal ini punya kontribusi besar terhadap “kepercayaan diri” anak.

“Bahasa pengantar apa yang digunakan selama di sekolah?” tanya seorang pasangan keluarga muda sambil mendorong stroller anak di sebuah stand Pre-School. “Pendekatan silabus apa yang digunakan di sekolah ini?” tanya pasangan keluraga lain di stand lain. Sekilas pertanyaan seperti di atas muncul ketika saya mengantar jagoan kecil saya pentas mewakili sekolahnya di acara yang diusung majalah Ayahbunda bertajuk “Preschool Fair 2010 : Preschool is Rock” di Grand Indonesia Shopping Town minggu lalu.

Tercatat ada lebih dari 20 stand Pre-School yang berpartisipasi. Beragam pendekatan yang ditawarkan, mulai dari menggunakan pendekatan “bermain” dalam metode pengajarannya. Pendekatan pelajaran bernafaskan keagamaan, ada yang mixing pendekatan agama dan penggunaan bahasa Inggris. Ada juga yang memang pre-school –nya merupakan franchise dari luar negeri, jadi silabusnya mengacu kurikulum induk pemberi waralaba. Dari sekilas pengamatan yang saya lakukan, terlihat uang sekolah yang ditawarkan juga lumayan mahal, tetapi tidak menyurutkan para keluarga muda untuk “mengerumuni” beragam stand yang ada.

Kebetulan salah satu kolega saya yang saya temui di acara itu kebetulan menjadi Kepala Yayasan salah satu Sekolah Pre-School. “Awal dibuka 3 tahun lalu cuma ada belasan murid dengan beberapa guru”, tuturnya,” Tapi sekarang muridnya sudah hampir mencapai angka lebih dari 90, jadi agak bingung ngatur kelasnya.” Dengan uang sekolah yang tergolong tidak murah saja, peminatnya membludak, sepertinya memang pre-school telah menjadi telah menjelma menjadi “sebuah bisnis” yang seksi dan menjanjikan.

Dari perbincangan dengan kolega saya tersebut, sedikit banyak saya mendapat sedikit tip perihal seluk beluk bisnis pre-school. Kalau Anda tertarik menerjuni bisnis ini ? Tidak ada salahnya Anda mencermati insight menerjuni bisnis ini:

Pertama, selama angka kelahiran di Indonesia stabil, akan selalu ada anak yang membutuhkan pendidikan pre-school yang memadai dan berkualitas. Berarti pasokan murid selalu ada, cuman masalahnya bagaimana cara menarik para orang tuanya untuk mau menyekolahkannya di sekolah yang kita kelola. Dengan menerjuni bisnis ini juga sedikit banyak Anda berkontribusi pada empowerment SDM bangsa ini pada usia dini. Labanya dapat, pahalanya dapat …hehehe.

Kedua, pastikan silabus yang ditawarkan cukup solid dan mempunyai nilai tambah yang tidak dipunyai pre-school lain. Misalkan pre-school yang akan didirikan disamping menawarkan bahasa pengantar bahasa Inggris juga menekankan pembelajaran science dengan konsep “bermain”, atau pre-school pendekatan 2 bahasa asing kalau hal itu memang memungkinkan. Era Globalisasi ini membuat orang tua semakin sadar arti penting kemampuan berbahasa asing, kesempatan ini yang perlu diambil.

Ketiga, karena konsumen bisnis ini adalah anak-anak, pastikan SDM guru yang direkrut punya “kecintaan” terhadap dunia ini. Sebuah dunia yang butuh kesabaran dan ketelatenan lebih. Ini adalah sebuah keharusan. Pasalnya, pernah saya mendengar complaint di mailing list, seorang ibu mendapati guru pre-school-nya tingkat kesabarannya agak rendah. Ternyata setelah ditelusuri, sekolah tersebut merekrut guru-guru tersebut hanya karena mereka “bisa” berbahasa asing yang menjadi nilai tambah, tetapi tidak punya latar belakang pendidikan pengajaran sekolah usia dini. Hal ini bisa bisa kontraproduktif.

Jadi ada yang tertarik menerjuni bisnis pre-school seperti yang dilakukan kolega saya?

Ikut belangsungkawa atas meninggalnya Bapak Soetjipto Sosrodjojo, pendiri PT.Sinar Sosro, pendiri Sosro Grup (Teh Sosro).

Credit photo : www.abatakindergarten.com

Previous

Jebakan Soliditas Bisnis Model

Next

Cerita Tentang Bapak Ojek dan Petani Jepang

1 Comment

  1. memang benar juga apa yang di tulis di artikel ini bahwa dewasa ini sudah menjadi kebutuhan setiap keluarga agar memberikan pendidikan kepada anak-anaknya yang mempunyai kualitas terbaik baik TK, SD, SMP, SMA dan Perguruan tinggi. Bisnis-bisnis pendidikan seperti TK yang mempunyai kualitas terbaik dengan berbagai macam program yang terbaik tentunya dan pastinya biaya juga tidak murah. Nah hal ini mungkin kita hanya temuin di kota-kota besar yang notabene tingkat pendapatan yang tinggi, ini yang kita tidak temuin di kota-kota kecil di daerah yang tingkat pendapatannya kecil sehingga mempengaruhi dengan pendidikan yang kualitas nya tidak sebaik yang ada di kota-kota besar, sehingga pendidikan yang menjadi pondasi untuk mencerdaskan putra-putri bangsa menjadi tidak sejalan karena pendidikan yang tidak seimbang antara kota besar dengan pendidikan yang ada di daerah. Semoga sistem pendidikan kita bisa cepat maju sehingga kita bisa menciptakan putra-putri dengan kualitas yang terbaik dan pendidikan antara kota besar dengan kota-kota kecil di daerah tidak berbeda yang signifikan.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén