Mercu Suar untuk Berbisnis di Indonesia

buku lanskap ekonomi indonesia Mercu Suar untuk Berbisnis di Indonesia Mercu Suar untuk Berbisnis di Indonesia buku lanskap ekonomi indonesiaMerupakan sebuah kehormatan bagi saya, seorang yang saya junjung tinggi sebagai guru, Bapak Faisal Basri dan Bapak Haris Munandar bersedia menorehkan dan membagikan langsung intisari tulisan buku beliau terbaru Lanskap Ekonomi Indonesia dalam Blog Manuver Bisnis. Meskipun paparannya sangatlah “makro”, namun ulasan makro tersebut merupakan “mercu suar” yang perlu disimak para pelaku bisnis sebelum menentukan langkah “mikro” di aras bisnis. Buku yang sedikit berat setidaknya menurut saya, but an important macro business book guidance to read. “Buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca”, kata Prof.Boediono, wakil presiden terpilih 2009-2014 dalam orasi sambutannya.

Buku ini, oleh penulisnya, dimaksudkan sebagai sebuah buku umum untuk masyarakat luas. Namun, ini tetap merupakan sebuah buku serius dan menuntut penguasaan kaidah-kaidah ekonomi. Terdiri dari delapan bab padat, ditunjang oleh 177 tabel dan 194 peraga! Topiknya sendiri sangat serius, sehingga memang harus dianalisis secara akademis.

Fokus utama buku adalah tentang kondisi perekonomian Indonesia setelah satu dasawarsa lebih mengalami guncangan dahsyat krisis moneter 1997 yang lantas memburuk menjadi krisis multidimensional dengan berbagai konsekuensi signifikan, mulai dari “turun kelasnya” status ekonomi-sosial bangsa dan runtuhnya Orde Baru yang tak tergoyahkan selama 32 tahun. Buku ini mencoba melihat, apakah perekonomian Indonesia sudah lebih kokoh, ataukah masih menuntut pembenahan besar-besaran di bidang ekonomi maupun bidang-bidang lainnya yang terkait.

Penulis mencatat ada sejumlah kemajuan, namun kemunduran, kesulitan dan tantangannya jauh lebih banyak, baik yang bersifat struktural (sejak lama ada) maupun yang baru muncul setelah Indonesia mengalami transformasi pasca krisis. Indonesia belum menjadi tempat mencari nafkah yang mudah bagi semua penduduknya, paling tidak bagi lebih dari 6 juta WNI yang harus mencari pekerjaan di luar negeri. Meskipun konon merupakan negara agraris, kondisi para petani juga belum membaik secara berarti, demikian pula dengan puluhan juta buruh, guru, dan pelaku UKM.

Ada dua masalah struktural besar yang seharusnya mendapat prioritas, yakni sumber daya manusia yang menyangkut pendidikan dan kesehatan; serta pembenahan infrastruktur, baik yang bersifat fisik maupun non fisik, utamanya pembenahan kerangka kelembagaan.
Ini merupakan tugas besar, karena dalam waktu bersamaan Indonesia harus mengatasi empat masalah baru yang muncul akibat transformasi pasca krisis. Keempatnya adalah: (1) penurunan investasi riil; (2) pengutamaan neraca transaksi berjalan; (3) penurunan daya saing; dan (4) pertumbuhan ekonomi yang tidak seimbang.
Merosotnya investasi (sektor) riil merupakan masalah besar karena hal inilah yang menentukan daya saing ekonomi nasional sehingga mendasari jatuh-bangunnya ekonomi dalam jangka menengah dan panjang. Namun Industri manufaktur dan pertanian yang langsung menentukan produktivitas nasional dan menghidupi banyak orang. Yang lebih berkembang justru sektor finansial (perbankan, pasar modal) dan sektor teknologi tinggi (komunikasi seluler) yang meskipun nilainya besar, namun tidak berhubungan langsung dengan produktivitas dan competitiveness sehingga pada akhirnya sedikit saja berhubungan dengan kesejahteraan mayoritas penduduk.

Perkembangan itu tak lepas dari pergeseran makreokonomi pemerintah yang lebih mementingkan saldo neraca transaksi berjalan guna menampakkan APBN dan neraca pembayaran yang selalu berimbang dan aman. Arus masuk uang berupa utang (melalui instrumen obligasi) pun dianggap sama saja dengan arus masuk hasil ekspor, misalnya, sehingga orientasi ini secara tidak langsung menutupi urgensi penggalakan investasi riil dalam dan luar negeri. Dari waktu ke waktu, pola pertumbuhan ekonomi yang timpang itu terus berlangsung.
Konsekuensinya lebih lanjut adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih tergolong berkembang ini justru mengambil pola khas negara maju. Sektor-sektor yang padat modal dan padat teknologi yang hanya melibatkan segelintir warga terdidik jauh meninggalkan sektor riil padat karya yang menjadi sumber hidup mayoritas penduduk.Pada gilirannya hal ini mengakibatkan pengentasan kemiskinan dan pengurangan pengangguran kian sulit dilaksanakan. Jumlah penganggur dan orang miskin tidak mungkin berkurang kalau lapangan kerja untuk mereka kian sempit. Hal ini turut dibuktikan oleh terus membesarnya sektor informal.

Tidak hanya memaparkan persoalan, buku ini juga mengajukan sejumlah rekomendasi. Penulis menyadari bahwa setiap upaya untuk mengatasi masalah-masalah di atas memerlukan dana sangat besar. Ada tiga usulan yang diajukan berkenaan dengan penyediaan sumber pendanaan guna mengatasi berbagai persoalan itu, yakni (1) pembenahan perpajakan (jangka pendek), (2) BUMN (jangka menengah) dan (3)potensi daerah (jangka panjang).

Potensi pajak Indonesia diperkirakan mencapai 2-3 kali lebih besar dari yang sudah diperoleh. Jika penggalangan pajak itu diitensifkan, dan berbagai korupsi, kelalaian dan politisasi pajak dibendung, maka hanya dalam waktu singkat kemampuan keuangan pemerintah akan berlipat ganda, demikian pula kemampuannya dalam mengatasi berbagai persoalan ekonomi dan sosial bangsa.

BUMN, meskipun dililit banyak masalah, merupakan aktor ekonomi yang dominan. Nilai buku asetnya saja separuh dari GDP. Dalam kedudukan sedominan itu, maka jika dapat dibenahi secara tuntas, BUMN akan menjadi motor raksasa andalan perekonomian nasional. Sebaliknya, jika dibiarkan begitu saja, BUMN akan beban raksasa.

Ada pun kunci jangka panjang untuk tampil sebagai negara maju adalah dengan membuka peluang seluas-luasnya bagi setiap warga negara yang tersebar di semua daerah untuk mengerahkan daya kreasi dalam memanfaatkan potensi dan sumber daya masing-masing. Ini sesuai dengan hakikat pembangunan, bahkan kemerdekaan dan eksistensi kita sebagai sebuah bangsa, yakni sebagai “jembatan emas” untuk memakmurkan seluruh penduduk yang tersebar di berbagai daerah.
Seperti dikemukakan oleh sejumlah pembaca, buku ini tergolong “cukup berat”. Namun di ujungnya buku ini dapat membawa pencerahan bagi siapa saja yang ingin tahu lebih banyak tentang perekonomian bangsa dan negaranya.

Faisal Basri dan Haris Munandar, LANSKAP EKONOMI INDONESIA: Kajian dan Renungan terhadap Masalah-masalah Struktural, Transformasi Baru, dan Prospek Perekonomian Indonesia.Jakarta: Kencana – Prenada Media Group, 2009 (xxxiv + 622 halaman).

Buku ini diluncurkan perdana pada tanggal 7 Oktober 2009 di Hotel Grand Sahid Jaya. Acara ini diprakarsai oleh Irsa, Prenada Group, Red White Communication dan Great Management Consultant. Sambutan utama acara oleh Prof.Dr.Boediono (Wakil Presiden terpilih R.I 2009-2014)

Photo credit By: larisya Advertising

Previous

Wirausaha = Pengembang Bisnis Jaringan

Next

Sang Penantang Pasar itu bernama Yamaha

2 Comments

  1. Weka

    Ibarat seorang arsitek akan membuat design rumah, dia perlu memahami kontur tanah, posisi rumah yang akan d bangun, juga selera calon empunya rumah, demikian juga dengan penuturan buku; landskap ekonomi Indonesia.

    Sekilas saya perhatikan, buku ini memuat berbagai aspek penting berkaitan dengan permasalahan ekonomi bangsa Indonesia, dengan keterkaitan politik didalamnya.

    Belum lamanya kilasan waktu sejarah akan membuat pembacanya lebih enak memahami paparan tulisan tersebut.

    Bahwa materi buku ini cukup berat memang betul, tetapi karena pemahaman wawasan sejarah (kejadian 10 tahunan lalu, semua menjadi saksi dan masih hidup) dan penulisan dengan bahasa yang runtut membuat orang dapat menyimak, meski -kadang- harus mengernyitkan dahi.

    Akhirnya, dari sisi keilmuan, wacana sejarah menjadi dominan pada buku ini, karena yang tertulis merupakan sejarah perjalan bangsa kita dalam masa dekade terakhir, sehingga ini menjadi semacam pengingat bagi ekonom kita, juga politisi kita dalam bertindak dan menyikapi kejadian serupa di masa mendatang.

  2. @Weka: Terima kasih kesediaan untuk mampir di Blog saya untuk kesekian kalinya sekaligus meninggalkan analisanya Pak Weka….nanti masukan tentang Buku Lanskap Ekonomi Indonesia akan saya sampaikan kepada Bapak Faisal Basri langsung…..insya Allah saya ada rencana ketemu beliau minggu…..jangan kapok mampir Blog Manuver Bisnis Pak weka….

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén