Menjadi Entrepreneur di Usia Senja : Beresiko ?

Menjadi Entrepreneur di Usia Senja : Beresiko ? Menjadi Entrepreneur di Usia Senja : Beresiko ? retire worker

Pernah suatu saat, saya diundang oleh Manager SDM dan staff sebuah perusahaan pelat merah di bilangan Jakarta yang mendiskusikan sebuah aksi untuk para karyawan yang memasuki MPP (Masa Persiapan Pensiun) di perusahaan tersebut. Sudah menjadi rahasia umum, acapkali banyak pegawai yang memasuki masa purnabakti menghadapi kehidupan financial yang cukup berat (untuk tidak mengatakan akut). Biasa menerima gaji per bulan yang cukup lumayan secara kontinyu, mendadak ketika memasuki masa pensiun yang didapat hanya sekian persen dari gaji yang biasa diterima, tentunya sebuah tantangan yang tidak ringan. Apalagi ketika pengeluaran sekarang yang cenderung membengkak. Sementara pendapatan bulanan tergerus signifikan.

Sehingga di beberapa kasus, saya melihat beberapa yang benar-benar pensiun atau yang minta pensiun muda (golden shake hand) kehabisan “bahan bakar”, terkadang sampai menjual aset rumah, mobil dan aset lainnya hanya untuk menyambung hidup. Di beberapa kasus malah lebih parah daripada itu. Ada yang datang ke kantor lamanya berharap mendapat “pekerjaan” atau “proyek” agar bisa mengepulkan asap dapurnya, karena benar-benar uangnya habis. Tim dari HR departemen tadi minta usulan program pelatihan entrepreneur yang cocok dan pas untuk beliau-beliau yang akan memasuki masa pensiun.

Fakta lapangan tadi, sejalan dengan laporan Koran Kompas beberapa saat lalu yang menjumput sebuat pendapat dari seorang financial planner (perencana keuangan) yang menyatakan 90 % Karyawan Tidak Siap Menghadapi Pensiun. Ini sebuah fenomena jamak yang terjadi di masyarakat kita.

Saya hanya berkata dalam hati, tanpa bermaksud men-discourage niat mulia dari tim HR perusahaan pelat merah tadi. Mengusulkan sebuah pelatihan entrepreneurship menjelang 1-2 tahun memasuki masa pensiun, apakah bukan pilihan instan?. Pilihan menjadi entrepreneur menjelang usia mendekati senja bukanlah hal yang haram, tapi resiko “kegagalannya” boleh dibilang cukup tinggi. Karena bagaimanapun bisnis itu bak dua koin : bisa untung tapi bisa juga rugi. Kalau menelan kerugian pada usia cukup senja dan menghabiskan uang pensiun serta uang tabungan hanya karena salah “berbisnis” di usia senja tentunya bukan hasil yang diharapkan bukan?

Kalau saya boleh berpendapat, niat mulia dari tim HR mengadakan pelatihan entrepreneurship untuk pegawai yang memasuki MPP merupakan sebuah langkah yang perlu diapresiasi. Tapi untuk para karyawan yang sudah memasuki masa pensiun, melakukan gebrakan awal ber-entrepreneur di usia senja adalah resikonya lumayan tinggi. Saran yang bisa saya sarankan :

Pertama, Kalau memang perusahaan berniat “membekali” para karyawannya dengan pelatihan dan bantuan untuk berwirausaha, sebaiknya dilakukan jauh-jauh hari. Bukan tinggal 1-2 tahun menjelang pensiun. Karena salah satu ciri entrepreneur yang disyaratkan dalah mengedepankan “kecekatan”. Sebuah requirement yang mulai berkurang di masa-masa usia menjelang MPP, ketika kelambanan karena faktor usia sudah menggelayuti. Jadi sebaiknya 10-15 tahun sebelum MPP, pelatihan dan bantuan dana untuk berwirausaha dilakukan. Dengan masa itu, energi masih lumayan, di sisi lain kalau bisnis yang digelindingkan terantuk masalah, masih ada waktu memperbaikinya. Syukur-syukur program entrepreneur yang dilakukan tadi bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan posisinya sebagai karyawan (artinya bisnis yang dijalankan dioperasikan pasangannya atau kerabat), itu lebih ideal lagi.

Kedua, kalau toh pelatihan dan bantuan dana untuk program kewirausahawan tadi tetap dipaksakan untuk digelindingkan 1-2 tahun menjelang purnabakti. Saya sarankan pemilihan bisnis yang akan dilakoni adalah menerjuni bisnis-bisnis “konvensional” yang tingkat kepastian keuntungannya tinggi, walaupun secara nominal nilainya kecil tapi kontinyu. Misalnya bisnis pendirian kos di dekat kampus, membuat warung kebutuhan hidup yang dioperasikan secara franchise yang membantu mengurangi biaya promosi/pemasaran. Pemilihan ini menjadi penting karena hal ini akan mengurangi resiko “kegagalan” dalam berbisnis di usia senja.

Akhirnya berbisnis di usia senja adalah pilihan boleh-boleh saja. Tapi agaknya, kalau bisa diawali jauh-jauh hari sebelum masa pensiun menggelayuti merupakan sebuah pilihan yang lebih bijak. So, Sudahkan Anda merencanakan bisnis setelah Anda pensiun sebagai karyawan nantinya?

Credit Photo : career.jobboom.com

Previous

Socialpreneur ala CEO Tas Reptil dan Amphibi

Next

Kearifan Jurangan Lele dari Desa Gadog

2 Comments

  1. Rinaldi

    Dear Pak Donny
    Setuju sekali pak, karena siklus perusahaan hampir sama dengan siklus kehidupan manusia dalam hidup nya.

    5 tahun pertama , adalah masa yang sangat krusial. 10 tahun selanjutnya adalah masa pematangan dan pengembangan. Unt membuat pondasi perusahaan/bisnis yang kuat.

    Kecuali memang tujuan hanya sekedar mencari income mengisi waktu yang tersedia.

    Salam
    Rinaldi

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén