Mobil Esemka, Mobil Jepang dan Marathon

Mobil Esemka, Mobil Jepang dan Marathon Mobil Esemka, Mobil Jepang dan Marathon mobil esemka

Sungguh sebuah berita segar membasahi konstelasi bisnis Indonesia di awal tahun baru 2012 ini, disamping terdongkraknya peringkat Indonesia sebagai destinasi investasi dari peringkat BB menjadi BBB- oleh Lembaga pemeringkat Fitch, anak-anak SMK di sebuah Sekolah kejuruan di kota Solo membuat gebrakan merakit mobil yang dinamai Esemka. Yang menggembirakan adalah local content mobil tersebut mencapai 80 persen inilah yang sejatinya perlu diapresiasi. Menurut Bapak Sukiyat, perancang mobil Esemka, 20 persen komponen lainnya masih diimpor seperti ring seker, metal duduk, krek as dalam mesin. Kalau leaping frog, mobil Esemka ini tidak hanya berhenti pada titik protitipe saja, tapi bisa diproduksi secara masif, tentunya merupakan nilai tambah besar tersendiri buat negeri ini.

Kalau Anda berjalan-jalan ke kota-kota di Prefektur di Aichi-ken, Jepang, kota dimana Toyota mempunyai pabrik-pabrik besar serta headquater di sana. Betapa banyak pernak-pernik industri skala kecil sampai besar beroperasi yang menyumbang bagi sebuah keutuhan sebuah mobil hiruk pikuk bekerja hidup. Bahkan perusahaan super kecil yang berjumlah kurang dari 10 pegawai dan memproduksi hanya beberapa aitem komponen mobil pun bisa hidup “sejahtera”. Sementara beberapa perusahaan menengah (middle companies) yang pekerja di atas 100 pegawai yang “menampung” serta meng-assemble dan merakit komponen kecil dari perusahaan kecil tadi tidak kalah sibuknya. Sebagian dari mereka—untuk biaya gaji–mendatangkan para pekerja dari Peru, Brazil yang nenek moyangnya berasal dari Jepang (blesteran Jepang tapi banyak tidak mahir berbahasa Jepang) untuk bekerja mengejar waktu kiriman komponen yang diminta perusahaan besar. Maka jangan heran, petunjuk berbahasa portugis dan spanyol disana tidak kalah banyak dengan tulisan kanji Jepang di sana. Sebuah potret lini produksi antar perusahaan yang terjalin berkelindan dengan sangat rapi terlihat.

Di sebuah departemen quality control dimana saya pernah magang, seorang pekerja wanita yang sudah cukup berumur yang saya kenal, tugasnya tiap hari nyaris sama tiap harinya itu-itu saja, sampai tiap jam, dia menetesi matanya dengan obat mata, dikarenakan pedih mengecek kualitas barang-barang kecil. Karena aliran barang yang perlu dicek kualitasnya berlalu lalang seakan tidak pernah berhenti. Idem ditto dengan departemen lain, semua sibuk dan seakan hanya bisa “menghela nafas” ketika istirahat siang dan kyuukei (istirahat 10 menit pada jam 10.00 dan jam 15.00. Berat, itu pasti, tapi di masa itu gak ada pekerja yang hidup di bawah rata-rata. Kalau saya mendatangi undangan ke rumah rekan Jepang disana, nyaris tidak nampak fenomena “kesengsaraan” para pekerjanya, meskipun baru masuk bekerja. Sehingga wajar, kalau social unrest (keresahan sosial) seperti kejahatan yang laiknya menemani lahirnya di sebuah kota besar relatif rendah. Itu side effect-nya secara sosial.

Nah, keberhasilan mobil Esemka yang mendapat banyak perhatian publik, hanya akan berakhir dengan seremonial semata, kalau hanya berhenti memajang foto mobil tsb dengan dipasangi plat mobil bernomor AD 1 seperti yang dilakukan Bupati Solo, Bapak Joko Widodo. Seakan setelah foto heroik itu, pekerjaan usai. Padahal, pekerjaan rumah terberat menghadang baru dimulai, yakni mulai menghidupkan denyut industri ini, walaupun terdapat banyak kendala proyek harus diteruskan. Langkah paling rasional adalah bagaimana proyek mobil ini bisa menggelinding sebagimana ranumnya industri otomotif di “saudara tua” kita.

Industri otomotif Jepang ketika masih tumbuh di dasawarsa 50-an, mulai memproduksi kei car atau dikenal sebagai keijidousha (軽自動車), sebuah mobil kecil bermesin kecil (sekitar 360 cc) agar irit, juga mudah parkir di lahan Jepang yang sempit dan melaju di jalan mini. Setelah hal itu berhasil dicapai baru industri mobil menyasar ke lanskap yang lebih luas. Mobil Esemka ini tentunya juga harus begitu, tidak perlu menyasar spek “pejabat” dulu (tetapi kalau para pejabat mau membeli itu syukur), tapi melihat masyarakat kebanyakan memerlukan mobil seperti apa. Sehingga kalau nantinya produksinya jalan, penyerapan terhadap mobil itu lebih maksimal. Sehingga banyak investor tertarik membenamkan modalnya. Kalau tidak ada yang tertarik, untuk proyek yang ber-multi effect luas ini, Pemerintah harus berani mengambil peran menghidupkannya.

Agar hasilnya sedikit banyak meniru efek industri otomotif di Jepang, regulasi pengaturan siapa yang menjadi perusahaan kecil, perusahaan menengah dan perusahaan besarnya harus jelas. Sekarang, bukan rahasia lagi para pemasok komponen mobil yang hidup kebanyakan dimiliki group besar yang “berafiliasi” dengan produsen otomotif. Sehingga bisa ditebak, uang yang ada hanya “berputar-putar” di afiliasi perusahaan yang sama.

Dalam arti kata, distribusi pendapatan yang tidak merata, karena tidak ada “pembagian tugas” yang terang menderang, akan mengakibatkan penguasaan afiliasi perusahaan tertentu yang kuat modalnya menguasai dari hulu ke hilir akan mencengkeram dalam bentuk lain. Sehingga “keamanan ala Jepang” yang kita saksikan selama ini di kota-kota Jepang tidak akan terduplikasi di Indonesia, meskipun proyek mobil Esemka ini bergulir. Pada titik ini, lembaga semacam KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) harus berperan lebih teliti, hati-hati dan seksama lagi.

Akhirnya gegap gempita pemberitaan Mobil Esemka perlulah disyukuri, tapi mempersiapkan “infrastruktur” disekitarnya yang notabene tidak mudah, haruslah mulai digagas sejak dini, agar tidak seperti proyek mobnas yang “mati muda” di akhir periode Kepresidenan Soeharto (1998). Niat baik itu perlu. Tapi tidak cukup hanya dengan niat baik semata, tetapi pernak-pernik yang menyertai harus detail dipersiapkan dan dibangun. Tidak bisa berharap lagi sepertinya tumbuhnya singkong yang tinggal menancapkan batangnya di tanah.

Keberhasilan pola proyek otomotif Jepang, dari kei car di tahun 1950-60, diterima masyarakat Jepang. Tahun 1970-an mulai dipasarkan di Asia Tenggara walupun “ditertawakan” karena design-nya kalah gagah dan kalah mengkilap khususnya dibanding mobil Eropa. Sampai akhirnya, mobil-mobil Jepang berhasil diterima di Negara-negara Asia menggeser kedigdayaan mobil Amerika dan Eropa, sekaligus berhasil pula diterima di Amerika dan Eropa satu dekade berikutnya. Bahkan varian mobil mewah milik Toyota, Lexus berani vis a vis dengan Mercedez dan BMW, mulai diterima publik Eropa dan Amerika di tahun 2000-an. Dari mobil kecil dan “diremehkan” sampai 30 tahun kemudian, salah satu varian mobil mewahnya mobil mulai dilirik dan diakui di seluruh pojok dunia.

Bagaimana nasib mobil Esemka? Untuk bisa berhasil tentunya tidak perlu “menjiplak” mentah-mentah pola industri otomotif Jepang seperti yang dipaparkan di atas, karena era-nya berbeda dan tantangannya pun bak langit dan bumi. Jadi keinginan agar nasib mobil Esemka bernasib baik seperti mobil Jepang itu perlu ditiru. Yang perlu disadari esensi untuk merengkuh proyek“ membesarkan” Esemka agar punya “trickle down effect” baik secara ekonomi dan secara sosial tidaklah gampang dan sederhana. masih panjang jalan panjang nan berliku yang perlu dilewati. Bak berlari jauh, perlu nafas kuda untuk berlari marathon sepanjang 42,195 Km. Bukan lomba lari sprint 100 meter, yang kurang dari 15 detik usai sudah. Jadi setiap elemen bangsa ini wajib menjaganya, agar proyek ini tidak sekedar proyek “gagah-gagahan” bermuatan politis nan lebay, tapi harus punya kontribusi secara ekonomi yang bisa direguk setiap komponen bangsa ini.

Yuk kita berlari marathon untuk memulai hajat besar ini !! Untuk Garuda di dada!

Credit Photo : www.solopos.com

Previous

Mengkonversi Obrolan Jadi Rekomendasi Pembelian

Next

Menuju UKM Tidak Satu Titik

7 Comments

  1. angga

    SETUJU!!! Ayo Mas Doni.. Mungkin bisa langsung aplikasiin ilmunya ke temen2 di Solo. Apakah udah ada kontak langsung dengan mereka?

  2. Hery M

    Mas Doni artikelnya bagus, saya sepakat dukungan supply chain seperti yang dimiliki industri otomotif Jepang bisa
    men”sejahtera”kan para pelaku di industri otomotif.

    Untuk mobil esemka ini apakah sudah ada info bagaimana mereka membangun rantai pasokan tsb ya? Kalau lokal kontennya
    80% berarti banyak sekali komponen buatan dalam negerinya.

    Saigoni narimashu ga, kalau saya tidak salah huruf “Kei” di Keijidousha itu memakai kanji ringan, CMIIW.

    • @Hery M : Mas Hery, saya belum mengontak dan bertemu dengan para “pekerja keras” dari Solo, tapi saya menduga kalau toh ada supply chain yang terintegrasi merupakan PR yang menghadang yang harus direngkuh agar “trickle down effect” ini bisa bermanfaat bagi banyak level. Tapi langkah awal yang perlu dilakukan adalah menjadikan proyek ini kedepan lebih terencana dan diseriusi, bukan lahan “politis” untuk mencari “domplengan”.

      Sangat betul sekali “kei” di Keijidousha adalah kanji “karui”, kebetulan tidak saya cek lagi, terima kasih diingatkan. Mas Hery, Doumo….:)

      • Sing penting mereka itu semua mampu menginspirasi Bangsa Indonesia. Walau sekecil apapun peran mereka PASTI akan menggelindingkan KEMANDIRIAN BANGSA…..dari dulu koq dijajah terus….ingat perang asymetris salah satu komponen serangan adalah melemahkan kekuatan bangsa dhewek….hindarkan kalimat-kalimat pesimistis. Hidup Mas Donny yang telah menjelaskan dengan pas “peristiwa” ini…….Kalau semua komponen Bangsa pada cerdas semua, insyaAllah saya yakin hari hari kita tidak hanay diisi dengan berita korupsi, tawuran, percekcokan dsb. Suwun Mas Donny atas tulisannya ini.

  3. Mantab Pak Doni!

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén