Mengobarkan Antusiasme Kewirausahaan Di Daerah Perbatasan Mengobarkan Antusiasme Kewirausahaan Di Daerah Perbatasan training di kepriUntuk kesekian kalinya, beberapa hari lalu, saya mendapat kehormatan dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KemenkopUkm), kali saya diminta untuk mengisi di Kepualauan Riau, yang wilayahnya terpecah-pecah menjadi beberapa pulau-pulau kecil di dekat perbatasan dengan Negara Singapura dan Malaysia. Topik yang disodorkan adalah pelatihan tentang Menumbuhkembangkan Kewirausahawan dengan Pelatihan Manajemen UKM. Mulainya ramainya dan menggeliatnya roda bisnis di pulai Batam, Bintan, Tanjung Pinang yang notabene masuk wilayah Propinsi Kepulauan Riau (Kepri) memang kabar baik yang perlu disyukuri, tapi derasnya masuk investasi terutama dari luar negeri di daerah itu, kalau tidak diimbangi dengan “empowerment” masyarakat didaerah itu, tentunya seperti mengobarkan “kecemburuan”. Betapa tidak, ketika wilayah itu dihampiri banyak investor asing yang beramai-ramai membangun bisnis di daerah mereka, sementara mereka hanya diam menyaksikan, ibarat ada pesta di tempat itu, mereka hanya “disuruh” menonton. Tentunya, ini adalah sebuah ironi besar.

Takjub juga pertama kali ketika melihat para peserta yang rata-rata sudah mempunyai bisnis kecil mempunyai semangat untuk datang berbondong-bondong naik kapal dari pulaunya masing-masing yang terkadang memakan waktu yang tidak singkat. Inilah yang selalu menyemangati saya pribadi, untuk selalu menyediakan waktu untuk “berbagi” dengan saudara-saudara kita di daerah yang jauh dengan hiruk pikuk Kota besar. Sharing di kota-kota yang jarang tersentuh pelatihan, terasa hal yang dibincangkan di sesi pelatihan itu terasa berguna untuk kemajuan usaha yang sudah mereka rintis. Setidaknya saya melihat dari serangkaian lontaran pertanyaan yang mereka ajukan. Sebuah Kelas yang hidup, penuh gairah dan sangat produktif.

Jumlah peserta yang ada pun didominasi para Ibu, ya penggerak roda bisnis di Indonesia untuk sektor mikro dan kecil, peran Ibu memang pantang diragukan. Memang hal ini sejalan dengan data dari BPS, ada sekitar 27 ribu jiwa lebih. Ini tentunya akan sangat bermanfaat, kalo potensi para Ibu ini dalam mengelola bisnis mereka dengan tetap dekat dengan rumah untuk tetap mengurus keluarganya. Tipikal ini kedepan perlu untuk dirancang. Karena peran dominasi para Ibu di sektor ini amatlah kuat. Sehingga pelatihan kewirausahawan ke depan perlu untuk mengakomodir kepentingan para Ibu yang menekuni kantong-kontong sektor usaha mikro dan kecil.

Setidaknya ada tiga kelebihan, ketika para Ibu mencoba menekuni kewirausahawan di rumah :

Pertama, ketika usaha tersebut dikembangan dari rumah, tentunya peran Ibu untuk tetap dekat dan lekat dengan keluarga yang masih menjadi hal penting di kultur bangsa kita tidak terganggu. Ketika tumbuh kembang putra-putrinya bisa terpantau dengan baik, biasanya proses bisnis lebih baik karena ada faktor “rasa secure” yang ada.

Kedua, Ketika bisnis yang digelindingkan bisa berjalan dengan baik, kalau kebetulan sang Suami berpenghasilan cukup, maka apa yang bisa dihasilkan bisa menjadi penghasilan tambahan yang amat membantu, apalagi kalau kebetulan penghasilan suami relatif pas-pasan, misalnya karena banyak di daerah situ geografinya laut, banyak yang menjadi nelayan. Kalau pas cuaca kurang baik, biasanya akan sedikit sulit mendapatkan ikan, peran usaha para Ibu amatlah membantu.

Ketiga, Sudah ada beberapa usaha kecil yang dikembangkan bisa berkembang, tentunya langkah ini dapat diteruskan menjadi “usaha yang lebih serius” dengan menjadi perusahaan yang menjadi tata kelola manajemen yang lebih baik. Pada titik ini, beberapa usaha yang sudah mulai mapan dan berkelanjutan, pelatihan untuk mengelola usaha kecil dengan pendekatan-pendekatan manajemen sederhana amat sangat membantu. Yang mandeg di step ini, biasanya kurang mendapat bantuan pelatihan yang memadai . Karena pelatihan secara berkelanjutan memegang peranan penting di sini.

Ketiga kelebihan di atas hanya terlihat hasilnya membutuhkan sebuah proses kreatif dan kemauan besar pantang menyerah. Jadi dalam pelatihan itu, serangkaian pelatihan untuk mencoba merangsang sisi kreatif dari bisnis yang sudah dijalankan coba diintrodusir. Disamping mencoba membenahi beberapa kekurangan khas yang biasa yang terjadi usaha UKM pun kita coba bahas. Sehingga diharapkan ada sebuah tambahan amunisi untuk para wirausaha, khususnya para Ibu untuk lebih memekarkan bisnisnya.

Sepenggal doa untuk para usahawan tingkat UKM di perbatasan….semoga selalu tabah berjuang dan pantang menyerah dalam membesarkan bisnis mereka. Seperti yel-yel kecil yang mereka buat sendiri yang selalu diteriakkan setiap awal-akhir setiap sesi didengungkan: UKM Kepri? Luaaaaaar Biasaaaaaa !!!!!

Credit Photo : Private Collection