Menjajakan Bisnis Kesadaran Akan Kesehatan

Menjajakan Bisnis Kesadaran Akan Kesehatan Menjajakan Bisnis Kesadaran Akan Kesehatan slow food in soup

Minggu lalu, Jagoan kecil and Peri Kecilku saya ajak sedikit refreshing yang tidak seperti biasa, yang biasanya hanya wira-wiri masuk mal nan dingin oleh semburan AC, seringkali disisipi makan siang yang terkadang berujung di restoran cepat saji (fast food), maklum mengikuti selera mereka berdua. Saya berpikir “refreshing” yang sama sekali kurang sehat, walaupun sekilas memanjakan tubuh (karena tidak berkeringat) dan dibuai kenyamanan. Akhirnya makan pun yang dimakan juga instan yang memuja kecepatan namun “tidak intim” dengan kesehatan. Sebuah kebiasaan yang mesti dirubah. Kalo sudah begini Ayahnya harus bisa memilih tempat refreshing yang tidak selalu “mengamini” keinginan anak.

Akhirnya pilihan refreshing jatuh pada pilihan “bersepeda” dan berlari kecil di kawasan Eco Park di Ancol. Dengan dimulai bangun pagi dengan udara yang masih segar, kita berangkat ke sana sembari membawa sepeda untuknya . Sampai disana ternyata sudah banyak orang mulai berdatangan dengan membawa sepeda serta berkostum untuk siap mengeluarkan keringat. Walaupun agak kagok, karena terbiasa diajak mengunjungi mal nan dingin. Wajahnya mulai merona merah “terbakar” sengatan matahari serta keringat banjir bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya. Toh, lama-kelamaan mereka berdua mulai menikmati refreshing bersepeda yang harus mengerahkan energi untuk mau mengayuh.

Sambil mengusap keringat dan duduk di bawah pohon yang rindang, saya mengamati betapa banyak orang yang datang dengan membawa sepeda yang boleh dikata “tidak murah” itu serta yang unik, membawa bekal makanan dari rumah sendiri-sendiri. Meskipun ada beberapa kedai yang menyediakan makanan di sekitar Eco Park, walaupun tidak semasif di Monas, karena ada pembatasan. Nampaknya orang yang datang kesana, ketika saya lirik makanan yang dibawa, menyiratkan kesadaran tinggi akan kesehatan. Rata-rata makanan diproses dengan direbus, dibakar, dikukus dan didominasi sayur-sayuran dan buah-buahan. Kalau pun harus sedikit berkolesterol, memprosesannya lebih “pro kesehatan”. Jarang ada goreng-gorengan.

Nyaris saya tidak ada fenomena yang galibnya biasa saya lihat di negeri ini. Lari-larinya cuman sesaat dan sebentar sekali, jajannya makanan berkolestor tinggi atau cepat saji. Seakan tidak imbang antara pemasukan yang diwakili olahraga lari-lari kecil yang keringatnya bercucuran amat sedikit dengan dengan pengeluarannya, yakni mengkonsumsi makanan yang pekat kolesterolnya. Memang ujungnya bukanlah cucuran keringat yang menyehatkan, tetapi berkeringat karena makanan yang dikonsumsi kebetulan tersaji dalam kondisi panas. Sebuah pemandangan menarik sekaligus melegakan melihat ratusan orang bergerak serta mengkonsumsi makanan sehat lantaran dipicu kesadaran akan kesehatan.

Melihat fenomena tersebut di atas, saya jadi ingat beberapa orang yang membangun sebuah restoran yang mengambil tema “Slow Food” yang lumayan marak di Jakarta. Tema ini sebenarnya dipopulerkan oleh Carlo Petrini di medio 80-an dengan mengusung ide pentingnya penyediakan masakan yang lebih menyehatan dengan bahan-bahan yang lebih “ramah” terhadap tubuh. Beberapa restoran yang mengusung tema itu barangkali, tidak seramai dan sesesak restoran fast food yang menjamur sekarang. Tetapi muncul gelegak kesadaran akan pentingnya mengkonsumsi makanan yang lebih sehat. Orang-orang yang datang minggu itu ke Eco Park dengan antuisme yang tinggi bersepeda dan berlari-lari, bukan tidak punya “uang” untuk mampir café atau restoran di Ancol. Tetapi jelas, karena minimnya restoran yang pro akan pengolahan makanan sehat yang dikenal sebagai makanan Slow Food disana.

Berubahnya pendulum perilaku sehat seperti ini disamping perlu diapresiasi karena mengusung pola hidup yang menyehatkan. Perlu disediakan sarana penunjang yang selaras dengan aktivitas pro kesehatan tadi. Ini berarti, aspek perubahan perilaku yang sehat ini juga berarti kesempatan bisnis tersendiri. Walaupun belum semua sadar akan hal itu, mulai berpikir mendirikan makanan slow food yang lebih menyehatkan agaknya perlu dimulai. Jadi dari segi bisnis tetap reliable, tapi konsumen diberi alternatif untuk membeli makanan yang menolak untuk dijejali terus menerus makanan ala junk food yang membahayakan tubuh.

Saya pikir dengan memulai di tempat-tempat yang atmosfernya sangat pro kesehatan, seperti di Eco Park yang menyediakan track bersepeda dan berlari, tempat olahraga seperti gym, futsal, kolam renang. Bisnis ini mempunyai potensi besar untuk menggeliat dan membesar. Melihat pangsa sadar kesehatan yang semakin membesar, bisnis ini merupakan bisnis alternatif yang pantas dan perlu digagas untuk digelindingkan.

Tertarik mulai menerjuni bisnis Slow Food?

Credit Photo : winerose.com

Previous

Memberitakan Alasan, Menggapai Produktivitas

Next

Menjitak Zona Kenyamanan Diri

2 Comments

  1. sebuah informasi yang sangat inovatif dan merupakan sebuah ide yang menarik untuk dipelajari, dan saya sangat senang dengan tulisan anda yang membuat saya selalu belajar dan belajar, terima kasih atas ide dan kreasinya!

1 Pingback

  1. perusahaan makanan

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén