Menjumput Keteladanan ala Akio Toyoda

Menjumput Keteladanan ala Akio Toyoda Menjumput Keteladanan ala Akio Toyoda akio toyoda yoidore

Agaknya prahara yang menggelayuti Toyota belumlah usai. Belitan kualitas produk pedal gas di beberapa mobil Toyota, khususnya yang dipasarkan di Amerika dan Kanada menjadi sorotan tajam. Ribuan mobil Toyota diperkirakan bakal ditarik besar-besaran untuk “dicek ulang”, termasuk didalamnya beberapa mobil laris seperti Prius, Camry dan Corolla. Sebuah tamparan serius bagi perusahaan sekaliber Toyota yang terkenal dengan kepresisian dan kehebatan kualitas produknya. Belum kering berita harga saham Toyota yang sempat “goyang” beberapa waktu lalu, kali ini “surat undangan” jejak dengar (hearing) dengan Senat Amerika untuk Akio Toyoda, CEO Toyota pun dilayangkan.

Akio Toyoda merupakan cucu pendiri sekaligus CEO Toyota yang pertama, Kiichiro Toyoda, memutuskan untuk memenuhi undangan Senat Amerika Serikat kemarin (24 Februari 2010). Dengan balutan jas biru, dan dengan wajah sedikit pucat, dengan teks bahasa Inggris tertulis, dengan secara ksatria beliau mengucapkan permintaan ma’af, sekaligus mengucapkan belangsungkawa sedalam-dalamnya atas kecelakaan yang menimpa para pelanggan Toyota di Amerika Serikat dan Kanada.” I sincerely regret that some people actually encountered accidents in Toyota vehicles.”, ungkapnya penuh sesal, seperti yang dikutip oleh Majalah Guardian.

Banyak pihak, termasuk dari internal Toyota sendiri yang menyarankan tidak perlu langsung orang nomer satu Toyota ini memenuhi undangan tersebut, cukup CEO Amerika Serikat yang mewakilinya. Setidaknya ide ini diamini PT.Toyota Astra Motor (TAM), Bapak Johnny Darmawan yang menyatakan “Saya rasa ada unsur politisnya. Kalau saya jadi Toyoda, saya tidak mau hadir ke kongres AS, kan dia bisa menunjuk perwakilan untuk berbicara.” ujar Presiden Direktur PT TAM Johnny Darmawan kepada Inilah.com, hari selasa 23 Februari 2010. Tapi alih-alih mewakilkan, Toyoda memutuskan untuk datang sendiri.

Pengalaman pernah tinggal disana dan berbaur dengan masyarakat Jepang, apa yang dilakukan oleh Akio Toyoda tidaklah terlampau mengejutkan. Terlepas dari beberapa kebiasan negatif lainnya, untuk masalah “mengambil alih tanggung jawab penuh”, sepertinya kita perlu mencontek cara “pertanggung jawaban” para pimpinan Jepang.

Selama di Jepang, saya berulang kali membaca dan melihat dengan mata kepala sendiri di televisi maupun di surat kabar, pejabat maupun pimpinan bisnis Jepang yang mengundurkan diri sebagai bentuk “pertanggung jawaban” yang dia pikul. Bahkan kalau kita mau merunut sejarah Jepang, terkadang bentuk pertanggung jawaban dilakukan dengan prosesi yang membuat miris bulu kuduk, membelah perut dengan samurai yang dikenal dengan prosesi hara-kiri (dari kata hara yang berarti perut, dan kiru yang artinya memotong).

Pernah suatu ketika saya berjalan-jalan, secara tidak sengaja menyenggol sepeda seorang Jepang, bukannya marah, malah dia berkata “gomenasai…”, katanya sambil membungkukkan badannya, mohon maaf. Saya cuman bisa melongo, yang menyenggol sepedanya saya, kok yang minta maaf dia. Dengan perasaan bersalah saya ikut memunguti barang-barang yang terjatuh dari sepeda itu. Betapa malunya kala itu.

Kalo melihat fenomena di Indonesia sekarang, dimana banyak pimpinan yang jelas-jelas “bersalah” dengan tanpa punya malu untuk minta maaf atau mengundurkan diri, sepertinya menyiratkan “budaya malu” mulai lenyap dan tereduksi di bangsa ini. Bahkan ada sebuah pimpinan sebuah organisasi sempet “marah-marah” ketika disarankan untuk mundur karena prestasi olah raga organisasi yang dipimpinnya jeblok. Weleh….weleh……saya cuman bisa mengeleng-geleng heran.

Meminta maaf dengan ksatria sekali-sekali tidak akan dapat menyebabkan harkat seseorang jatuh, karena kita adalah manusia biasa sangat mungkin berbuat kesalahan. Akio Toyoda adalah seorang nahkoda kapal besar bernama Toyota saja, dengan santun dan rendah hati “mengakui” segala kesalahan yang terjadi serta melakukan langkah-langkah penarikan barang untuk menghindari kesalahan yang lebih besar. Sebuah keteladanan dan kesalehan seorang pimpinan bisnis yang patut ditiru. Percayalah…kesalehan tidak hanya dimiliki orang yang mengklaim dirinya “paling dekat dengan Tuhan”.

Credit photo : yoidore@flickr.com

Previous

Menyimak Manuver Bisnis Nexian

Next

Jebakan Soliditas Bisnis Model

4 Comments

  1. artikel ini secara tidak langsung membangunkan tidur panjang kita dan membuat mata kita menjadi terbuka lebar….Terlepas dari ada atau tidaknya muatan politis, saya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh beliau. Berani bertanggung jawab dan meminta maaf atas apa yang terjadi. Berbeda dengan kita, sudah tahu salah tapi malah marah-marah…ini yang menyebabkan kita tidak maju-maju, karena selalu menyalahkan orang lain dan tidak introspeksi diri.

    • @Heru : Meminta maaf terkadang emang “berat” ya diucapkan….makanya orang sekaliber beliau melakukan itu….agaknya memang perlu diapresiasi…..

  2. Don, aku suka banget baca tulisan ini, ini adalah sebuah fenomena kebalikan dari apa yang selalu kita lihat, rasakan dan amati dalam kehidupan kita di negeri tercinta ini. Di negeri kita tercinta ini, hampir semua orang terjebak untuk menjadi “manusia bentuk” daripada jadi “manusia isi”. Semuanya ingin kelihatan baik, walaupun kenyataannya dalam hal” yang prinsipil kebalikannyalah yang jadi kenyataan.Boro” untuk minta maaf dan mengakui kesalahan, nyata” terbukti korupsi dan kemudian harus masuk bui pun, dia masih berani bilang kalau dizolimi dan sedang dapat “ujian” dari Tuhan, Masya Allah….. kadang” aku ngeri ngebayangin apa yang akan terjadi di kehidupan kita nanti….

    • @Y.Indra : Mas Indra terima kasih atas apresiasinya. Barangkali memang memahami “substansi” dalam hidup sangatlah perlu…sehingga keinginan untuk menjadi “kelihatan baik” tidak perlu dilakukan, karena untuk menjadi baik tidaklah perlu “kelihatan baik”…..

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén