Menyimak Manuver Bisnis Nexian

Menyimak Manuver Bisnis Nexian Menyimak Manuver Bisnis Nexian nexian senior14

Pas jalan-jalan di pusat perbelanjaan, saya melihat beberapa anak muda menenteng gadget yang cukup terkenal mahal dan populer. Dengan gaya cukup ekspoitatif, anak muda tadi memainkan gadget tersebut tanpa canggung dan lihai, Keren juga ya pikir saya, masih muda gadget yang digenggamnya cukup yahud. Tapi ketika diperhatikan dari dekat, gadget anak muda tadi memang bukan mengeggam gadget mahal blackberry. Tapi sebuah gadget yang tak kalah “meledaknya” dari blackberry……Anda tentu tahu nama produk yang cukup dikenal di kalangan pengguna gadget di Indonesia….Nexian

Nama Nexian merupakan pemain baru di bisnis seluler Indonesia, sekitar tahun 2006 mulai melakukan panetrasi pasar. Tetapi walaupun pemain baru, prestasinya tidak dapat dikatakan “baru”. Tahun 2009 lalu tercatat langkah fonemenal oleh Nexian ketika meluncurkan varian Nexian NX G900. Produk itu menyedot perhatian publik, terutama pencinta gadget dari kalangan anak muda yang dinamis. Bagaimana tidak, produk “tiruan” yang bentuknya mirip blackberry laku bak kacang goreng. Saking miripnya, beberapa orang menjulukinya “NexianBerry”. Antrian mengular produk ini pun cukup mentabiskan produk ini layak diperhitungkan di percaturan bisnis ponsel di tanah air.
Manuver-manuver bisnis sebelumnya tidak kalah kinclongnya, produk yang diproduksi di China dan Taiwan dan dirakit di Indonesia memacing perhatian publik dengan inovasinya yang menurut saya sangat berani dan bertangan dingin. Sebut saja manuver bisnis-nya ketika bundling dengan TelkomFlexi, StarOne, maupun Esia, yang produknya dinamai NX-800. Harus diakui kepiawaiannya menggandeng merek-merek besar, merupakan langkah jenial yang kudu diapresiasi.

Langkah bisnis lainya yang membuat kompetitornya “menahan nafas” adalah dibrandolnya NX-350 dan NX-370 dengan harga yang membuat hati berdesir, cuman 300 ribuan. Wuiih murah sekali…belum lagi langkah meluncurkan ponsel dualmode NX-200D yang bermitra dengan Telkomsel dan Simpati. Langkah ini secara tidak langsung “menggebrak” trend berponsel ganda yang lagi in dua–tiga tahun lalu, mempunyai dua ponsel sekaligus baik GSM dan CDMA. Ponsel itu juga dapat mengaktifkan dua nomer sekaligus dan bersamaan, dan sekali lagi dilego dengan harga kisaran 2,5 juta. Luar biasa.

Harus diakui langkah-langkah cerdas bisnis Nexian yang dikomandani Martono Jaya Kusuma, pemilik serta Presiden Direktur PT.Metrotech Jaya Komunika, pengusung merek Nexian memang ciamik dan menawan. Saya mencatat ada beberapa manuver bisnis dari Nexian yang layak disimak dan diapresiasi :

Pertama, menyadari betul keterbatasan serta melihat pekatnya industri ponsel, menggandeng merek-merek besar yang sudah mapan merupakan taktik cerdas. Alih-alih berhadapan langsung face to face dengan existing competitor yang bakalan mengurangi stamina dan energi, merangkul competitor adalah pilihan masuk akal dan bijaksana. Dalam buku lawas besutan Al Ries dan Jack Trout dalam Horse Sense : How to Pull Ahead on the Business Track, penulis buku yang terkenal membesut buku berjudul Positioning yang kesohor itu, menyatakan terkadang dalam bisnis “perlu” untuk “menunggang” kuda orang lain (mitra atau pesaing), sambil menyimpan energinya untuk digunakan untuk manuver bisnis yang lebih besar.

Kedua, walaupun produk dan brand mulai dikenal masyarakat, Nexian tidak “terburu-buru” untuk membangun pabrik sendiri di Indonesia. Langkah ini menurut saya sangat menguntungkan, karena infrastruktur bisnis ponsel di Indonesia, kran masuk produksi import masih dibuka dengan segala kemudahannya. Berani membuka pabrik sendiri tetapi menyebabkan biaya produksi membengkak dan harganya menjadi “lebih mahal” dari ponsel impor akan menjadi bumerang tersendiri bagi Nexian, karena pasti ‘disikat’ oleh pemain lama yang notabene lebih berpengalaman di bisnis perponselan.

Ketiga, Never Ending Improvement yang digelindingkan Nexian merupakan nilai tambah tersendiri, mulai supporting ponsel merek yang sudah kuat, meluncurkan dual mode CDMA dan GSM, membuat ponsel QWERTY seperti Blackberry, serta bekerjasama dengan TelkomFlexi menggarap Flexi Muslim merupakan contoh inovasi tiada henti yang berbasiskan pada solusi, bukan sekedar produsen ponsel. Menurut saya langkah ketiga inilah yang merupakan “langkah brilian” yang susah ditandingi pesaingnya. Produk boleh ditiru, tapi ide susah ditiru. Barangkali bisa ditiru tapi yang meniru ide bakalan “kehilangan momentum”, alias terlambat. Ide ini yang mahal.

Mari kita tunggu manuver bisnis nan cerdas dari Nexian.

Credit photo : senior14@flickr.com

Previous

Melongok Sejenak Pola Asuh ala Jepang

Next

Menjumput Keteladanan ala Akio Toyoda

4 Comments

  1. Sepertinya seru sekali ya bisnis itu…

  2. Ini kalau di alam online mirip dengan tiru-meniru antara twitter / blackberry / google buzz.

    Untuk point yg ketiga (never ending innovation), saya tidak yakin apabila perkembangan dengan dasar meniru bisa dibilang sebagai sebuah innovation; mungkin yg lebih tepat adalah “never ending improvement“. Innovation di mata saya harus bisa keluar dari sesuatu yang sudah “umum” / “biasa” dan bukan hanya sekedar catch-up dengan pioneer

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén