Menuju UKM Tidak Satu Titik

Menuju  UKM  Tidak Satu Titik Menuju  UKM  Tidak Satu Titik innovation

Creativity is thinking up new things. Innovation is doing new things.” (Theodore Levitt)

Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan mengatakan, kontribusi UKM untuk GDP Indonesia menurut catatan Pemerintah ada di kisaran 56,5% (sumber : Infobanks News). Sementara penyerapan tenaga kerja di sektor UKM cukup mendominasi 66,74 %. Menurut Kementrian UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah), jumlah UMKM di tahun 2011 menembus angka 55,21 juta unit. Dengan proporsi usaha kecil sebanyak 609.195 unit, sedangkan usaha menengah menyumbang 44.280 unit. Sebuah Sinyal cukup jelas menandakan perlunya sektor UMKM atau dalam terminologi bisnis sering disebut SME (Small and Medium Enterprises) Indonesia sangat perlu dibantu dan didampingi, agar kontribusi terhadap GDP, penyerapan tenaga kerja Republik mempunyai grafik terus menaik.

Beberapa hari lalu, bersama keluarga saya berlibur sejenak (menemani anak-anak libur) menggunakan perjalanan darat. Di tengah jalan, karena membawa kendaraan sendiri di setiap kota yang disinggahi, kesempatan untuk berhenti sejenak melepas lelah lebih leluasa sembari menjajal toko makanan kecil khas daerah setempat yang rata-rata dioperasikan oleh UMKM. Makanan yang disajikan secara selera cukup memadai, tetapi problem khas yang selalu mendera UMKM dari tahun ke tahun pun nyaris seragam. Selain lemah di pendanaan (walupun sesungguhnya bukan hal utama), lemahnya inovasi menjadi ganjalan utama, mulai dari kemasan yang cenderung ala kadarnya sampai masalah citra rasa yang selalu idem ditto dari tahun ke tahun. Di sisi lain, seringkali produk yang dihasilkan pun seragam ditiru di suatu daerah tertentu.

Misalnya di suatu daerah di Jawa Tengah yang terkenal makanan gethuk-nya yang saya lewati di Sokaraja, hampir satu jalan di daerah itu menyediakan citra rasa yang nyari seragam, sehingga tidak muncul kekhasan dari tiap-tiap toko di daerah itu. Seragam. Dan berjalan menuju jalan yang sama. Di Jogja yang terkenal panganan Bakpia-nya juga begitu. Di jalan Pathuk, hampir dikata tidak ada perbedaan mencolok antar toko, yang membedakan hanya merek Bakpianya, yang biasanya didasarkan penomoran toko di jalan itu. Tetapi sekarang sedikit lebih baik, sudah mulai bermunculan varian bakpia dengan bentuk, rasa, dan bahan dasar yang berbeda seperti misalnya pia-pia Jogja, Bakpiapia Djogdja, dll yang notabene disukai karena “bakpia” yang ditawarkan terasa “berbeda”.

Bicara Inovasi, seringkali inovasi dikaitan dengan dibutuhkannya uang dan dana besar yang menyertainya atau teknologi super canggih yang menopanginya. Padahal lemahnya inovasi ini, kalau dirunut lebih jauh adalah gagalnya melihat permasalahan secara komprehensif. Sehingga tidak lahir sebuah terobosan solusi untuk itu. Inovasi lebih pengejawantahan pencarian jawaban solusi atas masalah-masalah nyata setiap hari. Ini yang terasa kurang tercipta di UMKM di negeri ini. Sehingga meniru apa adanya tanpa “modifikasi” seperti kasus gethuk dan bakpia di atas masih menjadi pemandangan umum.

Kisah sukses Lela Lele milik Rangga merupakan sebuah contoh UMKM yang berhasil karena “inovasi” bukan karena digelontor dana yang besar ataupun dibalut dengan teknologi yang sophisticated. Rangga tahu persis kalau Dia jual Lele-nya seperti jualan lele pada umumnya yang digoreng, disajikan dengan dengan lalapan kubis, tomat dan daun kemangi semata. Saya yakin Lela Lele tidak “sesukses” sekarang. Tapi dengan berinovasi sedikit dengan lele-nya sehingga bermetamorfosis menjadi lele goreng tepung, lele fillet kremes, dan lele saus padang yang merupakan trilogy menu paling laris di gerai Lele Lela menurut Rangga. Orang mulai melihat “hal lain” dan baru dari sebuah lele.

Saya yakin sekali, hasil kreasi menu paling laku di restoran Lele Lela di atas merupakan solusi pada masalah nyata yang digeluti tiap hari (daily problem). Solusi perbaikannya digali hari demi hari secara konsisten dan terus menerus. Sedikit demi sedikit, serta melibatkan seluruh timnya. Kalau memakai terminologi Jepang, hal ini yang disebut dengan kaizen. Perusahaan Toyota dulu ketika masih kecil pun mengintrodusir pendekatan seperti ini. Inilah yang sering alpa hadir di UKM Indonesia.

Terus bagaimana memunculkan hal ini di perusahaan kecil dan menengah yang biasanya, tim departemen riset dan pengembangan-nya belum begitu diperhatikan dan rata-rata relatif lemah? Pertama, memang harus peka dan selalu menempatkan posisi selalu mencari solusi. Menjadi pengembara pencarian solusi harus dijadikan budaya (habit). Seperti tukang mie ayam dorong dekat tempat latihan bela diri anak saya. Sang penjual mie ayam yang sering dipanggil “Pakdhe” itu agaknya tahu persis orang Indonesia rata-rata menyukai makanan pedas (dibubuhi sambal). Tetapi level kepedasan tiap orang berbeda-beda. Maka di tempat Pakdhe jualan, dia sudah menyiapkan satu toples cabe hijau yang sudah direbus. Setiap pembeli ditanya, berapa cabe yang dia inginkan untuk disantap menemani mie ayamnya. Sebuah langkah sederhana, tapi sudah tercelup aroma inovasi.

Alhasil, walaupun gerobak sederhana, karena pendekatan “chilly customization” tadi, pembelinya membludak karena mereka puas dengan level kepedasannya yang sesuai dengan lidah mereka masing-masing. Sehingga muncul repurchasing, para pelanggan kembali menyambangi. Sebuah langkah sederhana tapi cukup cerdik meraba keinginan pelanggan yang lidahnya berbeda levelnya ketika mencecap sambal. Kalau saya terlambat memesan, terkadang saya tidak kebagian.

Kedua, karena kebanyakan UMKM belum /tidak peka terhadap hal di atas, dalam hal ini Pemerintah harus berinisiatif menyediakan sekaligus menyebarkan pendamping-pendamping bisnis (mini incubators) yang tugasnya membantu “mencari tahu” breakthrough yang cocok untuk perusahaan UMKM tersebut. Karena potensi besar yang disandang UMKM, Pemerintah harus memulai langkah ini. Jadi, para pendamping-pendamping bisnis ini perannya hampir sama dengan peran konsultan manajemen yang di-hire perusahaan-perusahaan besar. Kalau ini bisa terjadi, kemandekan inovasi sedikit banyak akan tereduksi.

Karena panggung Bisnis sejatinya bukanlah panggung “keseragaman”. Tetapi panggung “keunikan”. Bagaimana dengan Bisnis Anda?

Credit Photo : smesulekha.horoson.com

Previous

Mobil Esemka, Mobil Jepang dan Marathon

Next

Ketika Perusahaan Kecil Anda Mekar

8 Comments

  1. Pak Don, terimakasih. Materi ini sangat bermanfaat sekali. salam hangat pak Don,- oh ya dimana bisa hubungi pak don ?

    salamang

  2. rody

    thanks,,, sangat memberi gambaran dan ide akan bisnis UKM…

  3. Rambat

    Setuju banget Mas Donny! Yuk sama2 kita filing UKM

  4. sangat inspirasi dan merupakan alat penegur saya dalam nejalankan UKM yang saya rintis saat ini. Trims

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén