Meretas Pindah Kuadran Agar Tidak Berdarah-darah

Meretas pindah kuadran Meretas Pindah Kuadran Agar Tidak Berdarah-darah Meretas Pindah Kuadran Agar Tidak Berdarah-darah meretas pindah kuadran
He who loses wealth loses much; He who loses a friend loses more; but who loses his courage…loses all (Miguel de Cervantes)

Dalam sebuah berita di sebuah harian Kompas, 21 Oktober 2009 memberitakan 1200 pegawai Telkom mengajukan pensiun dini, dan sejak 2002-2009 total sudah 12.000 karyawan telah mengikuti program pensiun dini. Berita singkat tadi jadi mengingatkan saya akan seorang kawan, sebut saja Pak Adi, yang ikut program serupa di instansi lain dengan tujuan meretas bisnis sendiri. “ Uang Golden-shake-hand yang aku terima akan aku gunakan untuk membuka bisnis A”, ceritanya dengan mimik penuh semangat menyala dan keyakinan nan dalam. “Kata Kiyosaki kita harus pindah kuadran kanan kalau ingin sukses”, sambungnya lagi. Kiyosaki yang dimaksud adalah pengarang kenamaan bernama Robert Kiyosaki, yang beberapa bukunya menjadi best-seller seperti Rich Dad Poor Dad, Cash Flow Quandrant.

Beberapa bulan kemudian saya mendengar kondisi Pak Adi dalam kondisi yang “cukup sulit”, perusahaan yang dia dirikan dengan uang pensiun dini ambruk, pakaian yang disandang biasanya keren dan wangi mendadak muram dan kusut, sementara lilitan uang hutang dan tagihan kartu kredit membumbung dan sisa uang pensiun muda pun menguap sudah. Singkat kata, sedih nian nasib kawan saya ini, seakan jabatan manager yang dulu pernah disandangnya bak lenyap dari raut mukanya, mungkin karena beban hidup yang berat menyambanginya ketika kita mengobrol bersamanya. “Korban Kiyosaki lagi nih….”, bisik seorang kawan.

Cerita diatas adalah cerita yang benar-benar terjadi dan sering terjadi. Di banyak kasus selalu prolog yang diucapkan ketika memulai usaha sendiri karena “bersemangat” pindah kuadran setelah membaca buku dari Kiyosaki dan semacamnya. Artikel ini sama sekali tidak diniati men-discourage pembaca untuk berpindah kuadran, namun fakta lapangan menunjukkan “ketidaksiapan” pindah kuadran dari karyawan menjadi wirausaha. Mengandalkan semangat yang meledak-ledak saja tidaklah cukup.

Untuk berpindah kuadran, bekal uang golden-shake-hand semata tanpa dibarengi mind-set wirausaha yang kokoh akan membuat kita terpelanting. Seringkali attitude waktu masih ngantor terbawa ketika men-set up usaha baru. Ingat, semua harus kita set up sendiri bahkan di awal-awal pendirian, yang biasanya di kantor lama dikerjakan orang lain, terkadang acapkali harus kita kerjakan sendiri. Kala ngantor kita tinggal ikuti SOP (standard Operational Procedure) yang berlaku, sekarang Anda sendiri harus merancang SOP itu untuk karyawan yang Anda pimpin. Kalau di kantor lama tiap akhir bulan kita menerima gaji, di usaha sendiri belum tentu kita dapat gaji, sebaliknya membayar gaji buat karyawan baru kita itu pasti.

Dulu ketika diawal-awal perusahaan penulis berdiri, seringkali saya harus presentasi di hadapan klien sendiri, ketik penawaran invoice sendiri, dan men-deliver-nya sendiri. Pekerjaan-pekerjaan yang tidak terpikirkan waktu ngantor dulunya, mendadak sontak kudu dilakoni sendiri. Bisa ditebak apa yang terjadi, rasa “kikuk” yang mendera seringkali menyebabkan misi hijrah kuadran tadi, acapkali berakhir dengan kemuraman seperti yang dialami cerita teman saya diatas. Ada yang tidak bisa melakoninya, ada yang menyadari hal itu, tapi ketika mau bangkit, kehabisan bensin, hanya sedikit yang mampu menyadarinya dan segera mengubah “ritme” kerjanya. Jadi kalau sudah berkomitmen hijrah kuadran harus dibarengi juga komitment memindah mind-set Anda pula.

Ketika Anda sudah memutuskan hijrah ke kuadran sebelah kanan, apa yang harus dilakukan agar tidak terpelanting berdarah-darah seperti temen saya, ada beberapa tips pilihan yang bisa dilakukan :

Yang pertama, karena mengubah ritme 360 derajat dari kuadran kiri ke kanan tidaklah semudah mengklik mouse computer, ada baiknya melakukan apa yang saya sebut sebagai “double Quadrant”, yakni masih tetap “ngantor” tetapi punya suatu usaha yang dijalankan orang lain (saudara/kolega/teman). Langkah ini pernah saya jalankan, karena saya sempet ciut juga langsung mencebur di kuadran kanan. Isu krusial di sini adalah menemukan patner yang jujur sekaligus kompeten. Kalau gagal, rontoknya sebuah usaha akan menjadi keniscayaan juga. Di samping itu kita harus menyiapkan stamina dobel untuk itu, karena Anda harus menyediakan waktu untuk “mengontrol” dan “memupuk” usaha itu. Kalau temen lain pulang kantor bisa langsung pulang atau clubbing, Anda harus meluncur ke kantor kedua Anda untuk itu. Lumayan capek, tapi kalau sampai rontok, kaki di “sebelah kiri” akan menyelamatkan Anda agar tidak berdarah-darah seperti kasus kawan saya tadi.

Kedua, kalau kemantapan pindah kuadran sudah sampai ubun-ubun, ndak bisa direm lagi, siapkanlah amunisi. Setelah menemukan bisnis yang cocok dijalankan, pastikan anda punya “amunisi” setidaknya minimal 12 bulan gaji yang biasa diterima. Jadi kalau apa-apa terjadi pada usaha Anda, gak perlulah tidur di trotoar (he..he…he…). Apalagi kalau ketika memulainya Anda sudah berkeluarga, disamping punya amunisi lebih, saya sarankan “mendiskusikan” seksama pilihan ini dengan keluarga Anda. Jangan sampai pindah kuadran, keluarga Anda jadi menggelandang di trotoar, atau Anda “dipecat” sebagai menantu oleh Bapak mertua kita …..kan gawat 

Akhirnya pindah kuadran adalah sebuah pilihan hidup…..life is a choice kata orang bijak. Tapi saya selalu mengelus dada kalau cerita sedih di atas selalu menggelayuti rekan-rekan yang bersemangat pindah kuadran berulang dan terus berulang. Pilihan menjadi Kepala Kucing daripada Ekor Singa penuh konsekuensi, termasuk memindah comfort zone yang menggelayuti Anda. Beranikah Anda pindah kuadran? So….the choice is yours, gentlemen.

credit photo by : dan’sdumpster’s@flickr.com

Previous

Angin Perubahan agar Sang Gajah Bisa Menari

Next

Kisah Mantan Follower Market dari Negeri Gingseng

16 Comments

  1. Weka

    Nasihat ini anggaplah sebagai provokasi, semoga banyak yang berani mencoba, tetapi tentu saja dengan hati-hati.

    Seorang yang mudah terprovokasi tapi ia kurang hati-hati maka ia disebut penjudi atau spekulan. Jika berhasil memang nasib berubah drastis :), tetapi jika gagal maka ia kan merana.

    Seorang dengan n. ach tinggi maka ia justru bertindak hati-hati, jika berhasil adalah karena jerih payahnya, tetapi jika rugi ia tidak akan mati, agaknya Donny dalam memberi advice mencoba menggairahkan n. ach kita, dan menurut saya ini tepat 🙂

    akhirnya well begun is help done 🙂

    • @Weka: Terima kasih atas ulasannya, tapi ada baiknya Pak Weka bersedia sharing kepada pembaca Blog Manuver Bisnis tentang n.ach secara singkat ?

      • Weka

        N. Ach atau biasa dikenal dengan Need for Achievement atau kebutuhan berprestasi diperkenalkan oleh seorang ilmuwan terkenal (psikolog sosial), bernama: David Mclelland.

        Dia memulai penelitiannya dengan mempelajari efek kesuksesan seseorang dengan cerita/dongeng yang berkembang di daerah/lingkungan sekitar, di beberapa daerah di penjuru dunia.

        Hasilnya, ada keterkaitan antara cerita rakyat yang berkembang dengan sikap dan mental seseorang dalam berprestasi.

        Singkatnya, pada akhirnya Mcleland menyimpulkan bahwa ada keterkaitan antara kesuksesan seseorang dengan folklore yang berkembang di daerah tersebut. Dari situ dia menyimpulkan bahwa n. ach atau kebutuhan akan prestasi dapat ditularkan. artinya kebutuhan berprestasi bisa diibaratkan suatu virus yang dapat ditularkan untuk memotivasi seseorang.

        Ada istilah lain yang setara; n.pow (need for power), dan n. aff (need for affilitation) yang bisa dilihat dibuku2 psikologi sosial 🙂

        mungkin demikian penjelasan u/ penanya yg tdk mau disebut namanya kawan Donny 🙂

  2. Great posting. Apakah intrapreneurship bisa dibangun untuk melatih entrepreneurship?

    Btw, ingin belajar marketing dan sharing marketing ideas? Please check this out http://kopicoklat.com

    • Arif: Terima kasih mau mampir….prinsipnya bisa…tapi sejatinya entrepreneurship adalah “melakukan”….just do it…tanpa “roh”-nya gak dapat………

  3. waktu saya membaca buku tentang berbisnis ada yang menyebutkan senjata utama dalam berbisnis itu ada keberanian bukan keuangan,tapi setelah membaca blog pak donny yang mencontohkan seseorang pak Adi yang mempunyai keberanian + uang (hasil pensiunan) tapi tetap saja ambruk….mungkin ada sedikit masukan dari pak donny atau para pembaca setiap blog manuver bisnis untuk menetapkan keyakinan bahwa menjadi kepala kucing lebih baik dari pada ekor singa? mohon bimbingannya? bener ga yah 90% rejeki datang klo kita jadi pedagang (berbisnis) trus kiat apa yang dibutuhkan kalo ingin berbisnis yang dipunyai hanyalah keberanian….

    • @Arief : Mungkin ada temen-temen berkenan sharing kepada Pak Arief? disamping berani, melakoninya sepenuh hati juga penting, gak boleh setengah-setengah…..

  4. Benar sekali life is choice, but the choice is yours. Biasanya kalau orang sudah ada di comfort zone akan sulit lepas dari kebiasaan lamanya. Berbisnis sama sekali berbeda dengan pekerjaan kantoran. Di kasus pak Adi ini jelas sekali, beliau kurang memperhatikan perencanaan dengan matang. Mungkin dari sisi finansial beliau telah siap tetapi dari sisi mental, yang sangat penting jika ingin pindah kuadran – harus benar-benar diperhatikan. Bisnis memerlukan perencanaan yang matang secara teknikal dan suatu seni yang bagi sebagian orang akan sangat mudah menjalankannya tetapi bagi sebagian yang lain akan sulit. Bisnis memerlukan keduanya, kalaupun cuma salah satu yang dimiliki (teknik – art) kita bisa mengajak orang lain untuk berbisnis, mungkin tidak usah terlalu jauh, dari istri/suami, anak, tetangga ataupun saudara. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, kita pasti memerlukan orang lain untuk bekerja sama. Sukses bukan cuma dibangun atas kerja keras kita sendiri tetapi juga memerlukan kerja keras dari orang lain.

  5. donkmarch

    Hallo Pa Donny, sesuai janji saya untuk mampir & kasih koment diblog ini.

    Very inspiring tulisan2 di blog ini khususnya di bahasan ini (pindah kuadran). Tak pelak Koyisaki menyadarkan kita bahwa “kalau mau kaya jangan jadi karyawan, jadilah pengusaha” namun sayang banyak dari kita yang terlampui emosional menanggapi itu, sehingga pindah kuadran dengan berdarah2.
    Pengalaman saya pribadi memang menunjukan 1 s.d 2 tahun merupakan awal yang sulit untuk memulai bisnis, cashflow harus bener2 diperhatikan, biaya hidup yang meningkat jg harus diperhitungkan dan banyak hal lain.
    Apalagi untuk insan pegawai yang sudah puluhan tahun terbiasa di “comfort zone” akan memerlukan perubahan mental, paradigma, hingga gengsi. Solusi yang bijak tentunya spt Pa Donny tulis diatas.
    Good Article don..

    • @Donkmarch: Wah, terima kasih neeh mau mampir sekaligus ulasannya, sidang pembaca Blog Manuver Bisnis mendapatkan “amunisi” sharing, kebetulan Pak Don juga telah melakukan “hijrah kuadran”…..kapan-kapan sharing lika-liku bisnisnya…ditunggu lho 🙂

  6. buat saya pribadi ngak ada salahnya buku motivasi tapi yahhh.. terlalu bnyk bisa membuat tak bergerak

  7. arif

    saya sendiri tidak terlalu percaya dengan mas kiyosaki, kalo gak salah pernah ada buku yang mengatakan bahwa “poor dad” dibukunya kiyosaki di dunia nyata malah yang lebih”sukses” dibanding sang “rich dad”. Kiyosaki (menurut rumor)baru bisa pindah kuadran sejak bukunya jadi best seller di mana-mana. Btw, Rhenald kashali pernah mengatakan (kalo gak salah sekitar tahun 1999) bahwa hancurnya bisnis new beginners karena mereka tidak mau memulai dari yang kecil. Para pebisnis pemula, kadang memulai bisnis berbekalkan rumor, langsung membenamkan dana yang dimiliki (dalam salah satu kasus dari shake hand phk)ke dalam bisnis yang sama sekali belum dikuasainya. Ibaratnya kalau mau beternak itik, mereka maunya langsung mau memiliki bisnis per’itik’an dari hulu sampai ke hilir dengan langsung beternak ribuan itik. Padahal mereka harusnya beternak mulai dari, katakanlah 10 ekor dulu, apa kendalanya, bagaimana pasarnya,dll bukannya langsung menjadi besar. Jadi intinya, mulailah dari yang kecil sampai kita menguasai baru ke tahap selanjutnya.Mungkin begitu mas Donny..

    • @Arif : something to ponder….tapi saya beberapa kali melihat rontoknya bisnis gara-gara langsung ingin “instan” dengan jumlah investasi gedhe….ya bisnis yang dimulai dari kecil lebih solid saya pikir Mas Arif Mustofa….terima kasih sharingnya Mas 🙂

  8. ohim

    nggak salah pindah quadrant. yang bahaya adalah sudah tahu gajinya segitu, tapi tetap aja kagak mau usaha (ngedumel lagi…wah…wah). So, kurang tepat juga kalau dikatakan, pegawai kantoran adalah tempat comfort zone, bagaimana mau comfort, wong gajinya naik setahun sekali,…he…he sementara harga-harga, hampir tiap hari naik).

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén