“Merekonstruksi” Fakultas Ekonomi

"Merekonstruksi" Fakultas Ekonomi "Merekonstruksi" Fakultas Ekonomi professionals1

“Jadi kalau temen-temen yang dulu kebanyakan nilainya A, rata-rata menjadi dosen, researcher, atau kerja di sebuah perusahaan konsultan. Yang mendapat nilai rata-rata B rata-rata mereka bekerja sebagai profesional, baik di institusi negeri maupun swasta. Sedangkan yang nilainya C atau pas-pasan mereka membuka usaha kecil-kecilan sendiri”, ungkap seorang konsultan manajemen terkenal, ketika saya menghadiri seminarnya di kota Gudeg Jogja semasa kuliah beberapa tahun lalu.

Kalau Anda bertandang di sebuah Universitas di Indonesia, coba Anda cermati deretan nama fakultas-fakultas di universitas yang ada di Indonesia. Mungkin ada universitas yang mempunyai fakultas biologi tetapi ada sebagian yang tidak mempunyai. Ada yang mempunyai fakultas kedokteran, ada yang tidak mempunyai. Tetapi coba Anda perhatian untuk fakultas ekonomi–di sebagian universitas ada yang bermetamorfosis menjadi fakultas ekonomika dan bisnis– Hampir semua universitas mulai dari “sayup-sayup terdengar” sampai yang tataran universitas kelas elit hampir dipastikan mempunyai fakultas yang satu ini. Adalah hal langka, sebuah universitas tidak mempunyai fakultas ekonomi di Republik ini.

Setali tiga uang, untuk program strata 2 (master degree) pun idem-ditto. Institusi yang tidak mempunyai core pendidikan bisnis dan manajemen pun rata-rata beramai-ramai mendirikan “sekolah bisnis”. Walaupun kebanyakan mahasiswanya bukan “orang yang berbisnis” tetapi “profesional sebuah institusi bisnis”. Agaknya berbicara data di atas merupakan kecenderungan positif yang perlu diapresiasi. Masalahnya sekarang adalah, mengapa dengan jumlah fakultas ekonomi yang ada dimana-mana, jumlah perusahaan made in di Indonesia yang didirikan tidaklah sebanding dengan jumlah lulusan yang dihasilkan fakultas ekonomi ini? Salahnya dimana?

Pertama, pengalaman mengecap kuliah di fakultas ekonomi, saya melihat silabus-silabus pelajaran yang diintrodusir lebih “menekankan” pada bagaimana “mengelola” perusahaan yang besar dan mapan. Jadi paradigma pelajarannya lebih mengacu bagaimana kalau lulus nantinya bekerja di perusahaan multinational. Jadi soal dan studi kasus yang dibahas lebih diasumsikan untuk kesiapan untuk bekerja di perusahaan dengan SOP yang tertata rapi. Bagaimana banyak perusahaan made in Indonesia bakal lahir kalau semua pelajaran mengarah ke situ? Karena tidak ada perusahaan yang besar tanpa meretas dulu dari perusahaan yang kecil. Hal ini sekaligus menjawab mengapa banyak lulusan baru “betah” nganggur menunggu panggilan kerja, ketimbang meretas membangun sebuah perusahaan walaupun kecil-kecilan. Mereka merasa di “set-up” bekerja di perusahaan besar dan mapan, bukan membuka perusahaan sendiri.

Kedua, seperti yang sebut di prolog artikel ini yang dikemukakan oleh seorang konsultan, mendirikan usaha sendiri dianggap manifestasi dari “kebodohan” atau menunjukkan ketidakberhasilan dan hanya dilakukan lulusan yang hasil akademisnya jeblok. Orang tua atau calon mertua lebih “sreg” kalau anak atau menantunya bekerja di sebuah perusahaan ketimbang mendirikan perusahaan sendiri, ini sekaligus menjawab soal mengapa tidak banyak lulusan yang nilai akademisnya bagus emoh mendirikan dan meretas usaha sendiri. “Ini berarti saya tidak mampu bersaing dong, dianggap bodoh” itulah alasan yang sering hadir, alhasil semua lulusan universitas berlari ke satu titik. Beramai-ramai “mengeroyok” lowongan kerja yang semakin ciut menjadi sebuah fenomena lumrah, menjadikan permintaan dan penawaran pun njomplang. Penggangguran terdidik pun mekar dimana-mana.

Melihat fakta di atas, fakultas ekonomi harus berubah, mau tidak mau silabus-silabus yang lebih menekankan untuk bekerja di perusahaan besar harus mulai direduksi. Silabus pelajaran yang merangsang lahirnya “perusahaan” baru bermunculan harus segera diinisiasi. Misalnya membuat proposal bisnis sendiri, mendesain business model baru yang belum ada, membangun kongsi bisnis barangkali harus mulai dikenalkan, agar fakultas ekonomi tidak sekedar menghasilkan “orang berdasi” tetapi juga orang-orang yang mampu “membuka lapangan kerja” untuk orang berdasi. Ini Berarti ujian-ujian mata kuliah yang mengandalkan aspek “hapalan” mulai diganti tes-tes praktek bisnis yang lebih membumi (best practice).

Sudah saatnya juga sekolah bisnis dan fakultas ekonomi mulai memberikan ruang bagi alumni-nya yang berhasil meretas membangun perusahaan sendiri. Hall of fame untuk para alumni tidak hanya diberikan kepada mereka yang karier-nya menjulang sebagai manager, direktur tetapi juga alumni yang berhasil menyerap tenaga kerja paling banyak misalnya. Kalau hal-hal di atas bisa diterapkan, penggangguran yang mendera di negeri ini bisa sedikit direduksi, dan fakultas Ekonomi bisa lebih proporsional mencetak alumninya tidak hanya sebagai profesional semata, tetapi melahirkan alumni yang mampu mendirikan perusahaan yang membuka lapangan kerja yang luas. Kementerian Pendidikan Nasional agaknya harus berani menjemput bola untuk hal ini.

Credit Photo : www.blueroof.wordpress.com

Previous

Komunitas dan Investasi Emosional

Next

Menyimak Kota Pro Bisnis

7 Comments

  1. Angga

    Mantabz analisisnya.. Visibility untuk mewujudkan kondisi ini juga bukan mustahil. Tingkat saving kita jauh di atas investasi, so sebenernya bank2 di indonesia masih kekurangan tempat untuk memutar uangnya. Paradigma baru ini merupakan salah satu cara untuk mempererat sektor riil dan keuangan, sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai perbankan Islam yang makin menjamur di negara kita. So, potensi dan peluang memang sudah ada cuma satu permasalahannya, kita mau atau tidak melakukannya..
    Tulisannya makin mantab hari ke hari niy.. Sukses selalu Mas Don!

    • @Angga : Betul sekali, sektor riil tidak akan menggelegak kalau “the man behind the gun” tidak mau atau tidak berani mengambil inisiatif membangun sebuah usaha/perusahaan sendiri. Insightful comment Angga-san 🙂 gimana nih thesis-nya ? lancar kan…enjoy natsu di Jepang 🙂

  2. Grandy

    Abang Donny, saya pikir persoalan di atas jangan dilihat dari satu sisi saja. Masalah ‘keabsahan’ fakultas ekonomi sebenarnya harus dilihat juga bagaimana pola pendidikan di Indonesia. Saya yakin, bila di hampir seluruh mahasiswa ekonomi di Indonesia ini, ingin masuk ke fakultas ekonomi hanya ikut-ikutan trend. Entah trend ‘kalo masuk fakultas ekonomi pasti jadi manager’ atau trend yang lain. Bukan karena sebuah konsep yang matang dari si mahasiswa itu sendiri. Coba kita lihat saja paper atau karya tulis anak-anak fakultas ekonomi. Paling cuman begitu-begitu saja. Dari 100.000 mahasiswa ekonomi, mungkin cuma 1 mahasiswa yang tulisannya memang berbobot. Saya tidak mau sok bagaimana, tapi saya sendiri pun mengalaminya. Saya akui tulisan-tulisan saya pada jaman kuliah dulu gak lebih dari pada copy paste saja, tanpa adanya dukungan analisa dan metodologi yang kuat.
    Pendirian fakultas ekonomi dimana-mana pun saya pikir hanya bentuk dari trend yang mana oleh seluruh universitas di Indonesia ini dianggap bisa sebagai SAPI PERAHnya kampus. Fakultas ekonomi hanya dijual sebatas konsep, dan yang penting bisa mendatangkan uang yang banyak.
    Saya pikir kalau ingin merekonstruksi fakultas ekonomi, harus dipahami lagi prinsip pendidikan itu sendiri. Apakah pendidikan itu hanya sebatas nilai-nilai ujian, atau memang untuk membangun manusia yang seutuhnya…seperti yang selalu didengungkan oleh pendiri negara kita, Bapak Soekarno……

    • @Grandy : Grandy-san, observasi yang jernih. Tetapi titik tekan artikel ini lebih menyorot pada silabus yang kurang “pro” untuk berbisnis di fakultas ekonomi yang notabene dibutuhkan negeri ini. Apa yang Anda paparkan memang fakta yang kita rasakan sebagai orang yang pernah kuliah di fakultas ekonomi. Tapi itu merupakan problem lain yang perlu dicarikan solusi lain. Ini agar setiap problem bisa dipilah satu persatu untuk dicarikan solusinya. komento…Arigatou Grandy-san 🙂

  3. pikri

    Suatu pernghargaan yg tinggi bagi tulisan ini layak diberikan.. Perlu menjadi perhatian adalah bahwa pemikiran dan tulisan yang lebih komperehensif sdh amat sangat banyak.. Bahkan kalau disusun, lalu dijual sudah dapat menjadi nilai bisnis tersendiri..
    Kembali ke negeri ini, kenapa pemikiran positif dan konsep aplikatif yg amat banyak itu tdk bergerak menuju perbaikan yg signifikan..?!
    Negeri ini seperti tanpa pilot.. tanpa main stream ekonomi yg jelas.. tanpa dimengerti oleh mayoritas masyarakatnya.. Anak negeri ini lebih banyak hidup survive saja..
    Kebijakan ekonomi negeri ini sudah puluhan tahun tidak menguntungkan negeri ini secara signifikan.. Punggawa2 yg ada mestinya lempar handuk, dan malu.. Jika perlu robek saja ijazah2 yg ada..

    • @Pikri : Bang Pikri, lugas sekali komentarnya 🙂 terima kasih atas atensinya, yang perlu sekarang adalah menjaga “bara” semangat ke depan agar perubahan yang lebih baik untuk negeri selalu berjalan dan di track yang benar 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén