Panggung Digitalpreneur Sendiri

Panggung Digitalpreneur Sendiri Panggung Digitalpreneur Sendiri internet surfSeorang pernah dengan nada bangga dan menggebu-gebu, seorang Konsultan Social Media bercerita tentang jumlah pengguna facebook di Indonesia yang mencapai 30 juta. Sehingga tak ayal, dengan jumlah segitu situs social media garapan Mark Zuckerberg bernama facebook ini membuat posisi Indonesia menempati deretan terbanyak penggunanya. Saya juga mendengar, begitu banyak sobat kita lain juga pengguna aktif jaringan social media lain seperti berkicaunya Twitter, tempat ngrumpinya diposting di Foursquare, jaringan profesionalnya nangkring di Linkedin. Sementara eBay, sang raksasa lelang juga sudah menyerbu Indonesia dengan membangun www.id.ebay.com. Yahoo pun mulai “manggung” di tanah air kita dengan mengakusisi Koprol beberapa saat lalu. Rakuten, raksasa mal belanja internet Jepang pun gak mau kalah, menggandeng Global Mediacom, grup MNC milik Hari Tanoe mulai menggarap renyahnya pasar Indonesia.

Belum lagi blogger.com, WordPress.com, merupakan situs yang banyak pula digunakan dan laris manis diikuti pengguna dari Indonesia. Pertanyaan sekarang yang sedikit mengganggu untuk saya ? Semua media berbasis IT (information technology) di atas notabene adalah milik “orang asing.” Jumlah pengguna yang mendaftarkan diri dan mempunyai account hanyalah konsumen, bukan produsen. Kalau meminjam istilah seorang dosen yang mengajar saya dulu, kondisinya dapat diibaratkan kita membangun panggung musik dan tari nan megah, serta mengundang banyak penonton untuk menghadiri perhelatan megah itu. Tetapi ketika acara dimulai, jajaran pengisi acara, kamerawan sampai master ceremony-nya adalah “orang lain”. Kita dijadikan penonton yang harus “membayar” perhelatan megah di pekarangan desa/kampung itu, dan keuntungannya sepenuhnya diraup sang pengisi acara. Salahkah pengandaian di atas? Saya tidak sedang meniupkan perasaan anti asing disini. Tapi apa iya sih, kita diam saja ?

Bisnis kekinian mana sih yang tidak disentuh dan dipeluk penerapan IT? Semua entitas bisnis dari kelas kakap (sektor pertambangan, consumer goods,dll) sampai bisnis teri yang jumlah karyawannya di bawah 10 orang saja menggunakannya. Mulai mempunyai website sendiri, payroll, security system, semua mulai menggunakannya. Tak ayal, ke depan bisnis berbasis IT merupakan bisnis gurih dan seksi. Keuntungan Mark Zuckerberg sang pendiri facebook beberapa tahun lalu saja bisa “menyamai” keuntungan Pertamina di kurun waktu tertentu, padahal Pertamina lahir jauh-jauh hari ketimbang lahirnya Facebook.

Walaupun disesaki oleh pemain-pemain asing yang hanya “menjadikan” jumlah penduduk Negeri ini sebagai Negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia dan ketiga di Asia sebagai tambang emas semata, masih ada digitalpreneur (dari kata digital entrepreneur) di Republik menggeliat, tidak sudi sekedar didaulat menjadi penonton an sich yang sekedar melongo dengan mulut terbuka lebar di panggung yang didirikan di dekat rumahnya.

Diantaranya, Andy Sjarif, pendiri sekaligus CEO SITTI (Sistem Iklan Teknologi Teks Indonesia). Manuver bisnis-nya mirip Google Adwords and Google adsense yang dimiliki Google, namun perusahaannya mengkhususkan untuk site berbasis bahasa Indonesia. Keunggulan SITTI dibanding Google adalah Google tidak bisa mengkaitkan ke bahasa Indonesia. Tak ayal, SITTI mampu menjungkalkan Google dalam click through rate (CTR) dalam semua kategori yang berbasis bahasa Indonesia.

Di kategori IT Security, perusahaan anti virus smadav yang didirikan Zainuddin Nafari juga berkibar. Dengan fokus produknya software “pembasmi virus”, Smadav sudah diunduh 1,5 juta (sebagian besar dari Indonesia). Versi 8.4 merupakan produk terbarunya. Di model komunitas, Kaskus yang didirikan Andrew Darwis juga tidak kalah fonumenal. Anggotanya mencapai tidak kurang dari 2.5 juta orang. Menurut data Thewebprice, harga Kaskus diperkirakan mencapai US$11,64 juta dengan total page view 116,4 juta per hari. Luar biasa.

Masih banyak pemain digitalpreneur Indonesia yang tidak bisa disebut satu persatu yang berhasil “menggarap” renyahnya pasar digital. Berkah meluasnya internet kemana-mana, adanya peningkatan bandwith, dan mulai stabilnya jaringan serta tidak kalah penting terintegrasinya dengan mobile phone merupakan peluang bisnis yang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kalau kebutuhan ini bisa dijawab, gemuknya pasar Indonesia tidak bakal digarap orang asing. Syaratnya mampu kreatif dengan menciptakan bisnis model baru yang tidak mengekor bisnis digital yang sudah mapan. Seperti konsep bisnis yang diusung oleh Anang Pradipta dkk di www.gantibaju.com, sebuah situs yang model bisnisnya menerapkan model social commerce. Atau Faisal Wiryakusuma yang membesut www.WarungMobil.com yang menciptakan bursa mobil ke seluruh Indonesia, yang pengunjungnya mencapai 8000 per hari.

Ya, jangan sampai kita hanya menjadi penonton di negeri sendiri…..itu pasti mengenaskan, menyesakkan dada. Ayunan langkah Anda mengendus bisnis serta mengeksekusinya dengan menjalaninya adalah bagian penting agar tidak tidak tergolong menjadi menjadi penonton. Bagimana dengan Anda?

Credit Photo : www.netsains.com

Previous

Berdamai Bersama Office Politics

Next

Masaaki Imai: Maestro Kaizen

4 Comments

  1. Hi Donny san,
    Akhirnya materi ttg social media publish juga 🙂

    Benar sekali bahwa Indonesia merupakan ‘Huge Market’ untuk netpreneur / digitalpreneur dunia. Khususnya facebook, saat ini Indonesia sudah berada di peringkat ke-2 dunia dibawah Amerika dalam banyaknya pengguna facebook. Berdasarkan data tsb-lah, saya ACTION mendirikan http://www.JAKARTAwebsite.com yang mengkhususkan pada Google & Facebook Marketing.

    Jika Donny san dan para pembaca lainnya ingin mengetahui data demographic dari pengguna facebook di Indonesia, silahkan kunjungi link ini: http://www.facebook.com/home.php#!/note.php?note_id=154888851233426&id=185933211433439.

    Terima kasih,
    Budi Suhendrio
    (www.budisuhendrio.com)

  2. endang syahrul

    Subhanallah ! Mas Donny makasih banget,artikel njenengan bikin NURILEIST semakin arambana ,Ust Nuril adalah mutiara keluarga ,putra mama yang taat ,milik umat & care abis sama anak – anak yatim ,fakir miskin ,semoga karya-karyanya yang incridible & fabulous senantiasa star market dan benih bahagia yang ditebar tuk kaum dhuafak kian luas hingga mimpi – mimpinya jadi realita amiin .

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén