Menonton Aksi LG Mendengarkan Gemba

Menonton Aksi LG Mendengarkan Gemba Menonton Aksi LG Mendengarkan Gemba gembaAda sebuah perbincangan menarik ketika ada kunjungan bisnis di sebuah pabrik di Sukoharjo. Saya dikenalkan seorang tamu pebisnis Jepang yang sedang berkunjung di Indonesia. Setelah menemani beliau makan, untuk menjaga privasinya, tamu itu sebut saja namanya Matsumoto-san diajak kolega saya berjalan-jalan menikmati keindahan desa-desa di daerah Sukoharjo yang masih asri, dengan sedikit kaget beliau berujar desa-desa di Indonesia sudah mengalami “perubahan” lumayan banyak. Matsumoto-san ini merupakan pebisnis yang cukup lama, dan sudah cukup sering bolak-balik mengunjungi daerah-daerah di Indonesia.

Ketika diajak masuk di rumah-rumah penduduk desa, dia melihat sudah banyak elektronik yang dipakai penduduk di sekitar daerah yang kita kunjungi. Rata-rata TV, kulkas, CD/DVD player merupakan hal yang lumrah dimiliki penduduk di situ. Tetapi Matsumoto-san tidak bisa menahan diri untuk berkomentar ketika beberapa produk elektronik yang dimiliki penduduk di situ mulai banyak disesaki merek-merek Korea, terutama produk milik LG demikian meraja. “Dulu di rumah orang-orang Indonesia, produk-produk elektronik yang dimiliki orang Indonesia hampir semua nihon-sei (artinya made in Japan), sekarang barang-barang korea mulai mengambil alih peran itu”, paparnya sedikit galau. “Ini harga yang dibayar pebisnis Jepang”, cerocosnya sedikit emosi. Apa maksudnya Matsumoto-san?

Sebelum mendengarkan penjelasan Matsumoto-san, kita lihat kiprah mengkilapnya dominasi LG di Indonesia. Selama 6 tahun terakhir LG dominasi PT.LG Electronics Indonesia memang tidak terkalahkan. Data riset dari Growth from Knowledge sebuah perusahaan riset dari Jerman yang dikutip dari majalah Swa memang menunjukkan kedigdayaan LG, sang chaebol dari Korea Selatan memang terlihat perkasa dan dominan.

Market share yang dulunya banyak diduduki perusahaan-perusahaan negeri samurai mulai tergerogoti. Setidaknya ada 11 produk LG yang jadi market leader di Indonesia. Tahun 2011 pangsa LG sebagai berikut: Lemari es (28%), mesin cuci (21%), AC (30%), DVD player (18%), Home theater system bahkan lebih tinggi (42%). Di TV bahkan LG melakukan aksi “sapu bersih” di berbagai varian. Di varian layar datar LCD TV mengangkangi 29%, TV plasma menguasai 43%, sedang di kategori TV LED meraup 34 %, sedang di TV tabung LG masih leading 34%.

Ada sederetan sebab kunci sukses mengapa LG dapat menggeser dominasi produk Jepang yang duduk nyaman di singgasananya menguasai pasar gurih bernama Indonesia ini. Tapi ada satu pernyataan  dari CEO LG Indonesia, Kim Weon Dae yang layak dicermati ketika ditanya resep suksesnya. “Innovative dan Speed merupakan strategi kami menanggapi kebutuhan pasar. Tapi mengetahui siapa yang akan memakai teknologi itu penting dan kami tidak ingin sekedar menyediakan produk yang bagus tapi juga tapi bisa membuat konsumen kami dapat meningkatkan kualitas hidup mereka.” (majalah SWA edisi XXVIII 10-23 Mei 2012). Dengan kata lain, melakukan consumer insight secara reguler dan seksama dalam mencermati kebutuhan “sesungguhnya” para konsumen bisa dibaca oleh LG Indonesia.

Kembali ke meja obrolan dengan Matsumoto-san di  Sukoharjo. Ternyata ada benang merah yang bisa ditarik dari pemaparan CEO LG Indonesia. Matsumoto-san yang sudah terbiasa dan sering bolak-balik melihat Indonesia menunjuk para petinggi Jepang yang hidup di Indonesia “gagal” serta “gagap” menangkap keinginan “sebenarnya” keinginan konsumen. Dalam terminologi Japanese management, mereka lupa menerapkan “gemba kaizen” yang merupakan roh penting dalam kancah persaingan bisnis. Gemba Kaizen di tahun 70-80-an terbukti ampuh “mengenyahkan”produk-produk dari Amerika dan Eropa di daratan Asia, termasuk  di Indonesia. Cara ini ternyata dipakai oleh perusahaan-perusahaan Korea khususnya LG melesakkan produknya di jantung konsumen Indonesia.

Gemba arti harfiahnya work place (tempat kerja) dan Kaizen yang berarti continuous improvement (perbaikan berkelanjutan) sebenarnya mengingatkan pentingnya mengawinkan hasil improvement yang tidak kenal lelah dengan selalu mengamati, mengecek serta meng-cross check implementasi yang dihasilkan dengan kondisi kerja riil di lapangan, termasuk didalam hal ini respon dan kebutuhan konsumen sesungguhnya. Kali ini perusahaan Jepang disalip di tikungan oleh para kompetitornya. Matsumoto-san berujar ada banyak orang Jepang di Indonesia, tapi hidup mereka “jauh dari gemba”. Mereka hidup nyaman di menara gading mereka di apartemen, gagal melihat kehidupan orang Indonesia kebanyakan dan kelas menengah yang mulai tumbuh yang telah berubah dibandingkan di era 70-80an. Mereka tidak lagi silau dengan merek semata, tapi juga mulai concern yang alat multifungsi yang memperhatikan hemat listrik. Tidak sekedar teknologi yang memamerkan kecanggihannya namun harganya nir-ekonomis. “Kita melupakan gemba, kita kecolongan”, ujarnya sedikit emosional.

Diskusi mendadak senyap, semua yang mengobrol diam mencoba mencerna rangkaian diskusi menarik di sore itu di tengah-tengah penduduk desa di Sukoharjo yang rumahnya mulai banyak bersentuhan dengan banyak barang elektronik. Pelajaran menarik yang bisa direngkuh, betapa memahami kondisi gemba berkelanjutan merupakan pintu penting dalam memenangkan perang penting. Korea dengan cara hampir sama melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan perusahaan Jepang ketika menggeser “dominasi kenyamanan” yang dinikmati perusahaan Eropa dan Amerika.

Ketika sebuah negara bernama Korea yang di tahun kita merdeka dulu mereka masih dipusingkan perang saudara Korea (1950-1953). Artinya kondisinya tidak baik-baik amat, mampu menggeser raksasa ekonomi dunia, termasuk di pasar Indonesia. Pertanyaan menarik selanjutnya : Perusahaan Korea saja mampu memahami gemba di Indonesia, masak perusahaan-perusahaan  Indonesia sendiri gagal memahami gemba yang kita miliki sendiri? Haruskah kita “membiarkan” pekarangan rumah sendiri digarap terus-terusan oleh orang lain?

Jawaban ada di tangan para entitas bisnis Indonesia. Jawabannya bukan bisa atau tidak, tapi mau atau tidak mau?

Credit Photo : engenhariadeproducaoindustrial.blogspot.com

Previous

Stephen Covey : Penulis The Seven Habits itu Telah Tiada

Next

Ketika Rumah Disulap Jadi Kantor

2 Comments

  1. BS Tambunan

    Memang Genba Kaizen adalah strategy global yang menjadi icon perebutan pasar. Jepangpun melakukan itu secara makro, tetapi secara mikro mereka tidak melakukan dengan baik. Mereka tidak akan pernah mengerti kalau salary man salary man Jepang, termasuk petinggi Jepang tidak merubah strategy mikro. Misalkan; Staff Jepang yang bekerja di Indonesia seharusnya yang sudah berkeluarga harus tinggal di indonesia dengan keluarganya. Fasilitas yang diberikan perusahaan Jepang terhadap staffnya terlalu berlebih, misalkan satu orang satu apartment, satu mobil, satu sopir. Sedangkan Korea tidak demikian.

    Ini akan sangat berpengaruh terhadap pola pikir Jepang terhadap Indonesia. Perusahaan Jepang hanya memikirkan kenyamanan kehidupan staff jepang saja. Fasilitas inilah yang menjadikan Jepang merasa SUPERIOR terhadap kita, sedangkan mereka mencari nafkah dari Indonesia. Mereka tidak mau melihat sekitarnya dan menjadi orang orang elite di Indonesia. Padahal mereka di Jepang tidak demikian. mereka harus mengayuh sepeda dan berjejalan di kereta serta apartmentnya yang kecil dan jauh dari perusahaan. Jabatan merekapun banyak yang bukan manager level, tetapi hanya leader level, bahkan banyak hanya staff.

    Perusahaan KOREA membawa staffnya dengan keluarganya dan hidup bersama di rumah rumah penduduk Indonesia serta anak anaknya bersekolah di sekolah Indonesia maupun skala internasional.

    Akhir akhir ini Jepang selalu melakukan kebijakan yang salah besar. Mereka hanya melihat hal hal yang dapat dilihat mata, bukan hal hal yang akan terjadi ke depan yang tidak terlihat oleh mata.

    Ada hal yang menarik selain permasalahan produk elektronik, adalah produk bahasa Jepang. Memang produk bahasa Jepang di Indonesia berkembang, tetapi tidak seperti yang diharapkan, sesuai dengan perkembangan investasi Jepang di Indonesia. MENGAPA ?

    Lagi lagi masalah kebijakan yang salah. Produk TV Jepang sangat banyak di Indonesia, tetapi minat Indonesia mempelajari bahasa Jepang sangatlah lambat dibanding bahasa China. Padahal kita tahu, kalau dapat berbahasa Jepang maka ADVANTAGEnya begitu besar dalam karier kerja dibanding bahasa China.

    Anak anak kita sudah dapat belajar bahasa China pada saat TK dengan program ekstrakurikuler, bahasa Jepang ? Boro boro di TK, di SMA saja bisa dihitung oleh jari sekolah yang menerapkan bahasa Jepang. Campur tangan pemerintah Jepang harus ada, bilamana tidak maka tidak akan bisa dikembangkan dengan baik. Siaran NHK saja masih siaran berbayar yang premium, bagaimana mereka memiliki strategy yang baik untuk menjadikan bahasa Jepang adalah bahasa penting di dunia ? Bantuan bantuan lembaga yang mengajarkan bahasa Jepang saja sangat minim, sehingga lembaga bahasa yang mengajarkan bahasa Jepang sangat sedikit bahkan untuk hidup saja mereka sudah kembang kempis. Tidak adanya (kalaupun ada sangat sedikit) volanteer volanteer Jepang yang dibiayai oleh negara untuk mengembangkan bahasanya. Mereka masih berorientasi DATANGLAH KE JEPANG untuk BELAJAR BAHASA, maka akan banyak beasiswa di sana.

    Padahal untuk membiayai satu orang Indonesia untuk belajar ke Jepang bisa sama dengan membiayai 30 sampai 40 orang kalau mereka belajar di Indonesia. Tetapi pemerintah Jepang menutup mata.

    Jepang hanya fokus kepada kepentingan sesaat, yakni yendaka, sehingga perusahaan nasionalnya harus dipindahkan ke luar Jepang dan mereka banyak berpikir hanya tentang tenaga murah (di level manufacturing), bukan bagaimana memelihara dan mengembangkan tenaga skill yang baik. Mereka banyak retorika bahasa, sehingga tidak menyentuh akar permasalahan.

    Bilamana teknologi automotive sudah lebih maju dan merata ke negara Malaysia, Korea, Taiwan maupun China, kita akan dapat melihat 20 – 30 tahun mendatang produk Jepang yang dibuat di Indonesia bisa digeser oleh mereka.

    Sekian sumbang saran saya.

    • @Bang Tambunan : Senang sekali dengan ulasan yang cukup komprehensif dari Anda sehingga dapat memperkaya horison pembaca di blog ini. Memang agaknya perusahaan-perusahaan Jepang agak kehilangan “soul”-nya sehingga sedikit lengah. Sehingga perusahaan-perusahaan Korea, LG diantaranya bisa memanfaatkan peluang ini yang sebetulnya memakai strategi yang mirip seperti Jepang dulu menggeser dominasi produk-produk Eropa dan Amerika di Asia. Terima kasih atas ulasannya 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén