Menyunat Kemubaziran, Mengakrabi Efisiensi ala Jepang

Menyunat Kemubaziran, Mengakrabi  Efisiensi  ala Jepang Menyunat Kemubaziran, Mengakrabi  Efisiensi  ala Jepang samurai
Proses yang benar akan menghasilkan hasil yang benar “ (The Toyota Way)

Tidak sengaja saya menonton film lama berjudul Last Samurai di sebuah stasiun televisi, sebuah film adi karya lama yang dibintangi oleh Tom Cruise, sebuah film berlatar belakang jaman restorasi meiji, ada salah satu potongan dalam film tersebut yang menggambarkan betapa sejak dulu bangsa Jepang amatlah mengedapankan efisiensi di dalam kehidupan sehari-harinya. Ketika sang lakon Tom Cruise sedang berlatih pedang dari bambu ketika ditawan, dia memamerkan jurus pedang yang sedikit tidak beraturan waktu latih-tanding. Salah satu samurai Jepang berguman “muda”, yang arti harfiahnya mubazir atau tidak perlu. Gerakan yang tidak perlu saja, dianggap inefisiensi (mubazir). Dalam 5 pilar yang digagas Kaizen (perbaikan yang berkesinambungan), reducing waste atau muda merupakan salah pilar penting yang sudah mendarah daging dan terimplementasi dengan kokoh di banyak perusahaan Jepang, salah satunya perusahaan kelas dunia, Toyota. Singkat kata, muda alias waste harus dieliminir di segala sisi untuk “memenangkan pertempuran”.

Di kehidupan kekinian pun perilaku itupun ter-implementasi dengan baik dan bisa dilihat dengan dengan terang benderang di perilaku sehari-hari di sana. Kebetulan saya penggemar makanan sushi, sebuah makanan mirip lemper tetapi diatasnya diberi irisan potongan ikan, udang, cumi, ataupun telor ikan segar. Tetapi, sayang sekali makanan tersebut di Jepang bukanlah kategori makanan “murah”, sekalipun untuk orang Jepang sekalipun, apalagi untuk level saya sebagai pelajar kala itu yang hidupnya pas-pasan. Untuk tetap bisa mencicipi makanan enak tersebut, terkadang saya rela berbelanja agak malam menjelang supermarket tutup, berharap saya bisa mendapatkan sushi tersebut dengan discount/sale yang semakin malam, nilai discount harganya semakin tinggi. Maklum makanan segar, cepat basi. Celakanya, yang berpikir seperti saya cukup banyak, terutama para obasan alias ibu-ibu paruh baya Jepang yang ikut berburu belanja, alhasil “berebut”-lah kita mencomot sushi. Padahal Ibu-Ibu Jepang tadi pendapatannya berlipat kali lebih banyak dari saya yang cuma pelajar. Akhirnya, tidak secuil sushi tersisa dan terbuang, semua tandas terbeli. Pantas saja survey menunjukkan, salah satu tabungan uang terbanyak di dunia, dimonopoli orang-orang Jepang.

Sementara itu, pekerjaan saya sekarang acapkali menuntut keluyuran dari kantor ke kantor untuk “jualan”. Jadi saya mempunyai kesempatan untuk masuk keluar dari kantor klien yang satu ke kantor klien yang lain. Masih sering saya jumpai kemubaziran masih menyelimuti di beberapa perusahaan Indonesia yang saya kunjungi dengan derajat yang berbeda-beda. Mulai dari pemasangan TV LCD segede gaban terpasang megah tapi dibiarkan mati sampai dengan kantor direktur segedhe lapangan futsal dengan dua AC masing-masing 1 PK. Fenomena yang sedikit mengerenyitkan dahi, sebuah Perusahaan yang notabene berorientasi bisnis, tapi perilakunya jauh dari tindak-tanduk yang mencerminkan aksi “berperspektif bisnis”. Terkadang saya memandang dengan heran, apa iya sih disebut sebuah tindakan efisien untuk seorang direktur dengan kantor seluas itu jadi perlu dua AC untuk mendinginkan ruangan tersebut? Terjadi “pemborosan” tidak kentara disana (wah jadi gak enak nih menyindir klien sendiri..he..he..he).

Pernah saya mendapatkan cerita dari rekan yang bekerja di Jepang. Ada serombongan pebisnis dari Indonesia yang datang ke Tokyo membicarakan kelanjutan rencana pinjaman modal kerja dengan mitranya dari Jepang. Tim dari Indonesia yang datang ke pertemuan jamuan dengan serombongan tim seperti mau mengadakan lamaran alias bejibun. Sudah dengan tim banyak (ini niatan mau bernegosiasi atau mau sekedar jalan-jalan?), menyewa pula mobil mewah untuk menunjukkan “kemampuan finasial”-nya. Sementara counterpart-nya dari Jepang, yang notabene sebagai peyandang dana cuman diwakili beberapa orang saja dan datang ke tempat pertemuan dengan datang naik densha (kereta api bawah tanah) yang dilanjutkan dengan jalan kaki di tempat tujuan. Bersahaja, sederhana sekaligus efisien. Pertanyaannya adalah, siapakah sesungguhnya yang meminjam uang dan siapakah yang memberi pinjaman uang?

Tulisan ini jauh sekali dari keinginan untuk terlampau “memuja-muja” pendekatan bisnis orang Jepang, serta “mengolok-olok” pendekatan bisnis bangsa sendiri. Tidak ada salahnya, meniru langkah sukses yang diayunkan orang lain. Pengalaman saya menunjukkan masih seringkali perilaku bangsa kita dalam berbisnis seringkali pendekatannya tidak menunjukkan perilaku yang sering saya istilahkan pro-bisnis. Perilaku tidak efisien dengan pernak-pernik pemborosan, yang terkadang bercampur keinginan show-off (pamer) yang berlebih-lebihan lebih mengemuka ketimbang kalkulasi bisnis nan efisien seperti yang ditunjukkan kolega kita dari Jepang.

Di ketatnya dunia persaingan yang kian menglobal, efisiensi merupakan salah satu pilar utama memenangkan pertempuran bisnis. Pro bisnis, pro efisien.

Credit photo by: takeshi.shimano@flickr.com

Previous

Jurus Jitu Jadi Karyawan No.1

Next

Mengibarkan Merek Berdarah Indonesia di Kancah Dunia

6 Comments

  1. Weka

    menyimak tulisan saudara donny kali ini sungguh membuat saya merenung, sekali lagi soal; sosio-kultur.

    Seakan ingin membantah tp begitulah adanya,
    Ingin mengejek, bagai memukul air di nampan… kena sendiri :p

    Tetapi jika menyimak sejarah, kelahiran wali songo dimasa lalu, yang versi saya saat ini sepert; forum rektor, sesungguhnya karena para ‘rektor’ saat itu jengah melihat kemudaratan dimana2, bahkan mas said, seorang pemuda tanggung d masanya, sempat marah, dan menjadi begal atas upeti kerajaan dan membagi2kannya kepada rakyat. (kelak menjadi ‘rektor’ dg nama Sunan Kalijaga)

    Yang ingin saya bahas disini adalah ke forum rektor (forum wali), Raja saat itu gundah gulana, dan kagum melihat kedisplinan universitas (pesantren -saat itu) yan dipimpin oleh para wali, seketika Prabu Brawijaya kala itu meminta -salah satunya- sunan giri mendisiplinkan aparat/pamong-pamong kerajaan agar mereka bertingkah polah berbudi seperti para santri aulia tsb.

    Namun upaya para sunan meroformasi moral pejabat kala itu, kalah cepat oleh desakan kelompok muda yang tidak sabar dengan gerakan revolusioner mereka. akhirnya dengan dengan semangat memutus tali budaya lama berdirilah kerajaan demak.

    Ketergesaan kaum muda ini juga membuat kerajaan Demak tidak bertahan lama, juga beberapa kerajaan berikutnya, kultur meruntuhkan bangunan lama akhirnya membuat setiap perbedaan menjadi ajang pemberontakan, hingga akhirnya datanglah era penjajahan.

    Semangat perubahan – bergeser ke semangat perbedaan – bergeser ke gerakan pemberontakan. Ini mempermudah penjajah-Belanda dalam hal ini- dengan devide et Empera u/ menguasai Indonesia.

    Berbeda dengan Jepang pada saat kedatangan Eropa ke Jepang, kondisi Jepang adlah perang saudara, tetapi ‘Asing’ membangunkan kesadaran kolektif jepang, akhirnya dengan politik tertutup dan restorasi meiji menjadikan jepang negara adidaya pada saatnya.

    Kecepatan ini membuat jepang dan negara maju lain bersaing dalam pasar hingga meletus PD II dan Jepang kalah perang, namun sekali lagi pasca kekalahan Jepang dengan kecepatan luar biasa mampu bangkit.

    Akhirnya, tulisan ini merupakan artikel penguat saudara Donny. Saat ini menurut saya, untuk mencapai kemajuan bangsa dan negara adopsi-lah cara-cara spektakuler negara maju. Adopsilah kurikulum negara paling maju di bidang pendidikan, adopsilah sistem ketenagakerjaan negara paling maju dibidang ini, Adopsilah sistem birokrasi terbaik yang ada.

    Ingat -pada kasus jepang- managemen jepang 95% adalah adopsi dari barat, tetapi mereka menempatkan kultur jepang di situ, kultur isilah yang menjadi penguat manajemen jepang.

    • @Weka : Ulasan komprehensif Pak Weka, insightful, ini indahnya berbagi (sharing), kita menunggu ulasan-ulasan jenial Pak Weka di artikel-artikel yang akan datang di blog Manuver Bisnis…..

  2. Asli, setelah baca artikel ini, saya jadi sadar bahwa perilaku saya saat ini sangat tidak (belum) efisien… 🙁

    • @Hangga : Buat saya, tulisan ini juga self-critique, perlu langkah-langkah pro-bisnis untuk “memenangkan” perang bisnis….anyway terima kasih menyempatkan mampir di blog kecil saya

  3. Mas Suyon

    Mas Donny, saya sangat suka dengan tulisan2nya….

    Sangat membantu buat saya yang tidak suka membaca, dan dari tulisan-tulisan Mas Donny semoga saya dapat menjadi jendela buat saya untuk bisa mengetahui dinamika kehidupan sosial yang ada…..
    semoga Mas Donny tidak bosan2 untuk berbagi……

    Bravo untuk Mas Donny

    • @Mas Suyon: Terima kasih atas apresiasinya, saya usahakan untuk posting satu minggu sekali di blog ini, silahkan mampir dan berkomentar serta berinteraksi di sini….kita berbagi saja kok Mas….saya tunggu ulasan-ulasannya di blog ini

      Bravo dan sukses buat Anda

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén