Merindukan Merek Indonesia Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Merindukan Merek Indonesia Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri Merindukan Merek Indonesia Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri love indonesia

Currently, Asia Consumers are willing to pay a premium only for the likes of Apple, BMW, Omega, and similar Western Brands that provide not only security of implicit guaranteed quality, but also the unique emotional dimensions that create personal and bonding resonance” (The Brutal Truth About Asian Branding : And How to Break The Vicious Cycle, Joseph Baladi).

Beberapa saat lalu, menjelang iPad diluncurkan di beberapa kota besar di Asia, beberapa pembeli sudah mengantri di beberapa toko sebelum toko tersebut dibuka di Tokyo, Hong Kong dan Singapura. Ternyata hal yang sama terjadi di Jakarta, antrian mengular, seakan konsumen “tidak sudi” ketinggalan untuk tidak segera mengulak-kulik iPad yang canggih tersebut. Fenomena di atas seakan mengamini riset yang diadakan salah satu perusahaan riset yang mencatat perilaku konsumen Asia di kota-kota besar Asia, 8 dari 10 warga Asia lebih “menyukai” merek Barat ketimbang merek Asia, dengan perkecualian beberapa merek Jepang dan Korea Selatan.

Di Indonesia sendiri, “gempuran” merek Barat memang begitu mencengkram di negeri ini, contoh paling telanjang yang mudah dijadikan contoh adalah produk kopi, sebagai salah satu negeri penghasil kopi dunia, kita seakan termehek-mehek menghadapi gempuran sebuah kedai kopi dari sebuah Negara yang secara tradisi bukan penghasil kopi. Agak memilukan memang. Kalau Jakarta dijadikan barometer, cobalah sejenak mengamati billboard, neon-box, halte, hingga badan bus kota disela-sela kemacetan yang mendera Jakarta, bisa dipastikan 90% dari mereka adalah merek-merek Barat yang sering ditahbiskan sebagai “merek global”. Sedemikian jauhnya negeri ini “dikangkangi” merek Barat?

Syukurlah di tengah “penjajahan” merek yang menggila, masih ada beberapa merek asli Indonesia yang mampu “menyembul” diantara sesaknya merek-merek asing yang meraja. Sebutlah merek Viva, Mustika Ayu, Sari Ayu ditengah kepungan Revlon, L’Oreal, YSL, Body Shop, Olay, dll. Sementara walaupun agak sulit dicari gerainya, gerai busana Iwan Tirta, Samuel Watimena, Biyan, mencoba bertahan diantara ramainya outlet milik Mango, Mark&Spencer, Hugo Boss, Giorgio Armani, dll.

Bahkan beberapa merek asli Indonesia ada yang mampu melakukan panetrasi ke luar negeri, seperti sepeda Polygon buatan PT.Insera Sena dari Sidoarjo yang berhasil menembus pasar Singapura, Malaysia, Australia. Excelso (dengan Kopi Kapal Api-nya), Extra Joss, Essenza pabrik keramik buatan PT.Intikeramik Alamsari Industri dari Tangerang sukses menembus 26 pasar Negara Asing, termasuk Italia, Amerika Serikat dan Singapura (Baca Laporan Utama Swa Edisi 14/XXVII/7-17 Juli 2011 tentang Top 250 Indonesia Original Brands). Mengagumkan aksi perjalanan yang mereka lakukan. Walaupun harus diakui secara jujur, jumlah merek asli Indonesia yang mampu “berbicara” di pentas global sangatlah “njomplang” dengan komposisi merek global yang “mengerjai” pasar kita.

Menarik membaca ulasan Baladi di bukunya berjudul The Brutal Truth About Asian Branding, yang mencatat beberapa kesalahan mengapa merek Asia gagal untuk mendapatkan sudut hati dari para konsumennya yang bermukim di Asia. Ada beberapa catatan menarik dari Baladi yang bisa di-share di sini (mudah-mudah resensi bukunya akan saya coba share secara utuh di blog ini di sesi lainnya) :

Pertama, berdasar pengalaman Baladi, Para CEO perusahaan Asia dalam menahkodai perusahaannya di-drive karena keinginan kuat semata “mencetak uang”, bukan dari “passion”. Menurut catatan Baladi, para CEO perusahaan Asia terkadang merasa “sok pintar” meskipun baru sukses di skala lokal dan domestik, sehingga kedodoran dalam membangun “merek” dalam konteks visi dan skala yang lebih luas. Ini salah satu sebab mendasar yang digaris bawahi Baladi mengapa merek Asia “gagal” mendapatkan hati dari para konsumen dari Asia. Baladi menyebut fenomena ini sebagai “Myopic CEO Leadership.”

Kedua, Kultur perusahaan (corporate culture) di beberapa perusahaan Asia “dibangun” dan “ditata” bak air mengalir, bukan karena didesain dan dipersiapkan dari awal. Sehingga menurut catatan Baladi, kebanyakan perusahaan Asia yang banyak didominasi perusahaan keluarga, rata-rata menjadikan CEO adalah “pemimpin” adalah selalu harus diamini, nyaris tidak pernah digugat. Pendekatan ini menyebabkan para anak buah yang beride cemerlang “tenggelam”, karena takut idenya berseberangan dengan “Big Boss”. Memang tidak semua perusahaan Asia seperti itu, tapi menurut Baladi beberapa perusahaan di Indonesia, Malaysia dan Thailand ada kecenderungan seperti itu. Perilaku ini menyebabkan progress dalam pembangunan menjadi lamban, sehingga daya inovasinya melemah. Dan hal ini disebutnya vicious cycle (lingkaran berputar yang tidak berujung).

Barangkali sentilan Baladi di atas bisa kita jadikan pembelajaran. Kita semuanya tentunya sangat mengharapkan setelah hampir 66 tahun merdeka, merek-merek asli Indonesia mampu “berkiprah” setidaknya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Masak iya sih kita dijadikan pembeli merek asing terus menerus?

*Tulisan ini didedikasikan untuk beberapa merek asli Indonesia yang mampu berumur panjang seperti Kopi Bubuk Warung Tinggi, Cap Badak, Bumiputera, Nyonya Meneer, Jamu Djago, Keris, Kapal Api . Mereka adalah merek-merek Asli Indonesia yang telah berkiprah di atas 80 tahun.

Photo Credit : www.zazzle.com

Previous

Meneropong Kekuatan Diri dan Lipat Gandakan

Next

Desa Gandusari : Membangun Bisnis untuk Petani

2 Comments

  1. Wisnu Gardjito

    Pak Donny yang cinta produk nasional bermutu……
    Terima kasih atas posting-an yang saya anggap sangat penting ini. Mengapa penting ? Karena dalam dunia bisnis, merk adalah identitas, dan identitas menjadi semacam “pangkat” atas mutu (quality) dari suatu produk. Lucu ya jalan berpikirnya ? Padahal yang saya temui, banyak merk GOMBAL begitu tinggi di TOM (Top of Mind)-nya konsumen Indonesia. Padahal seringkali saya temui produk Indonesia yang SANGAT BURUK MUTUNYA (terutama bagi kesehatan) namun begitu digandrungi oleh konsumen. Semoga produk seperti itu dapat segera diganti dengan produk bermutu tinggi asli Indonesia. Apakah ada ? Ada. Contohnya adalah aneka produk yang berkaitan dengan The Green Coco Island (TGCI). Mohon doanya agar upaya rekan-rekan se-Indonesia yang sedang mengembangkan TGCI bersama saya dapat menancapkan Brand Equity yang kuat di benak konsumen dunia termasuk orang Indonesia. Sukses Pak Donny…..and have a nice day……..

    • @Pak Wisnu : Semoga merek-merek milik negeri segera menjadi “tuan rumah” di negeri sendiri, terima kasih Dr.Wisnu berkenan mampir dan memberikan ulasan 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén