Menginjeksikan Corporate Culture Baru

Menginjeksikan Corporate Culture Baru Menginjeksikan Corporate Culture Baru indonesia power2People want guidance, not rhetoric. They need to know what the plan of action is, and how it will be implemented. They want to be given responsibility to help solve the problem and authority to act on it.”
(Howard S, Pour Your Heart Into It: How Starbucks Built a Company One Cup at a Time)

Dalam kacamata manajemen dan bisnis, seringkali skala prioritas menginjeksikan budaya-budaya positif dalam organisasi belum menjadi skala pilihan utama. “Ah begini saja sudah sukses, mengapa harus mengubah kebiasaan yang mempersulit diri sendiri?”, pertanyaan seperti ini kurang lebih yang dihadapi para rekan-rekan yang ada di departemen SDM yang biasanya membawahi ihwal bab corporate culture ini. Acapkali resistensi malahan muncul dari internal, khususnya para “senior” perusahaan yang merasa perubahan budaya yang diintrodusir dan dikenalkan masih dianggap hal yang “merepotkan” dan “mengada-ada”.

Suatu saat saya mendapat undangan dari Bapak Ahsin Sidqi, General Manager UBP Priok milik Indonesia Power. Sebuah anak perusahaan PLN, yang bertanggung jawab atas “byar dan petsupply listrik di Jakarta dan sekitarnya. Ajakan mampir untuk berkeliling di sebuah instalasi penting untuk kota metropolitan ini tentu cukup menarik untuk dilewatkan begitu saja.

Sesampai disana, dengan menggunakan sepeda dan safety helmet, dengan diantar kepala SDM-nya yang berlatar belakang engineer saya mencoba menyusuri beberapa unit kerja yang ada di sana. Salah satu alasan mengapa saya tertarik untuk menerima undangannya untuk jalan-jalan kesana adalah, cerita beliau bahwa tim-nya di Priok telah “sukses” menerapkan budaya baru. Saya ingin membuktikan dengan melihatnya sendiri.

Jujur saja awalnya saya sedikit skeptis, tapi setelah ditemani untuk melihat unit-unit kerjanya, dengan sedikit menantang saya dipersilahkan memilih unit kerja mana yang akan dikunjungi. “Ndak kan ditutup-ditutupi, silahkan memilih unit kerja mana dulu yang akan “diinspeksi”.  Sembari melihat-melihat langsung, dan sesekali berhenti untuk berbicara dengan kru yang di unit-unit tersebut, jujur saya terkesan, mulai dari penerapan 5S ala Jepang sampai penerapan green friendly yang diterapkan. Ada nuansa baru yang ditawarkan anak perusahaan PLN ini.

Biasanya kalau saya “inspeksi mendadak” banyak yang bisnis proses dan pemandangan yang kotor dan acak adul, saya tidak menemukan nuansa itu disana. Untuk menunjukkan seiton (kerapian), sebut saja peralatan yang dibutuhkan, dalam beberapa detik perkakas yang dibutuhkan pasti bisa ditemukan, karena  5S sudah diterapkan dengan baik disana. Di lingkungan instalasi untuk mendukung program pro lingkungan, masuk keluar lingkungan disana memakai sepeda merupakan hal lumrah. Bahkan Pak Ahsin sebagai orang nomor satu disana tidak canggung memeriksa unit-unit disana dengan menggowes sepeda. Tidak ada perbedaan maupun perlakuan khusus. Jadi pas saya kesana beliau menginspeksi unit-unitnya disana dengan mengayuh sepeda. Sebuah langkah teladan yang tidak perlu digembar-gemborkan, kalau sang komandan sudah melakukan, bawahan akan mengamini  dengan senang hati.

Kebetulan memang Indonesia lagi gencar-gencarnya menginjeksikan budaya baru yang dikenal dengan Indonesia Power Way yang memuat “arahan-arahan” tentang cara bertindak dan cara bertindak insan Indonesia Power dalam menjalankan pekerjaannya. Tapi saya kali ini tidak membahas tentang perihal tersebut. Tapi lebih mengingatkan bahwa, menginjeksikan budaya baru, walaupun dengan istilah-istilah canggih tapi tidak dikawal dan dilakukan juga oleh para pimpinannya, itu akan hanya menjadi slogan retorik yang indah diteriakkan. Tetapi akan kering implementasinya. Dan yang pasti pogram tersebut pasti akan gagal total.

Menyambangi langsung dan melihat dari dekat dan langsung, saya menjadi tahu bahwa budaya yang diinjeksikan berjalan, karena para leader di institusi tersebut ikut mengawal dan mengamalkan apa yang diteriakkan.  Tanpa itu, itu bak sirop lama yang diganti botol baru. Inilah permasalahan yang sering membelit ketika nilai-nilai budaya baru hendak diperkenalkan, karena  hanya “diperuntukkan” karyawan bawah dan sebaliknya kalis untuk pimpinan.

Ya, inilah tantangan menerapkan budaya perusahaan, jangan sekali-kali menyuruh orang lain melakukan hal tersebut, ketika hal tersebut belum atau tidak dilakukan oleh para pimpinannya. Mencontohkan dengan melakoninya adalah hal yang sangat berbeda dengan sekedar menyuruh.

Bagaimana corporate culture di perusahaan Anda?

Terima kasih kepada Pak Widyarbono, Kepala Pengembangan UBP Priok yang berkenan mengajak ber-gemba dengan berpanas-panas di terik matahari di fasilitas Indonesia Power UBP Priok, pembelajaran yang bermanfaat Pak Bono 🙂

Credit Photo : Private Collection

Previous

Whistle Blower dan Integritas Bisnis

Next

Kiat Wardah Menjual Segmented Products

5 Comments

  1. Florencia

    Menarik sekali topiknya, Pak Donny. Terima kasih sudah di-sharing. Yang paling mengena ke saya adalah kutipan kata-kata CEO Howard Schultz yang saya sangat berharap saya temui di tempat kerja sekarang, tapi sayangnya tidak. Hal ini yang menyebabkan saya memberanikan diri mengajukan resign. Sedih, tapi saya mencari workplace dimana pemimpin bisa membimbing dan saya bisa berkembang serta memberikan yang terbaik dari apa yang saya miliki.

    • Terimakasih Pak Donny, hubungan yang sangat dekat dalam hati adalah keluarga, apabila salah satu keluarga sakit/merasa tidak nyaman maka keluarga itu merasakannya. Demikian juga di UBP Priok kita ciptakan situasi bekerja sebagai keluarga yang profesional, suasana ruangan di bebaskan sesuai dengan selera penghuni ruangan tersebut sehingga warna ruangan yang berbeda-beda tetapi semuanya dalam satu tujuan yaitu Indonesia Pwwer Way. Saya ingat pada saat pulang sdh malam sebelum tidur hadir di kamar anak dan membetulkan selimut anak, disinilah hubungan batin terjalin. Demikian juga di UBP Priok para pimpinan selalu hadir di lapangan sehingga dapat bersama-sama merasakan suka dukanya (hubungan batin terjalin). Meskipun suasana kekeluargaan tetapi dalam bekerja tetap profesional (saat ada promosi yg ditunjuk juga sesuai dng kompetensi yg dibutuhkan) proses OJT (on Job Training) selalu dilaksanakan bagi pegawai yg rotasi maupun promosi ( di sini proses keterbukaan nyata)
      Demikian pak Donny Terimakasih tulisannya. Tuhan memberkati. Salam semangat !

      • @Florencia : Terima kasih Mba berkenan mampir @ Pak Widyarbono : Terima kasih juga Pak berkenan menemani menggowes bersama di fasilitas UBP Priok, Tetap semangat…sukses kagem Panjenengan Pak Bono 🙂

  2. ahsin

    “Indonesia Power Goes to the Power of Indonesia”

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén