Menyisipkan Gelegak Nasionalisme di Ranah Bisnis Menyisipkan Gelegak Nasionalisme di Ranah Bisnis i love indonesian batik by indonesia1

Politik Perdagangan RI masih terlampau lugu” (MS Hidayat, Menteri Perindustrian RI, Detik Finance, 16 Des 2011).

Kebetulan Ketika Obama bertandang ke Denpasar bulan November lalu, saya termasuk yang “merasakan” atmosfer yang lebih ketat dan sedikit “tegang” dari biasanya karena sedang berada di Denpasar. Sampai lalu lintas udaranya sempat dikosongkan beberapa jam menjelang Sang Presiden yang pernah bermukim di Menteng ini mendarat itu. Diantara agenda yang tight, tidak sekedar menghadiri acara summit semata, beliau juga dijadwalkan menghadiri penandatanganan MOU pembelian 250 pesawat Boeing ke maskapai Indonesia, Lion Air. Ada aroma “bisnis” pekat yang sulit ditampik disitu yakni dukungan pemerintah Amerika Serikat kepada para pebisnis-nya.

Beberapa kolega saya dulu yang mendapat beasiswa dari sebuah organisasi milik pemerintah sebuah Negara, ternyata mengharuskan scholarship recipient-nya harus menggunakan maskapai penerbangan milik Negara tersebut jika akan pulang kampung, kalau nekat, bakalan tidak akan mendapat uang ganti (reimbursement). Hal sama di beberapa proyek besar milik pemerintah yang didanai oleh oleh pinjaman luar negeri, saya lihat juga sudah melakukan “titipan klausul perjanjian” yang mengharuskan pemakaian produk atau jasa perusahaan tertentu dari Negara peminjam. Hal yang curang dalam bisnis? Tidak juga, selama perjanjian bisnis-nya jelas di awal dan disetujui kedua belah pihak. Itu bukanlah kecurangan, ini adalah masalah kelihaian dalam bernegosiasi saja.

Masalahnya sekarang, seringkali hal ini kurang “maksimal” dilakukan oleh punggawa negeri ini. Contoh paling telanjang, adalah kasus dengan Research in Motion (RIM) baru-baru ini. Sudah tahu pengguna blackberry di Republik ini cukup signifikan jumlahnya. Akan tetapi, bargaining position yang dimiliki ini tidak digunakan dengan “baik”, seakan tumpul. Nyatanya, mengapa pabrik produksinya tidak bisa diarahkan dibangun di negeri ini? Apa ranumnya kelas menengah Indonesia ini hanya akan dinikmati produsen-produsen luar semata ? Kalau itu terjadi, ekstrim kata, penjajahan jilid II, dengan kadar lebih soft sudah menyusup di negeri ini.

Saya tidak bermaksud meniupkan ajakan “anti asing” disini. Cuma, menurut hemat saya, dalam berbisnis itu tetap perlu memperhatikan “keseimbangan”. Perlunya mendukung beberapa produk nasional yang bagus, adalah perlu. Beberapa kampanye dari sebuah Departemen, mengenai ajakan untuk membeli produk Indonesia, adalah sebuah langkah yang perlu diapresiasi. Tak kalah penting, beberapa infant industry (industry yang bayi masih tumbuh) perlu diproteksi, agar mampu tumbuh kuat dan bersaing dengan produk luar. Negara Jepang dan Amerika Serikat pun, di beberapa produk pertaniannya masih dilindungi, karena kalau dibiarkan produk Negara agraris masuk, dipastikan akan kalah bersaing. Keberpihakan yang proporsional dari pemerintah sangatlah penting disini.

Di sisi lain, konsumen kita, terutama kelas menengah (middle class) yang berdaya beli lumayan yang prosentasenya ada kecenderungan meningkat harus juga “disadarkan” dengan himbauan-himbauan untuk menggunakan barang milik negeri, kalau kita memang kita sudah bisa memproduksi. Untuk hal ini, saya salut sekali kepada konsumen dari Korea. Kebetulan mobil keluarga kami ada yang bermerek Korea. Kalau saya memasaukkan mobil tersebut ke dalam bengkel di bilangan Jakarta Selatan, beberapa kali saya melihat beberapa keluarga dari Korea lengkap dengan sopirnya (kalau sopir sih orang Indonesia 🙂 , mengantri cukup tertib disana. Padahal saya tahu persis, mereka bisa kalau mau membeli mobil buatan Eropa, Amerika atau Jepang. Tapi tidak mereka lakukan (sampai saat ini, di Jakarta jumlah WNA asing dari Korea sudah menyalip jumlah ekspatriat dari Jepang). Ini berarti proses kesadaran itu sudah tumbuh di konsumen Korea. Beberapa kolega yang pernah mampir ke Seoul juga pernah bercerita tentang sulitnya mencari mobil-mobil yang berkeliaran selain merek Korea seperti Hyundai, KIA. Ataupun ponsel bermerek non Korea seperti LG ataupun Samsung. Sebuah contoh sukses yang perlu ditiru.

Sudah ada sih fenomena positif terjadi “nasionalisme konsumen” bisa dihadirkan, misalnya penggunaan baju batik. Tidak hanya BUMN saja, sudah banyak perusahaan swasta “mewajibkan” salah satu hari kerjanya dalam satu minggu untuk menggunakan pakaian beraksen batik. Karena nasionalisme dalam berbisnis adalah yang relevan, bahkan pada titik tertentu sekaligus merupakan alat penguat dan perekat bangsa. Mudah-mudahan tidak sekedar batik saja yang gegap gempita. Barangkali asyik juga, melihat kedai kopi milik anak negeri diantri banyak pembelinya seperti kedai kopi lain (Indonesia adalah produsen Kopi, agak aneh yang laku malah kedai kopi sebuah Negara yang secara tradisional gak punya kopi). Atau hal yang sangat diimpikan, ide motor/mobil nasional kesampaian, akan banyak kendaraan buatan anak negeri ber-sliweran di jalan-jalan di negeri ini. Semoga tidak terhenti sebagai angan-angan dan mimpi belaka.

Nasionalisme tidak milik sebuah angkatan atau golongan tertentu. Nasionalisme tidak identik semata mengikatkan bendera merah putih di kepala, sembari mendendangkan lagu-lagu mars perjuangan. Tetapi nasionalisme juga bisa berarti “meramaikan” penggunaan produk anak negeri. Setiap serupiah pembelian barang milik anak negeri, andil ikut melariskan dan menghidupkan para pekerja di sektor itu sudah Anda kontribusikan. Masih relevan bukan Nasionalisme dalam berbisnis?

Credit photo : deviantart.com<