Mengintroduksi Turn Around Management

Mengintroduksi Turn Around Management Mengintroduksi Turn Around Management arrows round about 6v

The first beginning of things cannot be distinguished by the eye” (Lucrentius)

“Heran banget deh, agenda perubahan yang dicanangkan direktur hanya ramai ketika pencanangan pertama ketika program perubahan diintrodusir”, kata seorang manager geram. “Ketika awal pencanangan pertama terlihat semarak dan gegap gempita.” Tapi ketika acara ceremony berakhir, dan program mulai dijalankan, ide perubahan (baca : turn around management) yang diusung mendadak macet disana-sini, cenderung mandek dan responnya kurang antusias”, lanjutnya masgul. Tentunya Anda pernah mendengar atau malah pernah mengalami kejadian seperti di perusahaan tempat Anda bekerja bukan?

Bicara perubahan, saya jadi ingat guru Biologi saya ketika di sekolah menengah pertama dulu menjelaskan tentang katak yang mati dalam sebuah tempat berair dingin yang dipanaskan dengan perlahan-lahan. Sang katak tidak sadar bahwa suhu air naik, dia mati karena tidak menyadari atau “terlambat” merespon perubahan. Padahal kalau katak dimasukkan ke air yang suhunya sudah panas, secara reflek pasti dia melompat dari tempat itu. Gambaran katak tadi sedikit banyak menjelaskan fenomena keluhan yang dialami seorang manager di atas. Mengapa sulit membuat katak melompat dari “zona nyamannya” sebelum suhu panas air itu akan merebusnya sampai mati?

Itulah mengapa beberapa bisnis yang dulunya menjulang reputasinya, karena gagap merespon perubahan bisnis di sekitarnya, lama kelamaan mati dan bangkrut seperti yang dialami katak tadi. Celakanya, sebelumnya yang mengajak segera “pindah haluan” di kalangan internalnya sudah ada tetapi ajakan tersebut kurang ditanggapi. Apalagi ajakan pindah haluan tadi dilakukan ketika kondisi perusahaan sedang dalam kondisi sehat dan prima, dipastikan ajakan pindah haluan akan dianggap sebagai angin lalu. Contih Kasus Merpati Airlines, Mandala Airlines kalau mau ditelisik lebih lanjut sebenarnya berujung pada persoalan terlambatnya merespon banyaknya airlines baru di yang beramai-ramai menawarkan tarif murah. Padahal sebelumnya kondisi mereka tidak “buruk-buruk amat”. Tentunya, Para Pembaca tahu apa yang terjadi sekarang pada dua airlines tersebut.

Lalu bagaimana strategi agar turn around management yang diintrodusir bisa mendapat respon yang positif sehingga bisa diambil langkah-langkah strategis sebelum bangkrut? Ada beberapa pendekatan agar langkah perubahan dalam perusahaan bisa diamini orang banyak dalam perusahaan.

Pertama, ciptakan kontras kepada elemen-elemen penting di dalam perusahaan, kalau memungkinkan semua elemen paham kekontrasan tersebut. Persis seperti melempar katak di air panas, pasti katak tersebut langsung melompat keluar. Bagaimana caranya? Caranya bisa bermacam-macam, bisa mengirim beberapa dari mereka untuk melihat langsung bisnis sejenis di luar negeri untuk melihat langsung bahwa kondisi bisnis arah anginnya sudah berubah. Seperti yang dilakukan sebuah produsen sepeda di Indonesia, yang melihat kemacetan akut di Jakarta sebagai sebuah “peluang”. Kru yang dikirim ke luar negeri bisa menyaksikan dengan kepala sendiri betapa di luar negeri juga macet seperti di Jakarta. Tapi dengan menggunakan sepeda, merupakan sebuah solusi tersendiri ketimbang menggerutu dalam mobil yang didera kemacetan. Sekarang merek sepeda itu sudah leading di bisnis sepeda. Cara yang lebih murah, yakni menghadirkan seseorang yang pernah punya pengalaman bisnis di tempat lain untuk berbicara di internal kru perusahaan. Pemaparan dengan pendekatan kontras akan memudahkan mengajak kalangan internal perusahaan untuk berputar haluan. Ada proses “penyadaran” tidak langsung dalam pendekatan ini.

Kedua, diinjeksikan agenda dan kampanye perubahan terus menerus, jangan seremonial semata. Karena kalau sekedar disentil sesaat akan hilang. Langkah kedua ini membutuhkan endurance dan energy yang banyak karena dilakukan secara simultan dengan jangka waktu yang relatif panjang. Pada langkah kedua kampanye perlu dibarengi pemaparan tujuan dan sasaran yang jelas, dukungan sumber daya yang memadai (mulai dari SDM, keuangan, dll) serta imbalan yang diterima sebagai insentif. Pendeknya blue print strategy-nya harus clear, komprehensif dan jelas.

Kalau kedua hal ini bisa dilakukan secara intensif, apalagi turn around management dicanangkan ketika kondisi perusahaan relatif sehat, tingkat keberhasilan agenda perubahan akan lebih smooth ketika diintrodusir. Dalam kondisi yang relatif sehat, opsi dan langkah yang bisa dipilih lebih beragam ketimbang berubah dalam kondisi sudah terpepet, cash flow-nya seret dan dibelit hutang. Karena agenda perubahan yang diusung akan “terganggu” dan bertabrakan dengan agenda efisiensi perusahaan. Bisa-bisa berujung pada komplikasi seperti halnya dalam penanganan penyakit dalam kesehatan. So….bagaimana dengan agenda turn around management di tempat kerja Anda?

Credit Photo : www.turnaround-society.com

Previous

Sinyal Bahaya dari “KPI Games”

Next

Menyalip di Tingkungan ala Penantang Pasar

2 Comments

  1. Rinaldi

    Mas Don, apa kabar ?
    Menarik nih artikel nya.

    Cara yang biasa nya saya gunakan dalam melakukan perubahan yang fundamental di kantor, seperti membangun semangat kerja menjadi lebih baik atau apa pun, adalah merubah lay out ruangan kantor.

    Tidak harus sampai merubah interior yang mungkin bisa memakan biaya yag cukup besar, tetapi cukup degan merubah tempat duduk/meja setiap karyawan.

    Panca indra manusia yang paling banyak menyerap informasi adalah mata.

    Dengan berubah nya lay out akan merubah pandangan semua karyawan. Perubahan lay out juga merubah alur kerja atau pergerakan orang yang ada di dalam nya.

    Perubahan ini secara tidak langsung akan membuat mata semua orang menjadi awas kembali, dan ini akan lebih mudah unt mereka menyerap bahwa ada perubahan di kantor mereka.

    Memang perubahan lay out saja tidak cukup, perlu di tambah dengan perubahan lain nya….dengan tujuan yang sama, making the company better.

    Salam
    Rinaldi

    • @Rinaldi : Bang Rinaldi terima kasih atas apreasiasinya sekaligus sharingnya. Agaknya langkah yang dilakukan Bang Rinaldi, langkah sederhana yang tidak banyak menyerap dana dan tenanga, tetapi implikasinya cukup besar dan signifikan. Sukses Bang untuk bisnisnya di Thailand…ditunggu sharing menarik berikutnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén