Menyimak Kota Pro Bisnis

Menyimak Kota Pro Bisnis Menyimak Kota Pro Bisnis kediri primatajoz blogdetik

Tinggal dan berbisnis di Jakarta, kalau dalam satu hari bisa bertemu 3-4 klien sehari yang mengharuskan bertemu face to face itu sudah hasil yang maksimal, itupun dijamin pulang sampai di rumah sudah dipastikan anak-anak sudah pulas tidur di peraduan. Ruas jalan yang macet merupakan salah satu kendala mengapa bertemu lebih banyak klien tidak lagi memungkinkan di Jakarta, “tua di jalan” begitu teman-teman menyebut. Tapi itulah Jakarta, walaupun jumlah uang beredar masih yang tertinggi di banding kota-kota lain, infrastruktur juga cukup memadai tetapi dengan beban kepadatan yang luar biasa, in-efisiensi disana-sini memang tidak bisa dihindari. Terus di kota mana lagi di Indonesia yang kans bisnis-nya masih mengangga lebar?

Untuk kedua kalinya, tahun ini Majalah Swa di edisi 17/XXVI/12-22 Agustus menulis sajian utamanya tentang “Indonesia Most Recommended Cities for Business” sebuah laporan yang meriset kota-kota di Indonesia yang “ramah” untuk berbisnis. Dengan proses penggarapan yang menyita 3 bulan, dengan 1800 responden pengusaha, laporan tentang kota yang pro investasi ini layak disimak. Dari 492 kabupaten/kota otonom yang disurvei, ada 20 kota yang layak direkomendasikan untuk berbisnis :

1. Kota Kediri
2. Kabupaten Gresik
3. Kota Palembang
4. Kota Makasar
5. Kota Medan
6. Kabupaten Bandung
7. Kota Surabaya
8. Kota Tangerang
9. Kabupaten Kudus
10. Kabupaten Tangerang
11. Kabupaten Deli Serdang
12. Kota Bandung
13. Kota Batam
14. Kota Semarang
15. Kabupaten Cilacap
16. Kabupaten Karawang
17. Kabupaten bogor
18. Kabupaten Sidoarjo
19. Kabupaten Bekasi
20. Kota Bekasi

Tiap kabupaten/kota terpilih diwakili 90 pengusaha (30 pengusaha kecil, 30 pengusaha menengah, dan 30 pengusaha besar), dari survey tersebut diukur Indeks kepuasan dan Indeks rekomendasi dari para pengusaha di setiap kota yang menghasilkan nilai Indonesia Most Recommended Cities for Business (IRCI). Hasilnya seperti bisa dilihat diatas cukup menarik, ternyata untuk berbisnis tidak hanya Jakarta yang menyedot perhatian. Kota-kota di atas mampu membuktikan mereka juga tidak kalah moleknya dengan Jakarta.

Kota Kediri sebagai jawara, cukup mengejutkan, meskipun tidak memiliki keunggulan di sisi sumber daya alam, toh bisa menjadi No.1 pemikat investor. “Ini menunjukkan kota ini berada dalam posisi siap dan sigap dalam berbisinis”, ungkap Samsul Ashar, walikota Kediri, dengan bangga. Kita semua pun tahu Kediri merupakan markas salah satu industri rokok nasional Gudam Garam yang merasa nyaman bermukim disana. Tidak ada niatan untuk memindahkan markasnya, ini menunjukkan sang investor nyaman dan tidak mengalami “gangguan” berarti di kota itu. Kebijakan istimewa menarik lainnya adalah, pemkot Kediri memberikan kebebasan menggunakan lahan milik pemkot untuk dijadikan kantor, pertokoan dan pabrik sekalipun asalkan tenaga kerja harus direkrut dari kota Kediri. Sebuah kebijakan sangat pro bisnis.

Dari rekomendasi para pengusaha tadi, ternyata kota-kota yang direkomendasi rata-rata mempunyai pelayanan yang merasang investor untuk datang “mengapelin”, misalnya pemkot Palembang di ranking no.3 meluncurkan Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (KPPT) yang melayani 29 jenis perizinan. Yang menarik, pegawai sipil dilarang menerima surat kuasa pengurusan izin di KPPT, sebuah langkah untuk memutus “uang amplop” liar diberlakukan. Serta dijamin dalam 15 hari izin sudah selesai. Jelas ini merupakan langkah positif yang layak diapresiasi.

Sambil membaca Sajian Utama tadi, saya membayangkan kalau 30% saja dari 492 kabupaten/kota berperilaku “pro bisnis” seperti yang dicontohkan pemkot Kediri dan Palembang di atas, saya yakin hasilnya pasti luar biasa, karena distribusi pemerataan pendapatan akan lebih seimbang. Nantinya akan bermunculan kota-kota yang menarik untuk disinggahi untuk berbisnis.

Sehingga tidak perlu semua pencari kerja harus menyerbu ke satu titik di kota Jakarta sehingga ibu kota kelebihan beban di luar kemampuannya seperti saat ini, yang menyebabkan social cost ditanggung juga berlipat. Atau cerita sedih yang kerap kita dengar, para pencari kerja harus “berjibaku” menjadi TKI di luar negeri yang terkadang “lemah” hak-haknya di luar. Sebagai Negara kaya alamnya dan besar penduduknya (No.4 di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat), kita pasti bisa setara dengan negara-negara lain. Kalu kita kuat secara ekonomi, tidak ada negara lain yang berani “melecehkan kita” seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Semoga semakin banyak bermekaran kota-kota pro bisnis di seantero Republik ini, tidak hanya di Jakarta. Ada Gula, Ada Semut…..Gula itu sekarang tidak hanya dimiliki kota Jakarta, masih banyak “Gula” nan manis yang bisa dicecap di kota-kota lain.

Gambar : Simpang Lima Gumul di Kota Kediri
Credit Photo : www.primatajoz.blogdetik.com

Previous

“Merekonstruksi” Fakultas Ekonomi

Next

Aspek Spirituil Dalam Bisnis

3 Comments

  1. Thanks bro infonya sangat menarik

  2. keep it real, iight

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén