Peluang Bisnis Satu Motor per 2,2 Detik

Peluang Bisnis Satu Motor per 2,2 Detik Peluang Bisnis Satu Motor per 2,2 Detik sepeda motor si ollie
Sebagai orang yang “menghabiskan” sebagian waktunya di jalanan, serasa seperti melihat “sekumpulan lebah” motor di jalan-jalan Jakarta dan sekitarnya ketika menyaksikannya pada jam-jam berangkat kantor dan pulang kantor. Kalau diperhatikan, jumlah motor yang mengerumuni jalanan Jakarta cenderung untuk naik. Pemandangan ini akan lebih “terasa” kalau di perempatan jalan pas lampu hijau, terasa kumpulan motor penuh mengerumuni jalan. Terkadang kita tidak sadar, kalo kerumunan motor pastinya sebuah “kue bisnis” yang menjanjikan bukan?

Kebetulan hari Sabtu, minggu yang lalu (20 Maret 2010), saya menyambangi pertemuan kopdar (kopi darat) yang diadakan oleh KAJI (Komunitas Alumni Jepang di Indonesia) yang diadakan di sebuah gedung di bilangan jalan Sudirman. Pertemuan hangat sekaligus forum berkangen-kangenan dengan beberapa kolega, sesaat membawa ingatan nuansa nostalgia beraroma Jepang , karena kosakata berasksen Jepang bermunculan di pertemuan di pagi itu. Pertemuan Kopdar KAJI tersebut tidak hanya bernostalgia semata tetapi juga disisipi “sharing” antar sesama alumni. Hangat dan homy banget atmosfernya.

Ada tiga pembicara yang memaparkan topik-topik menarik dan menggugah, salah satu diantaranya, Bang Ali Mufid Iskandar, Purchasing Manager dari PT.Toyobesq Precision Parts Indonesia memaparkan luar biasanya kue bisnis kumpulan motor yang menyerupai sekumpulan lebah itu. Meminjam catatan beliau, tercatat di tahun 2009, penjualan sepeda motor segala merek 5.881.177 unit motor. Ini berarti dalam sehari, kurang lebih ada 16.000 unit yang terjual, atau setiap 2,2 detik ada 1 unit motor terjual. Sebuah peluang bisnis yang luar biasa. Diprediksi tahun 2010 ini omset nominal sepeda motor akan mencapai 65 triliun rupiah (coba bandingkan dengan jumlah ABPN Negara kita) dan prediksi penjualan sepeda motor segala merek yang mencapai kisaran 7 juta sampai 8 juta unit motor. What a big business-opportunity!!

Sayangnya peluang bisnis yang sedemikian besarnya, tidak banyak terendus (kurang terantisipasi?) dengan baik. Dari pemaparan Bang Ali Mufid terungkap tingginya permintaan sepeda motor ini, tidak dibarengi dengan infrasturktur industri kecil lokal yang siap mendukung geliat bisnis ini. Sebagai contoh ada beberapa supply barang berbasis forging dan casting, hanya kurang dari 5 perusahaan yang mampu. Kalau alasannya bangsa ini tidak lekat dengan industri seperti ini, sepertinya tidak juga. Sejak jaman dahulu kala senjata keris dan semacamnya itu dibuat berbasis industri di atas. Dengan kata lain sebenarnya industri itu sudah dikenal sejak nenek moyang kita dahulu. Akan tetapi kenapa perusahaan yang bisa men-supply-nya hanya bisa dihitung dengan jari, padahal permintaan komponen dan spare-part sepeda motor begitu tinggi ? Ada apa yang salah?

Fenomena di atas menyiratkan, betapa kesempatan ini akan hilang bila tidak diambil langkah-langkah antisipatif. Apa yang perlu dilakukan untuk menangkap peluang ini?

Pertama, perlunya dibangun industri-industri pendukung sekaligus membangun “masyarakat” yang melek “budaya industri”. Saya melihat sentra-sentra industri yang ada, haruslah “dipelihara” dan diberdayakan dengan serangkaian pelatihan yang sistematis agar berkembang. Tidak bisa dibiarkan hidup apa adanya. Tidak bisa pula instan. Dan jangan sampai “dimatikan” dengan mendatangkan serangkaian barang impor sejenis dengan alasan harga lebih ekonomis dan murah. Itu merupakan langkah “gampang”, tetapi akan membunuh lahirnya industri yang nyata-nyata permintaannya berbasis di pasar domestik. Pelatihan sangatlah dibutuhkan karena, biasanya secara teknis mereka mampu, tetapi lemah di sisi pengelolaan (manajemen).

Kedua, perlu dibudayakan dan dirangsang lahirnya pengusaha yang berjiwa industrialis, bukan “pedagang”. Karena untuk mewujudkan industri ini, perlu dirangsang dan diberi insentif pengusaha industrialis yang sering saya sebut bermental “long-term-entrepreneur”, bukan “hit-and-run entrepreneur “ (wirausaha yang berdagang). Karena corak dan model bisnis butuh modal jangka panjang. Jadi harus diperbanyak entrepreneur industrialis yang mau membenamkan modalnya dan berkecimpung di bisnis ini. Karena entrepreneur usaha kecil di Indonesia masih didominasi entrepreneur yang bercorak “pedagang”.

Kalau peluang seperti ini gagal dimanfaatkan, bukan tidak mungkin kesempatan ini bakal dimanfaatkan para entrepreneur dari China untuk memenuhi tingginya kebutuhan di sektor ini (Baca : Free Trade Area (FTA) ASEAN-China di Mata Pebisnis). Kalau ini benar-benar terjadi, sangatlah disayangkan. Sudah saatnya kebutuhan dari bangsa ini, menetes dan dinikmati pula oleh bangsa ini. Saatnya rakyat Republik ini menjadi subyek bukan obyek yang sekedar “menonton”.

credit Photo : Si Ollie@flickr.com

Previous

Cerita Tentang Bapak Ojek dan Petani Jepang

Next

Berebut Tahta Raja Elektronik : Sony Vs Samsung

6 Comments

  1. Indra Sanjaya

    Kalo saja ada pemodal yang mau berinvestasi di lahan ini, tentunya “kue” yang beterbangan seperti ini tidak boleh disia-siakan. Mungkin bisa bermain di suku cadangnya, atau bagian dari motor lainnya.

    • @Indra : Itu dia Mas Indra, kita perlu “entrepreneur indutrialis” untuk mampu menangkap peluang ini. Terima kasih berkenan mampir di blog ini 🙂

  2. Trims atas infonya, sangat menarik. Bisnis motor memang tidak ada matinya dan banyak turunannya, sayang harus punya modal yang lebih untuk ikut terjuan ke bisnis motor ini, paling banter kalo modal kecil, jadi makelar…lumayan juga hasilnya.

  3. Jika over demand akan motor. infrastruktur tidak mencukupi.pusing juga.
    katakan saja, industri forging casting, dan penyedia sparepart made in indonesia sudah terpenuhi. selanjutnya urusan “jalan” ?? pemerintah kota jakarta masih belum bisa antisipasi kemacetan. Jadi mungkin pasar motor akan beralih ke kota pinggiran yang potensial, misal Indonesia Timur.

    Blog Peluang Bisnis Luxury Perfume

  4. Thanks atas infonya bang, mencerahkan sekali…

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén