Menjajakan Kesehatan, Memupus Kecemasan Menjajakan Kesehatan, Memupus Kecemasan healthmieBagaimanapun mengkonsumi mie instan adalah hal yang termudah, banyak yang menyukai dan lebih cepat untuk disajikan. Tak ayal, makanan satu ini menjadi salah satu hidangan favorit yang mudah ditemui dimana saja. Tapi berlebihan mengkonsumsi makanan satu ini bukanlah berita bagus untuk kesehatan. Peri kecil saya yang bersekolah di play group saja diajari tegas oleh gurunya, kalau mie instan berkategori “unhealthy food”. Tapi terkadang rasa gurih yang terpatri di lidah seakan tak kuasa menampik goyangan lidah rasa mie instan ini.

Di Indonesia, tingkat konsumsi mie instan ternyata cukup tinggi. Menurut beritasurabaya.net, Peringkatnya hanya dapat dikalahkan oleh orang Korea. Kalau di Korea per kepala mengkonsumsi 85 bungkus per tahun, di Indonesia mie instan dicecap per kepalanya 75 bungkus per tahunnya. Jadi walaupun lahir banyak kekhawatiran akan efek negatif yang ditimbulkan mie instan, bisnis ini tetaplah bisnis seksi yang menghasilkan margin yang tidak kecil. Tak heran group besar penghasil mie instan seperti Indofood (Indomie) dan Wings (Mie Sedaaap) tetap bercokol di bisnis bermargin tebal ini.

Tapi seiring dengan tingginya kecemasan sebagian anggota masyarakat akan efek negatif mie instan. Agaknya Indofood dan Wings yang punya lawan yang mampu memupus kekhawatiran ini. Seseorang yang cukup lama malang melintang di bisnis mie instan, yakni Djajadi (PT.Jagarana Tama Bogor) yang mengintrodusir mie instan yang diklaim lebih sehat dan lebih bergizi. Djajadi mengintrodusir  sebuah mie instan yang berbahan baku rumput laut (green barley), rendah lemak, tanpa pewarna…..dan yang pasti, menampik menyisipkan MSG dalam mie ini. Mie itu bermerek healtimie.

Dari namanya, sepertinya Djajadi ingin menghadirkan sebuah gaya hidup sehat ketika mengkonsumsi mie instan. Lahirnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, menyebabkan konsep Healtimie dikenalkan. Djajadi sepertinya ingin mengambil momentum gaya hidup sehat serta tingginya konsumsi mie instan di Indonesia dengan produk ini. Kalau mie instan konvensional proses produksinya setelah penyeteman akan ada proses “penggorengan” mie yang menyebabkan tertinggalnya minyak dalam Mie. Hal ini yang melahirkan sebersit kekhawatiran akan tingginya kandungan minyak dalam mie. Sementara Healtimie sepertinya menjauhkan diri dari proses penggorengan sebagai penggantinya penguapan air dilakukan dengan pemanasan tinggi, sehingga faktor minyak bisa direduksi semaksimal mungkin.

Tidak heran untuk memperkuat postioning sebagai makanan mie yang sehat, tag-line di website-nya didesain dengan cukup menarik “ Enak saja tidak cukup, tapi harus lebih sehat”.  Tetapi sebagai orang yang pernah mengkonsumsi Healtimie, sandungan utama yang bakal mengganjal kelangsungannya bukan datang dari perihal kesehatan tapi lebih pada kemampuan “menggoyang lidah” orang-orang yang mempunyai kesadaran akan kesehatan ini.

Masalah kedua yang tidak kalah pelik adalah variasi rasa juga tidak sebanyak mie instan konvensional. Ini berbahaya, walaupun akal sehatnya mengiyakan produk ini hadir dengan kemampuan yang lebih sehat, tetapi keragaman rasa yang disodorkan itu-itu saja akan memicu kebosanan tersendiri. Healtimie harus memperbanyak varian untuk mengakomodasi keinginan rasa yang beragam yang sudah terbentuk dari mie instan konvensional yang lebih dulu lahir.

Sebagai blog yang yang tidak sekedar menghadirkan isu bertajuk bisnis semata, bisnis kecil tapi mampu menghadirkan kesadaran akan kualitas hidup lebih baik, seperti lahirnya Djajadi dengan Healtimie haruslah didukung dan perlu diapresiasi. Hidup Bisnis+sehat……

Credit Photo : monitordepok.co.id