Merawat Rumah Ke-2 Menjadi Nyaman

Merawat Rumah Ke-2 Menjadi Nyaman Merawat Rumah Ke-2 Menjadi Nyaman commitment i2healthcare com

Awal tahun ini, saya dikejutkan dengan sebuah berita yang cukup mencengangkan dari seorang kawan dekat yang dulu pernah berkiprah bersama dalam satu organisasi semasa kuliah. “Don aku memutuskan resigned?” katanya datar dari ujung telpon. “Apa? Mengapa Ri?”, tanyaku kaget. “Hari ini aku mengajukan surat pengunduran diri”, katanya mantap sambil menceritakan raison de etre mengapa keputusan itu diambil. Hmmmm….setahu saya perusahaan yang menaungi rekan saya bekerja ini termasuk perusahaan dengan sistem renumerasi bagus (kebetulan bergerak di industri minyak), multi nasional dengan sistem dan SOP yang baku dan terukur transparan. Jabatannya juga tidak kalah mentereng, jabatannya lingkupnya regional, tak ayal wira-wiri antar bandar udara mancanegara sering dilakoninya.

Perusahaan tempat bekerja adalah rumah kedua seseorang. Tak ayal perusahaan pun berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan tempat kedua tersebut dicintai karyawannya. Apalagi kalau karyawan tersebut merupakan “karyawan bening” akan inovasi dan improvisasinya seperti teman saya di atas. Pasti mati-matian untuk dipertahankan. Teman saya di atas sudah berkali-kali mengajukan niat untuk mundur, berkali-kali ditolak dengan diberi kompensasi libur untuk menghindari kejenuhan kerja, dls. Tapi sepertinya kemarin, keinginan untuk hekang sudah tidak bisa direm lagi.

Saya yakin perusahaan yang menaungi teman saya tadi sangatlah kehilangan karyawan bertalenta seperti dia. Tidaklah mudah membangun, membina dan mempertahankan agar perusahaan selalu dicintai karyawannya. Apalagi kalau perusahaan tersebut tergolong kategori menengah keatas yang karyawannya bisa mencapai ratusan hingga ribuan. Wuiiiih…bisa dibayangkan betapa kompleks dan njlimet-nya lalu lintas komunikasinya….walaupun sekarang dengan adanya internet dan piranti canggih lainnya, jarak bukanlah kendala lagi.

Beberapa saat lalu, majalah SWA mengadakan survei menarik untuk memilih Perusahaan Ternyaman Pilihan Karyawan atau Employer of Choice. Ada yang layak kita cermati tentang serangkaian survei yang digelar untuk mengukur hal itu. Model pendekatan yang dilakukan adalah menggunakan model Engaged Performance untuk menilai tingkat komitment karyawan di suatu perusahaan. Ada 5 key driver utama di situ, Kepemimpinan yang efektif (internal effectiveness leadership), kesempatan karyawan untuk maju (talent management), kemampuan perusahaan merespon perubahan eksternal (external business focus), arah perusahaan jangka panjang (internal effectiveness direction) dan keluasaan Karyawan untuk lebih produktif (job enablement).

Mengaca pada kasus yang dialami rekan saya, variable job enablement ini cukup menarik. Di satu sisi perusahaan dapat menuntut karyawan bekerja optimal, tetapi sebaliknya karyawan dapat juga menuntut perusahaan memberikan infrastruktur, program pengembangan, kewenangan, maupun pelatihan yang memadai. Dengan kata lain variable ini akan menelisik lebih jauh sejauh mana tingkat keproduktivitasan karyawan didukung pemberian wewenang, infrakstruktur dari perusahaan. Ini yang menarik, sekarang bukan jamannya lagi semata-semata memilih perusahaan karena uang (salary). Saya menduga perusahaan alpa, dengan hanya menghujani dengan sederetan renemurasi, tentunya akan banyak karyawan berproduktivitas menonjol tetap tinggal, itu belum tentu. Setidaknya ini yang saya lihat pada kasus yang dialami rekan saya di atas.

Temuan menarik lain di survei ini, pada umumnya karyawan di Indonesia masih mengharapkan adanya apa yang saya sebut “sentuhan dari hati ke hati” (human touch) dari pemimpinnya. Jadi, menjadi atasan yang care, jujur, punya perhatian yang sungguh-sungguh masih menjadi dambaan para karyawan. Sehingga pada titik ini, kalau Anda adalah pimpinan, kemampuan dalam melakukan pendekatan personal approach, kemampuan meng-coach yang efektif merupakan poin penting untuk menjaga tim dan karyawan terbaik Anda untuk selalu bersama Anda.

Jadi kalau Anda ingin para karyawan di perusahaan Anda bangga bekerja di perusahaan yang Anda pimpin. Pastikan iklim high performance yang dibangun dengan sentuhanleadership Anda, berdampak pada lahirnya kepuasan kerja (job satisfaction) serta pada gilirannya akan melahirkan solidnya komitment para crew yang Anda pimpin. Temuan survei dari Swa juga membuktikan baru 26 % pemimpin bisnis yang mampu menghadirkan hal itu. Sebuah pekerjaan rumah yang tidak mudah tentunya bagi kita semua. Bagaimana dengan Anda?

Credit photo : www.i2healthcare.com

Previous

CSR atau Customer Loyalty Program?

Next

CEO Perusahaan Asing : Mengapa Tidak?

2 Comments

  1. Kondisi yang sangat kontradiktif Mas Donny. Di saat sebagian orang kesulitan setengah mati untuk mendapatkan kerja, sebagian lagi dengan mudah resign atau pindah perusahaan.

    Tulisan ini sekaligus juga mengingatkan saya saat dengan kondisi saya dulu, saat memutuskan untuk mengajukan resign. Cuma bedanya, tidak ada penolakan sama sekali dari pihak managemen. Maklum saja, cuma karyawan biasa kelas bawah dan tidak berprestasi. Salam (nb. koleksi perangkonya bagaimana perkembangannya Mas ?)

    • @Ardika : Saya sendiri terkadang juga heran juga kagum tetap ada saja talenta-talenta tertentu yang “dipersulit” untuk mengundurkan diri, padahal jabatan dan kompensasi sudah dinaikkan 🙂 Perangko…hehehhee udah tidak mengkoleksi lama sekali tetapi koleksi lama yang saya simpan sejak dulu masih saya simpan Mas Ardika 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén