Menjumput Bisnis Convenience Store

Menjumput Bisnis Convenience Store Menjumput Bisnis Convenience Store japanese odenKarena deraan macet yang lumayan hetic di jalanan, niat ifthar (berbuka puasa) di rumah jadi meleset.  Usulan Istri untuk berbuka sebentar di jalan agaknya perlu diamini.”Ada Lawson di jalan itu, kebetulan lagi kangen odeng(おでん), mampir bentak yuk?”, pintanya. Odeng adalah makanan khas Jepang yang berupa sup yang isinya bisa macam-macam. Biasanya ada telur rebus, daikon (lobak Jepang), dan beberapa “bakso” ikan yang dicampur kaldu kedelei. Biasanya makanan ini selalu tersedia di convenience store (istilah Jepangnya : konbini/ コンビニ) di Jepang, Paling pas disantap kalau kondisi udara dingin (musim salju), atau kondisi sedang tidak sempat masak di rumah, sehingga cukup praktis. Dulu jaman kuliah, ketika banyak tugas kuliah dan gak sempat masak, menyeruput hangatnya odeng merupakan upaya menghangatkan tubuh.

Tidak dinyana, sekarang di Jakarta, ada convenience store yang membawa “kebiasan” itu ke sini. Lawson salah satu pemain utama Jepang mulai melakukan panetrasi di Jakarta. Di Jepang, Lawson bersama Family Mart dan Seven Eleven Dalam bayangan saya sebelum memasuki toko tersebut, bayangan dan tata letaknya serta barang yang dijual bakalan seperti yang kita lihat di Jepang. Tetapi setelah memasukinya, tidak semuanya “disulap” sepenuhnya untuk mirip style Kejepang-jepangan. Setidaknya beberapa produk yang seperti barisan mie yang dijual tidak didominasi mie buatan Jepang seperti yang saya bayangkan tetapi, barisan mie-mie lokal mendominasi  disana dan berjajar rapi di rak. Kopi dan teh yang tersedia juga merek lokal. Sepertinya operator Lawson di Indonesia menyadari betul perlunya mengadopsi lidah orang Indonesia.

Hal lain yang juga membedakan Lawson di Indonesia dan di Jepang adalah penempatan tempat kongkow-kongkow untuk mengakomodir  keinginan konsumen menyantap makanan di sana, ternyata disediakan tempat kongkow lumayan banyak. Bahkan disediakan kongkow di luar khusus untuk perokok. Di Jepang, konbini seperti Lawson tidak begitu banyak menyediakan hal itu, karena convenience store memang sejatinya didesain untuk pembeli yang membeli makanan jadi untuk disantap di rumah atau dimakan di mobil sambil melanjutkan perjalanan. Yah, bisnis memang harus bisa membaca “kebutuhan” konsumen, bukan sekedar menjiplak mentah-mentah. Selalu ada yang bisa dikompromikan untuk menyesuaikan kebutuhan konsumen. Seperti beberapa toko franchise Amerika yang menjual ayam goreng. Tentunya kalau nekat hanya menjual kentang goreng saja dengan tanpa nasi, saya tidak yakin akan selaku sekarang. Perbedaan lainnya barangkali di Lawson di Indonesia sepertinya lebih menekankan pada penyediaan servis makanan saji yang lebih segar dan barang consumer goods lainya. Belum mencoba membuka servis  lain yang biasa ada di Lawson di Jepang.

Sepertinya, perubahan gaya hidup konsumen di Indonesia dibaca betul oleh para pemasar ini. Kalau di Jepang saja, convenience store disesaki tidak kurang dari 40.000 toko. Dengan jumlah penduduk lebih banyak, Indonesia memang pasar yang menggiurkan untuk dimasuki bisnis toko yang model seperti ini. Saya mendengar beberapa pemain besar dari luar yang bermain di bisnis berencana mencicipi gurihnya pasar ini. Kalau Anda berencana memutar sebagian uangnya untuk bisnis retail seperti, convenience store merupakan model usaha yang menarik dimasuki, mengapa? :

Pertama, perubahan gaya hidup praktis tetapi tetap pro higenis, tertata merupakan gaya hidup yang mulai melekat ke konsumen Indonesia. Apalagi ditambah gemuknya kelas menengah ekonomi yang semakin naik, mereka tidak lagi mau susah-susah masak di rumah untuk bisa lebih irit. Apalagi tawaran makanan yang disediakan tidak melulu “goreng-menggoreng” yang sangat tidak akrab dengan isu kesehatan yang mulai merasuki golongan menengah. Convenience store seperti ini bakalan menjadi pilihan untuk disambangi. Cuma barangkali tetap perlu kompromi dengan konsumen Indonesia yang tipikalnya suka ngobrol berlama-lama, penyediaan tempat duduk untuk bersantap di tempat masih diperlukan.

Kedua, menyesuaikan ritme aktivitas masyarakat yang mengalami metamorphosis. Misalnya mulai banyak kelas menengah yang kerjanya dimulai malam hari. Tidak lagi pukul 8 pagi sampai 5 sore lagi. Adanya convenience store seperti ini amatlah membantu. Dulu kalau kita harus lembur malam, pilihan paling banter nasi goreng, mie rebus di pinggir jalan. Dengan munculnya toko semacam ini, akan menjawab keinginan konsumen untuk mendapatkan pilihan asupan makanan yang lain sekaligus tawaran memprosesan makanan yang lebih bersih.

Kedepannya, convenience store tidak semata menyediakan servis makanan siap saji yang lebih higenis dan beragam tetapi juga bisa diperluas servisnya seperti  menyediakan servis fotocopy yang self-service, reservasi tiket, mencetak foto, pembayaran beberapa tagihan seperti tagihan HP seperti yang sudah dipraktekkan di convenience store di negera-negara lain. Dengan jam buka yang lebih panjang dan adanya beragam servis remeh, tapi dibutuhkan, bisnis ini tetap mempunyai prospek menarik untuk dimasuki. Apalagi banyak servis yang bisa disediakan yang belum terealisasi, ini merupakan business opportunity tersendiri.

Tertarik untuk menjajal mendirikan convenience store?

Menghaturkan Selamat Idul Fitri 1433 H bagi sidang pembaca Blog Manuver Bisnis yang merayakan, mohon dimaafkan hal-hal yang kurang berkenan selama berinteraksi selama ini.

Credit Photo : mrnaomi.wordpress.com

Previous

Merek itu Asset Bukan Komoditas

Next

Bank Pro Bisnis 2012

2 Comments

  1. Bro…hbs lebaran aku hubungi yaa…need to share my ideas…met lebaran yaaa, maaf lahir batin.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén