Menginjeksikan Budaya Displin ala Ignasius Jonan

Menginjeksikan Budaya Displin ala Ignasius Jonan Menginjeksikan Budaya Displin ala Ignasius Jonan kereta api batik

All companies have a culture, some companies have discipline, but few companies have a culture of discipline (Jim Collins).

“Pak, saya memesan tiket Taksaka Malam dari Stasiun Tugu-Jogja ke Gambir-Jakarta, tapi oleh yang melayani tiket saya diberi tiket Taksaka Pagi yang berangkat jam 10.00 pagi, apakah masih memungkinkan saya naik Taksaka Malam dengan memakai tiket ini, saya tidak bermaksud naik kereta api tanpa bayar, besok saya harus sampai Jakarta,” jelas saya sekaligus memohon kepada petugas di stasiun Tugu. Saat itu adalah musim liburan sekolah, sehingga tidak memungkinkan bagi saya untuk membeli tiket baru lagi untuk Taksaka Malam yang beberapa menit kedepan akan berangkat. “Wah, Mas, kayaknya tidak bisa kita memberikan dispensasi seperti itu, barangkali dulu hal itu boleh, sekarang tidak mungkin, peraturan dirut baru, mohon maaf”, jawab petugas stasiun.

Tidak mau menyerah begitu saja, karena besok saya harus sampai di Jakarta untuk suatu urusan. Dulu saya sering melihat, bisik-bisik antara “oknum” masinis atau kondektur dengan beberapa “penumpang gelap” di rangkaian kereta bernegosiasi masuk kereta tanpa tiket. Saya mencoba mendekati kondektur, sambil memperlihatkan selembar karcis Taksaka hari itu tapi untuk jadwal keberangkatan pagi hari. Setali tiga uang, ternyata, sekarang Kondektur pun tidak berani “menjamin”, ketika saya mengutarakan permasalahan saya, walaupun saya bilang ini tiket Taksaka pagi dan saya bersedia duduk “tidak nyaman” di restorasi (restoran makan di kereta api), karena tidak punya nomer tempat duduk. Sang Kondektur menggeleng,”Saya tidak bisa menjamin Bapak, sebaiknya Bapak membeli tiket lagi”, jawab Kondektur Taksaka dengan asertif namun tetap sopan. Masalah kala itu bukan saya tidak mau membeli tiket lagi, tapi tiket sudah habis. Saya tidak bermaksud minta “kebijaksanaan” atau mencoba menyuap.

Sepenggal cerita tadi terjadi baru beberapa minggu yang lalu, saya melihat dengan kepala mata sendiri ada kultur disiplin yang sedikit berubah di wajah perkeretaapian kita di tengah sederetan masalah lain yang menggelayuti PT KAI (Kereta Api Indonesia) seperti percaloan, jadwal pemberangkatan yang masih molor, serta rendahnya kualitas servis para kru-nya. Ada gebrakan baru dari sang dirut Baru, Ignasius Jonan dalam menginjeksikan “kultur disiplin”. Kalau peristiwa yang saya alami dianggap sebagai tindakan “mystery shoppers” yang biasa dilakukan untuk mengukur kinerja servis dengan diam-diam, ada beberapa jawaban seragam dan konsisten diantara beberapa petugas kereta api di stasiun maupun Sang Kondektur sebagai penanggung jawab di kabin kereta. Saya tidak tahu bagaimana tim dari Pak Ignasius Jonan bisa membuat kru KAI disana menjadi disiplin, tetapi yang jelas ada jawaban senada bermuatan “kedisplinan” yang ditunjukkan kru KAI ketika saya “merengek” minta “kebijaksanaan”.

Jim Collins dalam bukunya Good to Great : Why Some Companies Make The Leap and Others Don’t, Collins memaparkan perusahaan jangan merasa puas hanya menjadi “good company”, yang biasanya menjadi ukuran adalah keuntungan yang positif, kerja yang efisien, citra perusahaan yang wah. Tetapi juga harus beringsut menjadi “Great Company” yang menjadi salah satu ukurannya adalah ihwal penegakkan kultur disiplin internal yang berkelanjutan. Dari pengamatan Collins, banyak perusahaan mempunyai kultur kerja yang positif dan membanggakan, barangkali kultur disiplin yang hebat, itu semua bakal membikin perusahaan menjadi perusahaan yang bagus. Tetapi sangatlah sedikit perusahaan mempunyai kultur displin yang berkelanjutan, yang kalau hal ini bisa secara kontinyu diimplementasikan akan menjadi tidak sekedar perusahaan yang bagus tetapi juga perusahaan yang hebat (great company).

Di era 1990-an sampai tahun 2000 ada beberapa perusahaan yang notabene berkategori “good company” yang langganan menerima penghargaan (award) dan masuk list terhormat di serangkaian “investigasi” beberapa majalah seperti Fortune (The Most Admired Company), Business Week (Business Week 1000) , akhirnya tidak masuk list perusahaan disegani lagi, bahkan ada yang tutup, bangkrut, gara-gara tidak punya “budaya displin”. Collins menjelaskan lebih lanjut, ada 3 pilar utama yang membentuk budaya disiplin. Pertama, Discipline People : SDM yang diseleksi ditempatkan dengan baik, kedua, Discipline Action : Strategi diimplementasikan dengan benar, ketiga, Discipline Thought : Ditanamkan ke pegawai, pekerjaan bukan hanya diimplementasikan dengan disiplin, tetapi juga “budaya disiplin”.

Saya tidak marah, permintaan “kebijaksanaan” akan tiket Taksaka ditampik mentah-mentah oleh awak PT.KAI, karena kala itu saya merasa saya tidak mengorder tiket Taksaka pagi tapi Taksaka malam. Tapi tidak sepenuhnya kesalahan penjual tiket di stasiun, karena mengapa saya tidak mengecek kembali tiket yang barusan saya beli. Kalau semua orang minta “kebijaksanaan” seperti saya diluluskan permintaannya, maka akan hancurlah pilar-pilar perusahaan untuk menjelma perusahaan hebat. Hormat saya kepada Pak Ignasius Jonan, semoga injeksi kedisplinan ini tetap tertradisi Pak….kami merindukan kereta api Indonesia yang nyaman, kuat, sehat sekaligus tetap mempunyai budaya disiplin tinggi sehingga nantinya kita akan naik kereta api senyaman di luar negeri.

Bagaimana dengan budaya disiplin di perusahaan Anda?

Credit Photo : harianberita.com

Previous

Anomali Bank “Ndeso” BRI di Indonesia Best Brand Award (IBBA)

Next

Ekonomi Amerika “Meriang”, Siapkan Sekoci Bisnis !

6 Comments

  1. heri didarto

    Berdasarkan pengalaman pribadi. Saya pernah pesan tiket kereta untuk tujuan jakarta-yogya melalui stasiun senen. Saya tidak memeriksa saat karcis diberikan petugas loket.
    Pada saat hari keberangkatan saya tersadar. bahwa tujuan tiket terbalik yaitu ke yogya-jakarta. Saya menghadap bagian Informasi di mana saya membeli tiket yaitu stasiun senen.
    Dengan kooperatif dan pelayanan yang baik mereka memeriksa lembar pemesanan saya, setelah diperoleh data bahwa kesalahan terdapat pada petugas yang bersangkutan, saya diberikan tiket pengganti dengan tujuan Jakarta- Yogya.
    Hal yang sama pernah terjadi pada teman, yaitu kesalahan pada jam keberangkatan. Seharusnya berangkat malam tetapi tertulisnya berangkat pagi. Sepanjang karcis belum kadaluarsa dan itu kesalahan pihak KAI. setahu saya stasiun senen sangat kooperatif menanganinya.
    Saya juga pernah kehilangan tiket KA dalam perjalanan. Dengan prosedur surat hilang dan pengecekan nomor tempat duduk, saya mendapat surat keterangan dan dapat tetap duduk sesuai dengan tiket saya tersebut.
    Akan tetapi untuk kemudahan mendapatkan karcis, saya berpendapat PT KAI tetap harus meningkatkan pelayanan dengan menerapkan prosedur keterbukaan dalam pelayanan pembelian karcis KAI.
    Oleh sebab itu sebaiknya pakailah blanko pemesanan saat memesan tiket kereta api. Apakah anda sudah mencoba prosedur tersebut?

    • @Heri Didarto : Mas Heri, saya sudah melakukan prosedur yang Mas lakukan, tetapi sepertinya saya dianggap “lalai” karena tidak mengecek kembali pembelian karcis tersebut. Kebetulan saya membeli tiket tersebut pada hari keberangkatan di pagi ketika Kereta Taksaka pagi belum berangkat, jadi mungkin ada “salah persepsi”. kebetulan biasanyanya saya membeli tiket dengan memakai blangko, tapi kala itu saya tidak memakai blangko. Terima kasih Mas Heri atas sarannya.

      Saya hanya ingin mengapresiasi adanya kedisplinan di titik itu, mengenai kelemahan-kelemahan lain, saya sepakat PT.KAI harus selalu berbenah dan mengukur kinerjanya sehingga kualitas servis-nya membaik. Thanks for stop by in Manuver Bisnis Blog 🙂

  2. didiek

    Saya sepakat dengan testimoni dari Mas Donny.
    Sebagai pengguna jasa rutin PT KAI, saya merasakan ‘aroma’ kedisiplinan itu, di beberapa level di lapangan.
    Memang PT KAI masih terus membenahi kekurangannya yang sudah agak parah, mulai dari kedisiplinan.

    Terimakasih dan Salam.

    • @Didiek : Sama-sama Mas Didiek, kita harus dukung terus “aroma” kedisplinan di PT.KAI yang cenderung beringsut membaik….saya juga “pelanggan” PT.KAI juga Mas…:)

  3. prasetyo

    Saya penumpang setia PT KAI mulai dari Argolawu, Argo Dwipangga, Senja Jogja atau Senja Solo bahkan Senja Bengawan….kenapa saya beralih dari kereta api ? Karena pada 6 bulan 4 bulan terakhir cari tiket sulitnya setengah mati….akhirnya naek kA seadanya…..tetapi kalo ga ada akhirnya saya naek pesawat……Saya selalu ingin melihat dan merasakan suasana kondisi kelas ekonomi – executive….karena saya harus melihat masyarakat bawah….meski saya juga bisa naek kelas executive atau pesawat…..Tetapi kenapa beli tiket sekarang sulit ???? anehnya calo mempunyai tiket lebih dari sepuluh tiket….sehingga saya berkali-kali beli tiket lewat calo……saya pernah memergoki seorang calo bilang punyai tiket 52 buah aja masih kurang……bagaimana PT KERETA API ??? Saya setiap minggu pulang Jakarta – Solo… terima kasih….Ada komentar ???

  4. herawati

    Tahun 2002 sampai 2004 saya pulang pergi kerja naik kereta dari rawasari ke stasiun kota. Keadaan stasiun saat itu kotor dan tidak teratur, banyak pedagang asongan di dalam stasiun sehingga sampah di mana-mana. Semenjak 2004 saya pindah ke cikarang sehingga tidak pernah mengunjungi stasiun kota lagi. Baru-baru ini semenjak tahun 2011 saya sering mengajak jalan-jalan putra saya naik kereta ke stasiun kota. Saya kaget dan kagum melihat perubahan di stasiun itu, saya berpikir pasti direkturnya ganti nih. Stasiun itu sekarang bersih, tertib dan nyaman. Tapi saya kuatir bila direktur sekarang diganti lagi akan kembali ke keadaan semula.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén