Menjitak Zona Kenyamanan Diri

Menjitak Zona Kenyamanan Diri Menjitak Zona Kenyamanan Diri comfortzone1

Air yang tergenang mandek akan cenderung keruh, dan air yang mengalir akan cenderung jernih” (pepatah dari Arab).

Salah satu hal tersulit mengintrodusir pelatihan kewirausahawan di lingkungan perusahaan, terutama perusahaan yang yang ketika sebelum didirikan “sudah mempunyai pelanggan tetap” adalah berinisiatif untuk bergerak mencari altrenatif baru dan melayani. Perusahaan di sini bisa bermacam-macam, bisa perusahaan milik Negara yang berdiri dengan mengantongi sederetan perintah untuk tinggal “mengerjakan” pekerjaan dimana pekerjaan tersebut merupakan “monopoli” Negara. Sampai perusahaan swasta, dimana perusahaan tersebut didirikan dan lahir untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang ada di perusahaan di lingkungan groupnya (holding company).

Walaupun secara organisatoris, ada departemen marketing, sales, atau penjualan. Akan tetapi aroma yang ada di departemen tersebut terasa sekali kalau departemen itu dilahirkan hanya sebagai “pelengkap” bukan sebagai “ujung tombak”. Biasanya, ritme dalam perusahaan tersebut terasa lambat, karena terkondisikan tinggal “melayani” captive market yang terang menderang. Persepsi mereguk aroma profit semu (pseudo profit) yang menjulang, susah untuk ditepis. Apalagi jelas-jelas mengantongi keputusan sebagai perusahaan yang monopoli atau oligopoli di suatu bidang tertentu. Kemungkinan meraih keuntungan adalah mudah sekali.

Makanya tak heran, perusahaan yang bertipe seperti ini akan kaget ketika “kran persaingan” dibuka secara fair dan terbuka. Yang paling kentara adalah, gaya melayani dan kesigapan bergerak mencari pasar baru terasa lemah. Karena terbiasa “didatangi” bukan “mendatangi”. Sehingga ketika ada pelatihan kewirausahaan yang seringkali diintrodusir kepada para karyawan menjelang pensiun, perilaku ini terbaca.

Kalau kondisinya sudah begitu, tipe bisnis apa yang bisa ditawarkan? Kalau tipe begini, bisnis yang ditawarkan untuk dikerjakan di masa pensiun, adalah bisnis-bisnis yang berkarakter “safety player”. Bisnis mendirikan usaha kost-kostan di tempat yang dekat lokasi kampus atau perkantoran misalnya. Atau bisnis-bisnis yang bertipe early adopter di suatu wilayah tertentu. Misalnya belum banyak usaha di bidang x di suatu daerah, padahal permintaannya lumayan, ini segera dimasuki. Sehingga bisnisnya bisa “menikamati” postinioning sebagai pemula yang terlebih dulu mereguk keuntungan dengan persaingan yang masih sedikit. Intinya yang disodorkan adalah tipe bisnis yang resikonya kecil meskipun untungnya juga biasanya kecil (low risk, low gain).

Pertanyaan menariknya adalah : Terus kalo begitu, bagaimana caranya tetap bekerja di perusahaan yang kebetulan mendapatkan peran keberuntungan mendapatkan hak prerogatif monopoli atau bekerja di suatu grup perusahaan besar dimana order dan pekerjaannya tinggal menerima limpahan dari induk dan grup perusahaannya?

Kalau dari sisi korporat, salah satu caranya perusahaan harus menghidupkan budaya intrapreneurship, yakni mentradisikan gaya entrepreneur di dalam perusahaan. Jadi para karyawan yang ada, dirangsang untuk berperilaku bak seorang wirausaha. Artinya, ada kompensasi khusus yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan yang mampu memberikan kontribusi lebih yang lebih produktif (dan hal ini tidak mesti berujung pada uang semata). Tetapi hal ini membutuhkan sebuah atmosfer budaya reward and punishment yang jelas dan konsekuen.

Kalau sudah begitu, penilaian kinerja berbasis performance yang rigid mutlak diterapkan. Sehingga kalau ada reward (penghargaan) yang hadir, tidak ada karyawan lain yang iri. Dan kalau punishment (hukuman) dijatuhkan-pun, yang merasa salah tidak lantas protes dan menunjuk kesalahan ke hidung orang lain. Ini barangkali yang perlu banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di negeri ini.

Tetapi bagaimana kalau kebetulan perusahaan yang kita naungi belum punya atmosfer yang seperti itu? Tidak perlu mengeluh dan menunjuk hidung kesalahan perusahaan dimana kita bekerja. Ketimbang menggerutu, dan menggosip suasana kerja yang tidak pro intrapreneur. Lebih baik energi kita salurkan untuk menggerus zona nyaman (comfort zone) yang kita punyai dengan cara menghadirkan prestasi terbaik dalam kerja. Dengan berlaku seperti itu, secara pribadi perilaku Anda akan “dipaksa” aware dengan rasa sigap, menghadirkan prestasi terbaik, serta melahirkan sikap “melayani”. Nyakinlah, Anda sendiri yang akan memetiknya di suatu hari nanti, bukan orang lain.

Bagaimana kalau masih lahir perasaan tidak nyaman dengan perilaku “lamban” dan “alpa inovasi” dalam perusahaan tersebut. Kalau itu masih terjadi, ketimbang bekerja dengan dilambari ketidakpuasan dan kejengkelan. Mulai ditulis saja surat pengunduran diri (resignation letter) dengan baik-baik dan mencari tempat dan atmosfer kerja yang lebih baik. Itu lebih baik bukan kalau Anda merasa teracuni oleh nuansa pro kenyamanan yang berlebihan di kantor?

Bagaimana dengan Anda?

Credit Photo : www.candicelee.me

Previous

Menjajakan Bisnis Kesadaran Akan Kesehatan

Next

Barkas : Ketika Barang Seken Di-bisniskan

6 Comments

  1. Arigato ne.. udah diingatkan..

  2. inspiring broo….!

  3. Itu terjadi pada diri saya, saya bekerja di sebuah BUMN tapi sangat lambab, sedangkan jiwa saya enterprenur dan bergerak cepat, lingkungan dan atasan saya juga terkadang (maap) lebih bodoh dari saya, dan berpikir kolot. Saya pengen keluar dari kerjaan dan mulai berangkat mandiri dengan wirausaha, tapi anak saya baru lahir n membutuhkan dana yg besar. Apa yang harus saya lakukan??

    • @Iman : Dijajaki usaha-usaha yang dapat dikerjakan sambil dimonitor dari kantor Mas. Di awal bisa merekrut kolega atau saudara yang bisa dipercaya untuk mengoperasikan. Kalau ternyata bisa berkembang dan bisa jalan barulah berencana untuk keluar/minta pensiun dini. Kalau keluar sebelum ada pengganti pekerjaan dengan kondisi sudah punya tanggungan keluarga, sangat tidak disarankan Mas Iman…

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén